Tuesday, July 18, 2006

SEPENGGAL BIOGRAFI IRJENPOL (PURN) AHWIL LUTAN

DARI JALAN TRUNOJOYO 3 KE CALLE JULIO VERNE 27

KATA PENGANTAR

Seluruh staf, dan mungkin banyak orang lain, yang mengenal Duta Besar Ahwil Lutan secara pribadi sebagai sosok yang terbuka, taktis dan penuh perhitungan, serta sekaligus secara kedinasan sebagai seorang pimpinan yang akrab dengan anak buah namun tegas. Protokoler ditempatkan secara proporsional sesuai waktu dan tempat sehingga tidak ada kesan feodal sama sekali. Kepentingan pribadi selalu diletakkan di bawah kepentingan dinas. Kehati-hatian juga sangat nampak bahkan untuk sesuatu yang belum dipikir orang akan terjadi.

Pada tahun terakhir penugasannya ia telah bersedia berpikir mengenai bagaimana melancarkan tugas dan kegiatan Duta Besar penggantinya untuk mencapai visi dan misi negara Republik Indonesia di Meksiko. Jangan pernah meninggalkan bom waktu untuk pejabat selanjutnya, demikian pesan kata-kata yang selalu disampaikan kepada staf. Ia memang merasakan bagaimana ia harus bersusah payah menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi beban pejabat-pejabat sebelumnya.

Sebaliknya, patut kiranya Departemen Luar Negeri menyampaikan terima kasih kepadanya, bahwa selain sebuah mobil Toyota Camry dan alat metal detektor, ia juga telah menyumbangkan 3 perangkat alat musik tradisional dari Jawa, Sunda dan Minahasa, 50 boneka wayang golek Sunda kepada Perwakilan RI di Meksiko, serta angklung yang disumbangkan kepada Sekolah Republik Indonesia di Meksiko

Ia memang bukan seorang diplomat karier. Ia seorang Komisaris Jenderal (Pol), yang sebelumnya berkantor di Markas Besar Kepolisian RI Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta, yang menapak karier dari bawah setapak demi setapak dengan penuh ketekunan mengabdi kepada negara hingga ke posisi yang ia sendiri tidak pernah bayangkan. Inilah yang mengilhami judul buku “Dari Jalan Trunojoyo 3 ke Calle Julio Verne 27”, karena kantor Kedutaan Besar RI di Mexico City terletak di Calle Julio Verne no.27, Polanco, Mexico City.

Buku ini ditulis dari catatan harian saat ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk negara Meksiko, merangkap Panama, Honduras dan Costa Rica, dari bulan Oktober 2002 hingga Nopember 2005. Ini adalah buku kedua yang penerbitannya disponsori oleh Kedutaan Besar RI Mexico City setelah buku pertama berjudul “Catatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia - Meksiko 1953-2003” yang terbit tahun 2004.

Dalam memimpin Perwakilan RI Komisaris Jenderal (Polisi) Drs.Ahwil Lutan, SH, MBA, MM. memang sama sekali tidak menerapkan Management by Anger namun lebih menyukai gaya Management by Participation. Selalu dikatakan bahwa memimpin anak buah yang jumlahnya ribuan di batalyon kepolisian lebih rumit dan susah mengingat sarana dan prasarana instansi POLRI yang terbatas dari pada memimpin beberapa orang staff di KBRI Mexico City. Ditunjang latar belakang pendidikannya sebagai seorang tamatan Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI) jurusan Kepolisian dan kemudian berdinas di bidang reserse dan pemberantasan narkotika serta memiliki sederat titel di bidang hukum, administrasi dan manajemen, ia terbukti secara efektif dapat menggalang staff untuk mendukung dan mewujudkan visi dan misinya sebagai seorang Duta Besar RI. Selalu diungkapkan bahwa pada akhirnya pimpinan akan melihat seorang bawahan dari kemampuannya.

Suatu ketika penulis pernah dipanggil sambil berkata maaf saya terpaksa marah kepada anda. Namun pada waktu menghadap rasanya tidak nampak sama sekali bahwa ia sedang marah. Sewaktu muda saya juga idealis seperti anda, katanya membuka pembicaraan. Ia lalu menceritakan pengalamannya sebagai seorang penegak hukum dimana selama kariernya ia seringkali harus berbuat ibarat mengambil rambut di tepung tanpa mengakibatkan tepung bergerak.

Buku ini akan memberi kesaksian bahwa demi melaksanakan komitmen pada tugas, ia telah memanfaatkan jejaring yang dimiliki sehingga menunjang efektifitas pelaksanaan tugas. Jejaring itu dari banyak kalangan di dalam negeri namun nampaknya cara-cara menggalang jejaring di dalam negeri juga dilakukan di tempat dimana ia bertugas.

Ia telah meletakan dasar-dasar yang sehat dalam mengelola perwakilan. Jika mau terus terang, masalah-masalah yang terjadi di perwakilan sebenarnya adalah tanggungjawab seluruh home staff, mulai soal kebersihan kantor hingga mencari solusi mengapa terjadi dukungan pegawai lokal yang lemah untuk mencapai visi dan misi. Semua itu bisa diatasi kalau terdapat koordinasi dan saling dukung antara home staff. Sikapnya memang tidak penah memilih kasih diantara home staff. Di ujung tertinggi disadari hal itu perlu diciptakan oleh Kepala Perwakilan. Restrukturisasi perwakilan dapat menjadi jalan ke arah itu. Restrukturisasi perwakilan ternyata dapat mengubah wajah KBRI Mexico City.

Sebagai Duta Besar beberapa saran juga telah disampaikan ke Depertemen Luar Negeri untuk meluruskan hal-hal yang tidak beres di instansinya yang baru. Obsesinya adalah organisasi yang rapih, efisien dan efektif. Untuk mencapainya maka yang bagus harus dibilang bagus dan yang masih jelek harus dibilang jelek untuk diperbaiki.

Sangat menarik saat ia menanggapi bahwa para home staff akan menerbitkan sebuah buku dari catatan hariannya yang dimaksudkan agar ada sesuatu yang tertulis yang ditinggalkan kepada generasi mendatang yang akan memimpin KBRI Mexico City selanjutnya. Sesuatu yang tertulis tersebut adalah apa yang telah dilakukannya dan apa yang perlu dilanjutkan kemudian. Dengan senang hati ide itu diterimanya dan lebih jauh mengharapkan kiranya buku ini memuat pula pandangan yang kritis dan objektif dari masing-masing staff atas hasil karyanya.

Kelemahannya sebagai seorang manusia pasti ada namun tidak pernah hal itu sampai menjadi perbincangan dikalangan staff. Sebaliknya yang nampak adalah keseganan, rasa hormat dan semangat mereka untuk membantu menjalankan tugas yang dibebankan negara di pundaknya. Memang baginya jabatan adalah amanah Allah SWT. yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya dengan ikhlas. Sebagai seorang Muslim ia selalu mengatakan, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan dinas untuk masa mendatang, sebagaimana Nabi Muhammad SAW menanam pohon kurma walaupun kemudian beliau sendiri tidak akan memetik buahnya.

Buku ini jauh dari upaya kultus induvidu terhadapnya. Buku ini adalah ungkapan jujur atas jerih payah yang luhur dari seorang anak manusia bernama Ahwil Lutan yang diangkat oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri sebagai seorang Duta Besar RI untuk negara Meksiko, merangkap Panama, Honduras dan Costa Rica. Yang nampak sekali adalah komitmennya yang tinggi terhadap tugas yang diemban dan jauh dari kesan malas berfikir atau malas bertindak. Disiplin, tegas dan tertib adalah kata kunci sebagai seorang polisi. Suatu hal yang juga menjadi kehendak Menteri Luar Negeri RI Dr. Hassan Wirajuda bagi jajarannya. Kalau ingin diusut hal ini pastilah dari lembaga pendidikan dan pengalaman dinas yang pernah menggemblengnya.

Walaupun dibatasi oleh rentang waktu penugasan yang pendek dari Oktober 2002 hingga Nopember 2005, namun buku ini mengungkap pula mulai dari filosofi dalam hidupnya, pengalamannya sebagai seorang penegak hukum, hingga langkah-langkahnya yang visioner sebagai Duta Besar. Begitu tiba di Meksiko ia langsung mengambil kursus bahasa Spanyol dan nampak sekali bagaimana ia ingin belajar apa saja dari negara itu. Untuk itu beberapa sisi dari Meksiko yang menarik bagi pembaca juga ditulis dalam buku ini.

Melalui buku ini dapat diketahui bahwa Duta Besar Ahwil Lutan menilai pentingnya momentum peringatan 50 tahun Hubungan Diplomatik antara kedua negara pada tahun 2003 dimasa ia menjabat, sebagai interospeksi bagi kedua pihak sambil mengingatkan dasar-dasar persahabatan yang pernah dibangun Presiden RI Soekarno dan Presiden Mexico Lopez Mateos. Presiden Soekarno telah menemukan persamaan latar belakang historis, persamaan aspirasi dan bahkan persamaan prinsip tentang revolusi Indonesia dan Meksiko. Kedua bangsa yang dikatakan pernah mengalami penghisapan dan penindasan dari pihak luar itu kemudian mengadakan perlawanan untuk menumbangkan stelsel penindasan dan exploitation de l’homme por l’homme.

Dalam masalah peningkatan hubungan ekonomi melalui perdagangan, buku ini mencatat bahwa ia nampaknya dapat melihat adanya inefisiensi yang perlu di atasi. Karena itulah ia mengusulkan kepada Menteri Perdagangan dan Industri Rini Suwandi perlunya mengadakan Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Meksiko. Ditengah-tengah kebuntuan dalam usaha meningkatkan hubungan ekonomi melalui perdagangan langsung antara kedua negara yang terjadi karena inefisiensi biaya transportasi dan adanya hambatan tariff di kedua negara, suatu terobosan penting berhasil dilakukannya melalui penandatanganan kontrak pengapalan dan supply gas dari ladang Tangguh, Papua, ke negara bagian Baja California, Meksiko, mulai tahun 2008 selama 20 tahun senilai 24 milyar USD.

Kedua negara memang perlu berfikir ulang mengenai bagaimana mengubah (transform) hubungan baik yang telah berlangsung selama 50 tahun tanpa goncangan yang berarti menjadi suatu interaksi ekonomi yang menguntungkan kedua pihak. Untuk melompat lebih jauh, maka penyelesaian masalah investasi Perusahaan Semen Mexico, CEMEX, di Indonesia akan menjadi titik balik bagi kedua pihak. Apapun bentuk penyelesaian itu.

Buku ini juga memberi kesaksian bagaimana rakyat Meksiko sungguh-sungguh membantu dengan hati kepada korban gempa dan tsunami di Aceh yang terjadi pada akhir Desember tahun 2004. Bantuan itu merupakan ungkapan simpati rakyat Mexico atas bantuan yang pernah diterimanya dari dunia termasuk Indonesia saat gempa bumi dahsyat menghancurkan Mexico City tahun 1985. Tulisan di buku mengenai hal ini akan memberi kenangan kepada rakyat Indonesia bahwa kedua bangsa yang letaknya sangat jauh tersebut ternyata saling dekat dihati.

Hal-hal ringan dan canda yang menggelitik tentu saja perlu disisipkan supaya para pembaca menikmati membaca buku ini, seperti cerita tentang warga Indonesia di negeri antah berantah di Amerika Tengah serta hantu yang konon tinggal di Wisma Duta dan kantor KBRI Mexico City.

Sejak awal buku ini sengaja disusun untuk memuat semua hal secara jujur dan terbuka sekitar kepemimpinan sang pemegang 10 Satya Lencana dari Pemerintah RI dan 2 bintang penghargaan dari luar negeri ini. Bab XIII buku ini memuat secara khusus komentar dari beberapa Duta Besar RI maupun mantan Duta Besar RI. Namun yang sangat istimewa dari buku ini adalah adanya 2 (dua) Kepala Kepolisian Negara RI yang berkenan menyampaikan beberapa patah kata di halaman pembukaan. Hal ini secara kebetulan dapat dilakukan karena pada saat proses penulisan buku ini berlangsung, Jenderal Polisi Drs.Sutanto yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara RI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir bulan Juli 2005, menggantikan Jenderal Polisi Da’i Bachtiar. Jabatan Kepala Pelaksana Harian BNN ini sebelumnya juga pernah dipegang oleh Duta Besar Ahwil Lutan.

Penulis buku ini juga ingin meletakan saran dan kritik yang membangun secara wajar kepada instansi Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI. Tujuannya jelas, bagaimana memberi sumbangan bagi kemajuan instansi tersebut melalui ujung pena. Karena itu buku ini ditutup dengan Sebuah Refleksi oleh penulis. Sebuah Refleksi akan mengungkap beberapa sisi dari keberhasilan diplomasi Indonesia sekaligus mengungkap melemahnya diplomasi Indonesia di Meksiko. Sebuah refleksi juga mencatat bahwa komitmen yang tinggi kepada tugas dan pemikiran strategis ternyata hal yang utama. Lebih dari persyaratan penguasaan bahasa asing dan substansi yang memang perlu bagi seorang Duta Besar.

Untuk semua itu saya harus menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memungkinkan terbitnya buku ini, yaitu Saudara Edy Sutrisno/Counsellor, Saudara Mansyur Ichsan/Sekretaris I, Saudari Sri Wahyuni/Counsellor, Saudara Andri Djufri Said/Sekretaris II, Saudari Poppy Yeanny/Sekretaris III, maupun rekan-rekan staff lokal yang memungkinkan sehingga buku ini layak cetak. Secara khusus terima kasih saya sampaikan kepada Srta.Julie Figueroa, Bannudojo Pakoeningrat dan Saudara Fitra Ismu Kusumo, yang telah membantu Penulis secara substansial dan teknis serta Saudara Spica Sumampouw yang telah mendisain cover muka dan belakang buku ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tulisan dan foto-foto dokumentasi yang disusun sejak setahun yang lalu ini ditulis apa adanya oleh Penulis ditengah kesibukan kerja yang tentunya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu kritikan dari para pembaca akan kami terima dengan kesadaran bahwa hal tersebut akan menambah bobot buku ini.

Terima kasih.

Mexico City, Nopember 2005
BAB I
JEJARING ADALAH KEKUATANNYA

Jejaring yang dimilikinya terbukti salah satu yang menentukan keberhasilannya dalam menjalankan tugas untuk mewujudkan visi dan misi sebagai seorang Duta Besar RI. Sesuatu hal yang belum terpikir oleh banyak kalangan di Departemen Luar Negeri, namun memang modal penting bagi setiap anggota reserse di kepolisian. Modal tersebut ternyata bermanfaat benar baginya sebagai seorang Duta Besar RI. Sebelum berangkat bertugas ia telah bisa menyimpulkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus mencari dukungan. Kata kuncinya adalah, ia harus bisa menjadi Public Relations dan Marketing Manager bagi negara Republik Indonesia. Kiprahnya kemudian memang konsisten dengan itu.

Jejaring yang membuatnya efektif sebagai Duta Besar itu memang dari banyak kalangan di dalam negeri. Dan nampak sekali cara-cara menggalang jejaring di dalam negeri itu juga dilakukan di tempat dimana ia bertugas. Tentunya sangatlah beruntung bagi staff yang mendampinginya selama penugasan, bagaimana ia menggalang dan memanfaatkan jejaring.

Duta Besar Ahwil Lutan memang pribadi yang nampak berusaha tampil ditengah kalangan dimanapun dengan baik. Sejak awal karier nampaknya ia sadar bahwa memperkuat jejaring adalah suatu yang perlu dilakukan untuk mencapai visi dan misi dimanapun ia ditugaskan. Hasilnya, julukan sebagai seorang polisi profesional sering diterimanya, padahal ia merasa biasa-biasa saja.

Suatu ketika ia menuturkan, di masa Orde Baru sewaktu ia masih menjabat sebagai Sesdit Reserse POLRI, ia pernah dipanggil Direktur Reserse POLRI Brigadir Jenderal (Pol) Rusdihardjo untuk menerima perintah menangkap Ketua Nadhlatul Ulama Abdurahman Wahid dan Ketua Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan Megawati Soekarnoputri, jauh sebelum keduanya menjadi Presiden RI. Namun perintah tersebut dengan halus ditolaknya mengingat setelah mempelajari berkas yang diterima, tidak dimiliki cukup bukti untuk menjalankan perintah itu. Situasi politik kemudian berubah. Bapak Rusdihardjo kemudian menjadi Kepala Kepolisian RI dan selanjutnya diangkat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia. Saat Jenderal Rusdihardjo menjadi Kapolri, Ahwil Lutan adalah Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Narkotika Nasional. Pada suatu hari akhirnya Bapak Rusdihardjo mengungkap perasaannya yang mengakui bahwa ia memang seorang polisi profesional. Apa jadinya kalau saat itu perintah penangkapan dijalankan tanpa dasar kesalahan yang jelas.

Kecuali diperintah memeriksa kedua tokoh yang akhirnya jadi Presiden RI tersebut, yang selalu dikenangnya adalah pengalaman memeriksa tokoh Timor Timur Xanana Gusmao dan beberapa pejabat tinggi Polri yang berpangkat Jenderal bintang satu sampai bintang empat, serta paranormal Permadi.

Hubungan pribadi dengan Xanana Gusmao tetap baik sampai yang bersangkutan dibebaskan dari penjara Cipinang dan kemudian terpilih menjadi Presiden Republik Timor Leste.

Sedang dua mantan Kapolri yang diperiksanya waktu itu dua-duanya adalah Jenderal Polisi dan atasannya sendiri, sehingga ia harus bijaksana melakukan pemeriksaan terhadap keduanya.

Tokoh Permadi yang akhirnya menjadi anggota DPR-RI dari fraksi PDIP adalah seorang yang melakukan “fit and proper test” di DPR-RI untuk setiap calon Duta Besar. Tokoh yang suaranya garang di gedung parlemen ini ternyata masih ingat masa lalunya saat ia diperiksa oleh Kolonel Ahwil Lutan. Pada saat test tersebut tokoh Permadi telah mengungkap kasus penangkapan dan pemeriksaan dirinya di masa lalu namun sekaligus mengakui bahwa ia memang seorang polisi profesional dan pantas ditunjuk sebagai Duta Besar RI.

Seseorang yang diperiksa oleh Polisi belum tentu bersalah. Karena itu harus diperlakukan bukan sebagai seorang pesakitan dan tehnik pemeriksaan perlu dilakukan secara hati-hati dan profesional tetapi mendapat hasil yang diinginkan, katanya.

Suatu ketika ia bercerita pernah dipanggil Presiden RI Abdurrahman Wahid. Pada suatu hari Jum’at, dalam perjalanan ke stasiun televisi Indosiar untuk mengisi acara “Halo Polisi”, ia mendapat telepon dari protokol istana dan 2 (dua) menit kemudian disusul telepon dari ajudan Presiden RI Abdurrahman Wahid, Kombes.Pol.Sutarman, agar menghadap Presiden setelah sembahyang Jum’at. Ia sempat bertanya kepada ajudan apakah harus berpakaian dinas atau preman dan dijawab oleh ajudan agar berpakaian preman. Kemudian ia sempat bertanya lagi dalam rangka apa? Namun ajudan itu hanya menjawab tidak tahu.

Sesuai aturan Komando yang berlaku di Kepolisian, maka ia segera melaporkan panggilan itu ke Kapolri yang saat itu dipegang oleh Jenderal (Pol) Bimantoro yang sedang berada di Bandar Udara Soekarno Hatta dalam perjalanan umroh ke tanah suci. Ia memang tidak mau merusak sistem Komando dan rantai Komando yang berlaku di lingkungan Kepolisian RI atau yang dalam istilah Betawi sering memakai istilah “menelikung atasan”. Jawaban dari Jenderal Bimantoro adalah, “Mas Ahwil menghadap saja, dan bila ditanya mengenai hal yang terjadi di Kepolisian jawab sesuai keadaan yang sebenarnya, termasuk bila ditanya soal jabatan Kapolri”.

Selesai mengisi acara Halo Polisi di Stasiun TV Indosiar, ia tidak kembali ke kantor karena resiko macet dan ia pun mengikuti shalat Jum’at di Masjid Indosiar bersama beberapa direksi PT Indosiar. Setelah selesai ia pun segera berangkat ke istana dengan menggunakan pakaian preman, lengkap dengan dasi dan jas hitam, dan masuk melalui pintu belakang istana negara dari jalan Veteran. “Saya berjalan kaki menjumpai penjaga Paspampres disamping istana negara dan sempat dibentak dan saya katakan saya dipanggil Presiden”, demikian kenangnya. Salah seorang Paspampres lalu mengantarnya ke ruang ajudan Presiden RI, Kombes.Pol.Sutarman, yang langsung menyertainya ke ruang kerja Presiden di sayap kanan Istana Negara.

Pada saat itu Presiden Abdurrahman Wahid sudah menunggu di meja kerjanya dan ia bersalaman dan disuruh duduk dihadapan meja kerja beliau.

“Banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya mulai dari urusan keluarga, sampai kericuhan di Kepolisian RI dengan adanya pengangkatan Irjen (Pol) Chairudin sebagai Wakil Kapolri yang kontroversial saat itu”, demikian kenangnya.

Setelah tanya jawab yang memakan waktu hampir 70 menit, ia memang ditanya soal jabatan Kapolri. Ia mengucapkan terima kasih atas panggilan dan tawaran jabatan yang diberikan oleh Presiden, namun ia menjawab dengan kerendahan hati, tawaran tersebut sebaiknya dilakukan melalui jalur yang berlaku. “Saya tidak mau merusak sistem yang sudah berjalan baik di lingkungan Kepolisian karena saya dibesarkan oleh korps ini”, itulah pendiriannya. Kemudian ia keluar dari ruang kerja Presiden dan bertemu dengan ajudan Presiden Kombes.Pol.Sutarman, yang mengatakan, “Bapak sangat spesial, biasanya Jenderal yang dipanggil tak lebih dari 10 menit, berdoa saja Pak”.

Keesokan harinya ia bertemu dengan Sekretaris Militer Presiden Laksamana Madya Budi Santoso yang kebetulan satu angkatan di AKABRI sambil mengatakan,”Kamu dipuji-puji Presiden dan dikatakan kamu polisi profesional, namun pendirianmu sangat kukuh untuk tidak melanggar sistem yang berlaku”. Melalui Sekmil tersebut ia sampaikan terima kasih dan hormat kepada Bapak Presiden.

Diungkapkan bahwa dalam hati sebetulnya penolakan itu adalah soal waktu yang tidak tepat baginya untuk menerima posisi itu. Hanya dalam hitungan hari jabatan Presiden Abdurahman Wahid kemudian lengser dan digantikan oleh wakilnya Megawati Soekarnoputri.

Ia juga bercerita bahwa sebelum berangkat ke Meksiko ia ditelpon Duta Besar Meksiko di Jakarta, Pedro Gonzales Rubio Sanchez, yang mengatakan bahwa dirinya masih memegang surat dari Presiden Vicente Fox Quesada. Isi surat itu adalah kemungkinan pertemuan Presiden Fox dengan Presiden Megawati Soekarnoputri pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Berkelanjutan di Johanesburg, Afrika Selatan, yang harus diserahkan “by hand”. Dengan sedikit nervous dikatakan bahwa permohonan resmi untuk menghadap Presiden RI itu telah diajukan ke Dirjen Protokol dan Konsuler sejak lama. Duta Besar Pedro Gonzales memang tahu bahwa Bapak Ahwil Lutan memiliki jejaring yang luas yang mungkin dapat menolong kesulitan yang dihadapinya saat itu. Duta Besar Pedro lalu mengundangnya makan pagi bersama Direktur Amerika Utara dan Tengah, Bapak Dino Patti Djalal, sambil menyerahkan salinan surat permohonan itu. Saat itu juga ia menghubungi Sekretaris Presiden RI Bapak Kemal Munawar dan ADC Presiden RI Komisaris Besar (Pol) Budi Gunawan yang pernah menjadi anak buahnya untuk membantu Duta Besar Meksiko itu.

Keesokan harinya ia ditelpon Duta Besar Pedro yang mengucapkan terima kasih karena Presiden Megawati akan segera menerimanya di Istana. Dan dengan suka cita Sang Duta Besar Meksiko tersebut kemudian mengundangnya makan siang untuk sekedar menyampaikan pujian kepadanya sebagai seorang pejabat yang profesional sambil menanyakan kesiapannya berangkat ke Meksiko. Setelah itu hubungan pribadi kedua Duta Besar itu pun menjadi erat.

FOTO 1
KENANGAN BERSAMA DUTA BESAR MEKSIKO UNTUK INDONESIA
SENOR PEDRO GONZALES RUBIO SANCHEZ

Jejaring yang dimilikinya memang cukup luas. Tim Kesenian Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan Jawa Barat yang bertandang ke Meksiko pada tahun 2004 untuk mengadakan promosi kebudayaan daerah atas biaya sendiri adalah dari sepucuk surat ucapan selamat atas pelantikan mereka yang dilayangkan kepada Gubernur kedua Propinsi tersebut. Kedua Pimpinan Propinsi di Indonesia tersebut memang telah dikenalnya sejak lama sebelum ia menjadi Duta Besar RI. Pengiriman tim Kesenian tersebut kemudian dilanjutkan dengan kunjungan kerja Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan ke Meksiko pada bulan September 2004.

Saat dua kapal perang Meksiko Zapoteco dan Utsumacinta yang dilepas Presiden Vicente Fox Quesada dari Pelabuhan Manzanillo berlayar ke Indonesia selama 45 hari membawa bantuan berupa pakaian, makanan dan obat-obatan dari rakyat Meksiko untuk korban tsunami di Aceh mendarat di pelabuhan Belawan pada suatu hari di bulan Maret 2005 tidak mendapat sambutan cukup baik, ia langsung telpon Kapolda dan Gubernur Sumatera Utara untuk menyampaikan kekecewaannya. Ia meminta bantuan agar kedatangan kapal dari Meksiko tersebut disambut dengan baik mengingat hal itu akan berpengaruh terhadap diplomasi kemanusiaan yang sedang dilancarkan KBRI Mexico City. Beberapa saat kemudian siaran langsung TV lokal Azteca dari atas kapal-kapal tersebut menayangkan ratusan anggota polisi telah berada di dalam kapal untuk membantu pengangkutan barang bantuan keluar kapal. Warga Indonesia yang menyaksikan TV Azteca di Meksiko pun menjadi lega. Warga Indonesia di Meksiko sekedar ingin ada tayangan dari Aceh yang mengungkapkan rasa bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tahu berterima kasih!

Di Mexico, jejaring yang dibangunnya juga menuai hasil. Suatu ketika penjagaan 24 jam oleh polisi setempat terhadap Wisma Duta dan kantor KBRI Mexico City pernah dicabut oleh Pihak Kementerian Luar Negeri setempat beberapa hari sebelum akhirnya diberlakukan kembali. Gara-garanya adalah protes dari Kedubes ASEAN tertentu kepada Kemlu setempat dengan mempertanyakan mengapa fasilitas itu tidak diberikan juga kepada Kedubes Asing lainnya. Pada dasarnya asas resiprositas diberlakukan untuk memberikan fasilitas penjagaan keamanan antara Meksiko dengan suatu negara asing, seperti dengan Amerika Serikat, Lebanon dan Israel. Namun karena Duta Besar Ahwil Lutan berhubungan baik dengan Kepala Kepolisian setempat maka kantor Perwakilan RI dan Wisma Duta dapat memperoleh fasilitas tersebut hanya dengan angkat telepon.

Bagaimanapun KBRI Mexico City harus berterima kasih atas sumbangan dari jejaring setempat di Meksiko yang diakui bahkan kadangkala lebih besar dari dana yang dimiliki untuk mewujudkan kegiatan-kegiatan besar sebagai bagian dari promosi citra. Lembaga kebudayaan Instituto Nacional de Bellas Artes CONACULTA selalu membantu memberikan tempat pertunjukan dan publikasi untuk tim kesenian dari Indonesia yang sedang bertandang ke Meksiko. Gedung Bioskop CINEMEX dan CINETECA juga menyediakan tempat dan publikasi bagi pertunjukan filem-filem dari Indonesia.



--0--BAB II
CARANYA MENCAPAI VISI DAN MISI

Sejak awal hubungan kedua negara telah disadari bahwa Meksiko adalah salah satu yang paling maju diantara negara berkembang. Walaupun Produk Domestik Bruto Meksiko masih jauh di bawah kedua negara tetangganya yang telah di atas angka US $ 1 trilyun, namun saat ini indeks biaya hidup ketiga negara NAFTA (North America Free Trade Area) hampir sama dan dapat dikatakan ekonomi mereka sebetulnya sudah nyaris menyatu. Tingkat hidup di Ibu kota Mexico City memang tinggi. Dan di Meksiko tidak terdapat diplomatic shop yang bebas pajak seperti di negara maju lainnya. Bebas pajak hanya untuk pembayaran listrik, air, gas, telpon dan beli mobil nasional.

Mengingat situasi tersebut, Duta Besar Ahwil Lutan menilai bahwa Angka Pokok Tunjangan Penghidupan Luar Negeri (APTLN) untuk KBRI Mexico City sebesar US $4.900,- kini tidak lagi proporsional dibanding dengan Perwakilan RI di negara NAFTA lainnya yaitu Kanada dan Amerika Serikat, yang rata-rata sebesar USD 6.100,-. APTLN Perwakilan RI di Meksiko itu bahkan lebih rendah dari pada Perwakilan RI lainnya di Amerika Selatan seperti di Argentina, Venezuela, Brasil, dan Chili maupun Perwakilan RI di tempat lain yang baru dibuka seperti Peru, Columbia dan Timor Leste.

Tiap negara menerapkan aturan sendiri-sendiri. Anak seorang diplomat asing di Meksiko tidak diperkenankan masuk ke sekolah negeri. Di sekolah swasta lokal, murid Taman Kanak-Kanak harus membayar uang sekolah USD 150,- per bulan. Untuk murid Sekolah Dasar harus membayar antara USD 200,- sampai USD 500,- tergantung mutu sekolah itu. Untuk murid Sekolah Menengah Pertama harus membayar antara USD 300,- sampai USD 700,-. Sedang Sekolah Menengah Atas antara USD 800,- sampai USD 1.000,-. Itu semua belum termasuk uang masuk dan biaya daftar ulang. Biaya Sekolah Internasional seperti American School atau British School sama seperti di Jakarta dan tidak akan terjangkau oleh keluarga diplomat muda. Dan karena faktor keamanan hampir semua diplomat asing memilih tinggal di apartemen di daerah-daerah tertentu yang berada di zona aman terutama Colonia Polanco yang memiliki fasilitas penjagaan keamanan lebih luas sehingga sewanya mahal.

Bagaimana dengan biaya kesehatan. Untuk konsultasi dokter di rumah sakit milik Pemerintah dikenakan tarif antara USD 40,- sampai USD 60,- sekali datang. Sedang dokter di rumah sakit swasta antara USD 60,- sampai USD 100,-.

Memang pemerintah Meksiko tidak mengenakan pajak bagi makanan. Transportasi umum dengan bis kota dan subway juga sangat murah, hanya 2 – hingga 3 Pesos sekali jalan (sekitar 2.000 – 3.000 Rupiah) sekali jalan. Tapi ketahuilah. Kalau diplomat Indonesia di Meksiko ingin makan dengan lauk tempeh goreng tiap hari maka ia harus merogoh kocek dalam-dalam. Sepotong tempeh ukuran 20 x 15 x 3 centimeter yang dibuat oleh seorang mahasiswa Meksiko yang pernah ikut program beasiswa Dharmasiswa Depdiknas harganya Pesos 80,- atau sekitar USD 8,- atau sekitar Rp.8.000,-! Konon saat ini ia adalah satu-satunya orang di Meksiko yang membuat dan menjual tempeh. Karena itulah kebanyakan para diplomat kita memilih makan tahu goreng saja. Tahu goreng memang lebih murah karena di Ibu kota Mexico City banyak toko Jepang atau toko China yang menjual tahu. Dan kalau ingin makan buah durian atau cah kangkung apa boleh buat mereka harus pergi belanja ke Houston, Texas.

Saya dan keluarga memang tidak pernah merasa kurang dengan penghasilannya sebagai seorang Duta Besar namun tidaklah demikian halnya untuk staff dan keluarganya, demikian disampaikan kepada pimpinan Departemen Luar Negeri. Selain itu pesan juga dikemukakan dengan gigih kepada kepada anggota DPR-RI Komisi Keuangan pimpinan Bapak Tosari Widjaja yang kebetulan berkunjung ke Meksiko menghadiri sidang Inter-Parliamentary Union untuk minta perhatian dan mempertimbangkan usul meningkatkan anggaran kesejahteraan pegawai serta anggaran kegiatan untuk dapat membangun jejaring lebih luas dan melakukan kegiatan besar untuk mewujudkan visi dan misi di negara akreditasi.

Sejak awal kedatangan nampaknya ia merasa perlu memperkuat kondisi kesejahteraan pegawai. Harapannya kekuatan itu selanjutnya dapat digunakan oleh penggantinya untuk melangkah jauh ke depan. Demikian kira-kira jalan pikirannya. Tapi sampai selesai bertugas hal ini belum berhasil di wujudkan.

Dengan kondisi yang ada membangun jejaring dimana ia bertugas tetap dilakukannya. Pendekatan (lobby) kepada pejabat pemerintah setempat cukup intens. Duta Besar Ahwil Lutan termasuk yang dikenal dikalangan pejabat-pejabat tinggi Meksiko, seperti Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Energi, Menteri Ekonomi, Menteri Keamanan Masyarakat atau Kepolisian, Jaksa Agung (Procuraduria General), Menteri Perhubungan dan Gubernur Bank Sentral serta Ketua Komisi Pemilihan Umum (Instituto Federal Electoral) Meksiko.

Hubungan dengan Bank Sentral terkait dengan kerjasama erat antara Bank Sentral RI dan Bank Sentral Meksiko. Gubernur Bank Sentral Indonesia disertai Deputi Gubernur dan Direktur Bank telah banyak belajar dari Meksiko bagaimana negara itu menghadapi krisis moneter yang pernah terjadi pada tahun 1994/1995 dan dengan cepat dapat pulih kembali sehingga PDB per kapita mencapai USD 6.465 pada tahun 2004.

FOTO 33 (1)
MENYAMBUT KEDATANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA
BAPAK DR.BURHANUDDIN DI WISMA DUTA

Hubungan baik dengan Instituto Federal Electoral (IFE) terkait dengan pemilihan umum di Indonesia. Ketua Komisi Pemilihan Umum RI beberapa kali berkunjung ke Meksiko untuk mempelajari sistim pemilihan umum di negara itu dalam penyelenggaraan Pemilu legislatif maupun Pemilihan Presiden dan Gubernur Negara Bagian. IFE dikenal seluruh dunia dengan reputasinya yang tinggi dalam penyelenggaraan pemilihan umum di Meksiko yang transparan dan jujur sepanjang sejarah negeri itu. Karena reputasinya itu IFE telah diminta Perserikatan Bangsa Bangsa untuk menangani pemilihan umum di Iraq.

Namun satu saran dari IFE yang diabaikan KPU adalah tugas-tugas administrasi yang seharusnya tidak dipegang oleh anggota KPU, seperti urusan tender dan logistik, tetap dipegang juga. Hal ini dikemudian hari akhirnya menjadi bumerang untuk KPU sendiri.

Hubungan dengan Pejabat dibawah Menteri setingkat Sekjen (Under Secretary) di masing-masing Kementerian tersebut juga cukup baik. Selama bertugas ia merasa mendapatkan kemudahan untuk bertemu dengan Direktur Jenderal Asia Pasifik maupun Direktur Jenderal Protokol Konsuler Kementerian Luar Negeri Meksiko. Kondisi ini sangat membantu, khususnya untuk lobbying permintaan dukungan bagi pencalonan RI di forum–forum multilateral. Lobbying Duta Besar Ahwil Lutan dengan para pejabat tersebut bahkan dapat dilakukan hanya melalui telpon secara pribadi.

FOTO 4
PERESMIAN KELOMPOK PERSAHABATAN INDONESIA - MEKSIKO
DI PARLEMEN,

Hubungan baik dengan parlemen juga terus dipelihara. Sudah sejak lama secara sepihak Komisi Luar Negeri Parlemen Meksiko telah membentuk ”Grupo de Amistad con Indonesia” untuk mendukung hubungan baik antara Pemerintah Meksiko dan Pemerintah RI. Pada tanggal 21 September 2004, Duta Besar RI dan seluruh home staff hadir di gedung parlemen untuk menyaksikan penandatanganan pengesahan pembentukan anggota Kelompok Persahabatan yang baru hasil pemilihan umum legislatif tahun 2003. Kepada mereka secara tetap dikirim majalah IMAGE maupun media cetak lainnya dari Indonesia supaya mereka dapat mengikuti perubahan dan perkembangan terakhir di Indonesia. Menjalin networking dengan partai-partai besar yang dominan yaitu PRI (Partido Revolucionario Institucional), PAN (Partido Accion Nacional), PRD (Partido de la Revolucion Democratica) dan Partai Hijau (Partido Verde Ecologista) juga dilakukan dengan menyempatkan diri untuk hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh partai-partai tersebut.

FOTO 33 (2) CHANGE
PERTEMUAN GRUP KERJASAMA BILATERAL PARLEMEN KE DUA NEGARA
TANGGAL 19 OKTOBER 2005

Menjalin networking juga dilakukan dengan kalangan diplomatik khususnya dari negara–negara Asia, negara-negara ASEAN serta negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Hubungan baik dengan Kedubes negara-negara OKI terkait dengan penetapan permulaan puasa untuk kaum muslim di Meksiko serta usaha membangun sebuah mesjid di kawasan strategis di Ibu kota Mexico DF dengan dana dari Kedubes Arab Saudi. Walau ijin dari pemerintah setempat sudah didapat, kenyataannya memang sangat sulit mendapatkan tanah murah yang terletak di daerah yang bagus di Mexico City.


FOTO 5
SHOLAT BERJAMAAH BERSAMA PARA DUBES NEGARA OKI
DI WISMA DUTA

Hubungan yang sangat baik adalah dengan Kepala Kepolisian Meksiko maupun Kepala Polisi Ibukota Mexico DF. Penjagaan Polisi lokal selama 24 jam di kantor Kedubes asing pada dasarnya adalah perlakuan resiprositas seperti antara Meksiko dengan Amerika Serikat, Lebanon dan Israel. Hubungan yang baik antara Duta Besar Ahwil Lutan dengan Kepala Kepolisian setempat memungkinkan kantor KBRI Mexico City dan Wisma Duta dapat memperoleh fasilitas tersebut. Dengan persetujuan Kapolri, Duta Besar Ahwil Lutan sedang merundingkan mengenai kemungkinan pertukaran personil bidang keamanan publik antara Kepolisian RI dengan Secretaria Seguridad Publica Federal (Menteri Keamanan Umum Federal). Ide ini mengemuka setelah Duta Besar Ahwil Lutan memberikan ceramah mengenai tugas dan fungsi kepolisian di Indonesia di markas kepolisian Distrik Federal, Mexico DF, pada bulan Agustus 2003. Ia memang cukup dihargai dikalangan polisi setempat. Belum pernah terjadi di Meksiko seorang Jenderal Polisi diangkat menjadi Duta Besar.

FOTO 6
PENYAMBUTAN TERHADAP DUBES AHWIL LUTAN
DI MARKAS POLISI DISTRICT FEDERAL

Beberapa waktu setelah penyerahan Surat-surat kredensial kepada Presiden Vicente Fox Quesada, Duta Besar Ahwil Lutan segera melakukan kunjungan ke pemimpin redaksi koran-koran penting dan beroplah besar Meksiko, seperti Reforma, Universal, Milenio dan majalah Mundo Internacional, serta Radio FM Infosat yang memiliki siaran nasional. Kunjungan serta wawancara juga dilakukan ke pemimpin redaksi surat kabar maupun majalah yang populer di Meksiko dan beredar diseluruh kawasan Amerika Latin seperti Tiempo del Mundo untuk menjalin networking. Sejak menjabat sebagai Duta Besar RI di Mexico City, setiap tahun sejak 2003 majalah Mundo Internasional memuat terbitan khusus dengan foto-foto berwarna mengenai Indonesia. Dalam sebuah terbitan mengenai Indonesia untuk majalah ini, bahkan ia rela menyumbangkan uang pribadi karena anggaran dinas untuk membiayai penerbitan itu kurang mencukupi.

Memenuhi undangan di acara hari nasional suatu negara asing selalu dilakukan.”Kalau tidak maka kita akan dibalas”, demikian alasannya.

Duta Besar Ahwil Lutan juga sering memenuhi undangan dari berbagai universitas terkemuka untuk menjadi pembicara dalam forum–forum akademik yang membahas hal yang terkait dengan situasi politik atau pembangunan/perubahan di Indonesia, seperti di Universidad Nacional Autonoma de Mexico (UNAM), El Colegio de Mexico, Instituto Politechnic Nacional (IPN) dan universitas–universitas lain di luar Ibukota Meksiko City, seperti Universidad de Asia Pacifico, di Sinaloa, Study Asia Pasifik Universidad de Ibero Americana, di Tehuacan dan Universitas Colima di negara bagian Colima.

Undangan dari lembaga-lembaga pendidikan kepolisian di negara itu seperti Colegio Policia dan Instituto de Penales, juga dipenuhi untuk memberi ceramah mengenai soal kepolisian. Ia adalah dosen mata pelajaran Perbandingan Sistim Kepolisian di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Hubungan baik dengan El Colegio de Mexico (COLMEX) adalah sangat khusus. COLMEX adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi riset yang cukup disegani. Di lembaga pendidikan tinggi terdapat seorang dosen yang memberi pelajaran bahasa Indonesia bernama Evi Siregar dari Universitas Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia telah menjadi mata kuliah wajib di Pusat Study Asia Afrika, Jurusan Asia Tenggara. Beberapa kali seminar mengenai Indonesia telah terlaksana berkat kerjasama dengan COLMEX. Pejabat tinggi Indonesia yang pernah memberi presentasinya di tempat tersebut adalah Menteri Koordinator Perekonomian Dr.Dorodjatun Kuntjoro-jakti pada bulan Juni 2003 untuk menyambut 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Seorang tokoh Islam dan peneliti dari International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta, Dr.Syafi’i Anwar, juga pernah memberikan presentasinya mengenai Islam dan Politik di Indonesia pada bulan April 2005.

FOTO 7
CERAMAH YANG DIHADIRI OLEH MENKO PEREKONOMIAN PROF.DR.DORODJATUN KUNTJORO-JAKTI


Komunikasi juga dilakukan dengan pengusaha Meksiko, baik perorangan maupun melalui COMCE (Kamar Dagang dan Industri Meksiko). Hubungan dengan para pengusaha tersebut dilakukan baik dalam kapasitas dinas maupun pribadi. Saat ini, ketua COMCE adalah seorang Wakil Presiden Cemex International. Hal ini sedikit banyak telah membantunya dalam mencari solusi atas masalah yang terjadi antara Perusahaan Semen Meksiko CEMEX dengan Pemerintah RI, khususnya dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat mengenai investasinya di Indonesia.

Akibat perubahan politik dan desentralisasi di Indonesia, CEMEX merasa dirugikan karena adanya tuntutan pelepasan (spin off) dari anak perusahaan PT Semen Padang dan PT Semen Gresik oleh masyarakat setempat.

Untuk itu ia pernah menyempatkan diri bertemu dengan Gubernur Sumatera Barat untuk menyatakan bahwa rakyat Sumatera Barat sebetulnya tidak perlu kuatir. Masuknya investasi CEMEX sebetulnya juga akan menguntungkan rakyat sekitar. Tapi nampaknya pandangannya itu tidak diterima. Dalam suatu pertemuan dengan CEO Perusahaan CEMEX di markas besarnya di Monterrey, Duta Besar Ahwil Lutan mendapat pesan penting yang segera dilaporkannya ke Jakarta bahwa mereka tidak akan pull out dari Indonesia.

Penyelesaian masalah CEMEX sebetulnya akan dapat menjadi titik balik bagi hubungan ekonomi kedua pihak. CEMEX adalah perusahaan semen terbesar ke-3 di dunia. Kecuali CEMEX di negeri itu terdapat banyak perusahaan multinasional kelas dunia yang tangguh yang telah merambah ke seluruh dunia. Banyak investor Meksiko diperkirakan akan datang ke Indonesia bila hal yang rumit ini dapat diselesaikan.

Duta Besar Ahwil Lutan juga memberikan perhatian pada keberadaan kelompok masyarakat asing yang bersimpati dengan perkembangan di Indonesia, antara lain, American Society, German Center, Libanon Society, Palestinian Society, Asian Club, Rotary Club dan Lions Club.

Dengan terjadinya bencana tsunami di Aceh, KBRI Mexico City memiliki hubungan yang dekat dengan Direktur Jenderal Perlindungan Sipil Mexico dan jajarannya yaitu CENAPRED (Centro Nacional de Proteccion de Disaster). Pada waktu terjadi bencana tsunami di Aceh, setiap bantuan barang dan uang yang diterima langsung KBRI Mexico City dari rakyat Mexico selalu dilaporkan kepada Pemerintah Mexico melalui Direktur Jenderal Perlindungan Sipil Meksiko dan Kemlu setempat. Langkah tersebut sangat dihargai oleh mereka. Dan bagi KBRI Mexico City hal ini sebetulnya bagian dari promosi citra yang gencar dilakukan selama masa Duta Besar Ahwil Lutan.

Hubungan erat juga terjadi antara Los Topos dengan warga KBRI Mexico City. Los Topos adalah Tim Sukarelawan Meksiko yang ke Aceh untuk memberikan bantuan kemanusiaan mencari dan menguburkan mayat. Los Topos yang tinggal di Mexico City juga telah membantu KBRI Mexico City membungkus bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan yang diterima dari rakyat Meksiko untuk dikirim ke Aceh. Setelah itu mereka dan keluarganya seperti menjadi bagian dari keluarga besar KBRI Mexcico City. Jerih payahnya membantu rakyat Aceh tidak mungkin dilupakan begitu saja.

Begitulah cara yang dilakukan oleh Duta Besar Ahwil Lutan dalam usaha mewujudkan visi dan misi negara untuk mengembangkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Meksiko, sekarang dan masa datang. Namun semua yang saya kerjakan saya serahkan kepada penilaian pimpinan, begitu seperti yang diucapkan kepada staff dengan kerendahan hati.


--0--
BAB III
CERITA DIBALIK PENUNJUKAN SEBAGAI DUTA BESAR RI
UNTUK MEKSIKO OLEH PRESIDEN MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Ahwil Lutan kecil yang lahir pada tanggal 1 Juni tahun 1947 di kota Pematang Siantar itu pasti tidak pernah membayangkan bahwa 55 tahun kemudian ia diangkat Presiden RI Megawati Soekarnoputri sebagai Duta Besar. Demikian juga isterinya Kemala Anggraini Ahwil. Pernah diungkapkan sang isteri bahwa ia memang pernah bekerja di Kedubes asing di Jakarta, yaitu Kedubes Amerika Serikat dan Selandia Baru dan bersahabat dengan beberapa Duta Besar RI. Namun saat itu sama sekali tidak pernah terbayang bahwa akhirnya ia dapat juga tinggal di Wisma Duta. Gajinya sebagai seorang staff UNHCR di Jakarta sebetulnya bahkan lebih besar dari gaji seorang Duta Besar RI di Meksiko.

Sebagai seorang anak pegawai negeri, ia selalu hidup berpindah-pindah sekolah dari suatu kota ke kota lain mengikuti dinas sang ayah. Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama diselesaikannya di Bandung, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Medan. Tidak seperti saudara kandungnya yang lain yang memilih sekolah swasta saat usia sekolah, ketika itu ia selalu masuk sekolah negeri yang murah atau gratis. Biarlah uangnya dipergunakan untuk biaya adik-adik, demikian pernah diungkapkan alasannya. Dan begitu lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, ia memilih masuk Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI) Bagian Kepolisian, setelah sempat kuliah sebentar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pilihannya masuk AKABRI Bagian Kepolisian juga karena ini sekolah gratis. Yang membuat ia semangat menjadi polisi adalah ketika pamannya yang menjadi Kepala Polisi Komisariat Sumatera Tengah memiliki perjalanan karier yang begitu mulus hingga akhirnya dapat menjadi Gubernur Sumatera Barat setelah peristiwa PRRI/PERMESTA. Setelah menjadi polisi akhirnya ia tumbuh menjadi seorang polisi profesional, yang tidak mau berpolitik selama jabatannya.

Diungkapkan kenangannya mengenai saat-saat mendengar untuk pertama kali pengangkatan sebagai Duta Besar. “Yang saya dengar sebelumnya saya akan ditetapkan sebagai Duta Besar RI untuk Negara Norwegia di Scandinavia yang dingin sepanjang tahun. Beberapa negara juga disebut-sebut seperti Korea Utara, Myanmar dan banyak lagi. Namun oleh Presiden Megawati pos tersebut dianggap tidak cocok untuk saya dan akhirnya dipilih negara Meksiko, pos yang justru tidak pernah saya dengar sebelumnya”, demikian diungkapkan. “Latar belakang keputusan itu mungkin adalah saya pernah bertugas di reserse, Interpol dan memiliki latar belakang sebagai Kepala Badan Koordinasi Pelaksana Pemberantasan Narkotika sehingga dianggap perlu mendalami masalah ini di negara yang merupakan sumber dan transit narkotika dunia”, demikian ditambahkan. Ia memang pernah mengikuti training di kantor penanganan narkotika di El Paso, di suatu kota di perbatasan AS dan Meksiko dimana sebagian adalah wilayah AS dan sebagian adalah wilayah Meksiko.

Suatu hari di bulan Januari 2002 Komisaris Jenderal (Pol) Ahwil Lutan yang saat itu masih memegang jabatan sebagai Inspektur Jenderal Polisi RI dipanggil Kapolri Jenderal (Pol) Da’i Bahtiar. Ia diberitahu bahwa ia dicalonkan sebagai Duta Besar RI tanpa menyebut negaranya. Saat itu ia telah menyadari bahwa proses menjadi seorang Duta Besar akan membutuhkan waktu panjang. Mulai dari saringan oleh Departemen Luar Negeri, Presiden RI melalui Sekretaris Kabinet dan terakhir “fit and proper test” yang diadakan di DPR-RI. Dan proses terakhir adalah adanya “agreement” dari negara penerima. “Saat itu saya belum pernah menerima berita resmi dari Departemen Luar Negeri, sehingga saya masih tetap bertanya pada diri sendiri, apa betul saya akan menjadi Duta Besar”, demikian diceritakan.

Akhirnya ia tahu bahwa sebenarnya telah dicalonkan sebagai calon Duta Besar RI sejak Februari 2002 karena Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda menyatakan hal itu di beberapa media masa. Hal ini untuk menjawab berita tidak sedap di media masa bahwa ia akan “Di-Duta-Besar-kan” setelah memeriksa kasus yang melibatkan Komisaris Jenderal (Pol) Drs.Sofjan Yacob yang dituduh terlibat dalam pemberian nomor mobil mewah secara illegal.

Sebelum memutuskan menerima tugas sebagai Duta Besar, sebuah perusahaan minyak Multinasional pernah menawarkan jabatan sebagai Komisaris di perusahaan itu namun pilihannya tetap jatuh sebagai Duta Besar karena dipandang sangat terhormat dan lebih bergengsi. “Dalam setiap doa kepada Yang Maha Kuasa yang saya lakukan setiap hari bukan permohonan jabatan tertentu yang selalu dimohon namun hanya jabatan yang terhormat dalam hidup”, demikian pengakuannya. Sesaat 5 menit sebelum menentukan pilihan menerima posisi itu barulah sang isteri yang bekerja sebagai staf UNHCR di Jakarta akhirnya menetapkan bersedia mengikutinya ke Meksiko dan keluar untuk sementara dari pekerjaan yang memberinya gaji cukup tinggi.

Pada bulan Juli 2002 ia baru mendapat surat resmi dari Departemen Luar Negeri RI agar mempersiapkan makalah untuk menjalani “fit and proper test” di hadapan Komisi I DPR-RI pada bulan Agustus 2002 sebagai calon Duta Besar RI untuk Meksiko. Makalah yang harus dibuat rangkap 60 tersebut dibuat dengan minimal 20 halaman ketik spasi untuk 50 anggota DPR-RI dan 10 pejabat Departemen Luar Negeri.

Setelah berita resmi itu diterima ia mulai mengumpulkan data untuk pembuatan makalah mengenai hubungan bilateral Indonesia – Meksiko dari beberapa sumber seperti Dirjen Amerop, Direktorat Amuteng, Kedubes Meksiko di Jakarta, Sekolah Dasar Republik Meksiko di Kebayoran Baru, Jakarta, CEMEX Indonesia di Jakarta, dan PT Krakatau Steel yang pada awal operasinya pernah diawaki oleh Insinyur dari pabrik baja Hylsa SA de CV, Meksiko.

Surat resmi kedua dari Departemen Luar Negeri diterimanya berisi jadwal untuk semua calon Duta Besar yang berjumlah 24 orang untuk menjalani “fit and proper test” di hadapan Komisi I DPR-RI. Ia mendapat jadwal hari ke dua. Ia menerima berita bahwa 18 nama calon termasuk namanya dikembalikan ke Presiden dan 6 nama calon dipertimbangkan.

Surat resmi ketiga dari Departemen Luar Negeri yang diterimanya adalah perintah untuk mengikuti penataran calon Duta Besar untuk 18 nama, ditambah 6 nama baru untuk calon Deputy Chief of Mission (DCM) dan Konsul Jenderal. Bersama dengan penataran calon Duta Besar juga diadakan penataran untuk isteri calon Duta Besar. Materi penataran diberikan oleh para pejabat teras Departemen Luar Negeri dan para Menteri Kabinet yang dilangsungkan di Ruang Nusantara Departemen Luar Negeri RI. Pada penataran tersebut ia ditunjuk sebagai ketua kelas secara aklamasi. Secara tidak terduga isterinya, Kemala Ahwil, juga ditunjuk sebagai ketua kelas penataran para isteri calon Duta Besar.

Setelah para calon Duta Besar itu mengikuti penataran selama 3 minggu, maka diadakan kunjungan kerja Lintas Nusantara ke beberapa objek penting, dan pabrik-pabrik yang memiliki nilai ekspor tinggi ke seluruh dunia. Kunjungan Kerja tersebut sudah tentu menjadi tanggungjawab ketua kelas dan ia dinilai para koleganya dapat menjalankan tugas itu dengan baik karena saat itu ia masih menjabat sebagai Inspektur Jenderal Polisi RI sehingga mendapat kemudahan dan fasilitas..

Setelah penataran itu para calon Duta Besar memang belum merasa tenang karena belum menerima “agreement” dari negara penerima. “Saya baru mendapat kepastian dari Departemen Luar Negeri bahwa negara Meksiko telah menyampaikan agreement- nya mengenai penunjukannya oleh Pemerintan RI sebagai Duta Besar RI untuk Meksiko pada minggu ketiga bulan September 2002”, demikian kenangnya.

Surat resmi ke-empat akhirnya datang dari Departemen Luar Negeri RI berisi undangan untuknya beserta keluarga untuk menghadiri pelantikan sebagai Duta Besar RI untuk Meksiko, Panama, Honduras dan Costa Rica. Dan semua Duta Besar RI tersebut dilantik pada minggu ke-empat bulan September 2002 di Istana Merdeka oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. “Saya patut berbangga hati karena saya adalah satu-satunya perwira tinggi dari TNI/POLRI yang ditunjuk oleh Pemerintah RI sebagai Duta Besar pada angkatan ini”, demikian pernah dikatakan kepada staff.

Pada saat-saat pelantikan itu Presiden Megawati sempat berucap kepadanya,”Sampai bertemu di Los Cabos!”. Ia memang harus berangkat ke Mexico segera untuk mendahului Presiden RI yang akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Conference (APEC) di Los Cabos pada minggu ketiga bulan Oktober 2002. Karena itulah ia mendapat prioritas sebagai Duta Besar RI yang pertama berangkat ke pos penugasan yang. Ia masih terkenang bagaimana saat pelantikan itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, sempat membisiki “Mas Ahwil, saya bangga dengan pengangkatan ini”. Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya SBY, demikian media masa sering menyebutnya, kemudian menjadi Presiden RI ke-enam. Yang dikenangnya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah pribadi yang santun, bahkan juga kepada bawahannya.

Perpisahan dengan pejabat Departemen Luar Negeri dan penatar juga ia lakukan mengingat ia harus berangkat segera. Dengan kemudahan dan fasiltas yang masih dimiliki sebagai perwira POLRI yang masih aktif, ia mengadakan perpisahan itu di Flores Ballroom, Borobudur International Hotel. Yang diingat waktu acara itu adalah sepenggal sambutan Menteri Luar Negeri RI Bapak Hassan Wirajuda yang mengatakan, “agar semua Duta Besar bertindak sebagai wakil-wakil RI dan jadikanlah Kedutaan Besar masing-masing sebagai etalase Republik Indonesia di luar negeri dimana saja pun anda berada. Jangan sampai Kedutaan Besar seperti kandang ayam, gersang dan tidak ada keindahan dan penghijauan yang membuat sejuk penghuninya”.

FOTO 9
BERSAMA MENLU DAN IBU HASSAN WIRAJUDA

Pelepasan jabatannya di Kepolisian RI oleh Kapolri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar dilaksanakan baru pada hari terakhirnya di Jakarta, dihadiri oleh Kapolda dan seluruh pejabat teras Mabes POLRI beserta isteri. Ia nampaknya masih terkesan bagaimana Kapolri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar dan jajaran Kepolisian RI membantu misinya sebagai Duta Besar RI untuk Meksiko dengan penuh perhatian dan kesungguhan.

Sebelum keberangkatannya ke Meksiko ia juga harus menyerahkan beberapa jabatannya di Kepolisian RI sebagai Inspektur Jenderal, dan juga jabatannya di luar Kepolisian di Universitas Panca Sila sebagai Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, sebagai Ketua Alumni Universitas Panca Sila, sebagai Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia jurusan Kajian Ilmu Kepolisian, sebagai Dosen Hukum Acara Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Universitas Panca Sila dan Universitas Bhayangkara, dan juga sebagai Ketua Rukun Tetangga 011/Rukun Warga 16 Pondok Indah dimana ia tinggal sejak tahun 1984.

Tentu saja ia juga harus menyelesaikan masalah-masalah pribadi sebelum keberangkatannya ke Meksiko. Untuk itu ia harus menikahkan anak pertama dr.Chippy Ahwil dengan calon isterinya Dewi Ayu Suryani, adik kelasnya di Sekolah Dasar Departemen Luar Negeri di Jalan Iskandarsyah. Dengan bantuan koleganya di Kepolisian akhirnya acara pernikahan yang dipersiapkan hanya sebulan itu dapat dilangsungkan di rumah dinas Jalan Tirtayasa VII no.8, Kebayoran Baru, Jakarta. Ia tidak menyangka banyak tamu yang hadir seperti para Menteri Kabinet termasuk Menko Polsoskam Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, anggota DPR-RI, Kapolri Jendral (Pol) Da’i Bachtiar dan koleganya di Kepolisian RI dan Perguruan Tinggi tempat ia mengajar, serta para Duta Besar negara sahabat di Jakarta. Bahkan Kepala Polisi Malaysia dan Singapura telah menyempatkan diri hadir pada acara pernikahan itu. Ia merasa sangat terkesan saat Menteri Luar Negeri RI Bapak Hassan Wirajuda dan Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar tinggal di tempat acara sekitar 2 jam untuk menemani tamu-tamunya para Duta Besar dan Kepala Polisi Malaysia dan Singapura beserta rombongan mereka. Ia melukiskan acara pernikahan anak pertamanya tersebut sebagai informal, namun meriah dan penuh kekeluargaan.

Setelah saat-saat yang menumbuhkan kenangan emosi yang dalam itulah ia berjanji kepada diri sendiri untuk benar-benar menjaga amanat Pimpinan Negara dan berbuat banyak untuk meningkatkan nama negara RI di manca negara. Komitmennya yang tinggi kepada tugas untuk mencapai visi dan misi sebagai Duta Besar RI nampaknya mulai menguat dari situ. Dan pada ujung buku ini akan terbukti bahwa ia berhasil!

Baginya jabatan memang bukan segalanya. Jabatan adalah amanah Allah SWT, demikian ia mengatakannya suatu hari. Ia juga tidak pernah memilih-milih jabatan. Dari Ketua Rukun Tetangga sampai Duta Besar ia jalani tanpa berubah kepribadian yang telah tertanam sejak masa kanak-kanak. Ia selalu mengingatkan kepada staff bahwa sebagai seorang pegawai negeri bersiaplah angkat koper setiap waktu demi panggilan tugas. Sebelumnya ia malah mengira bahwa jabatan terhormat dirinya adalah ketika menjadi dosen pada beberapa Universitas dalam mata pelajaran Ilmu Kepolisian dan menjabat sebagai Pembantu Rektor III Universitas Pancasila. Tapi ternyata Yang Kuasa menentukan lain. Ia “Di Duta-Besarkan” juga, demikian media masa menuliskan.

Nampaknya belajar dan berkecimpung sebagai pengajar di lembaga pendidikan memang sesuatu yang cukup menyenangkan dalam hidupnya. Kegemarannya memang mengikuti training dari satu tempat ke tempat lain di luar negeri untuk mendalami ilmu kepolisian.

Dari luar kariernya nampak mulus tanpa cedera. Padahal tidaklah demikian. Ayah tiga anak, Chippy Ahwil, Gary Ahwil, dan Desiree Ahwil itu pernah 12 tahun di pangkat Kolonel. Itu karena namanya tercantum di Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI sebagai perwira yang tidak loyal kepada atasan. Gara-garanya adalah perintah atasannya untuk menyelesaikan masalah tanah di Jalan Sudirman depan Ratu Plaza dan tanah untuk Kedubes Rusia di Kuningan. Kedua kasus tersebut ternyata melibatkan putra dan putri seorang Pejabat Tinggi RI saat itu. Penyelesaian apapun yang dilakukan ia akan disalahkan oleh satu sama lain. Namun sebagai Polisi profesional ia memilih menyelesaikannya sesuai Undang-undang yang berlaku. Sebagai hasilnya ia harus menjadi Kolonel selama 12 tahun karena dianggap salah.

Pada saat itu nyaris ia hendak keluar dari dinas Kepolisian dan sudah menyampaikan hal itu kepada sang isteri, sebelum akhirnya Panglima Angkatan Bersenjata RI Jenderal Faisal Tanjung menaikkan pangkatnya sebagai bintang satu di kepolisian sebagai Brigadir Jenderal. Setelah itu pangkatnya menanjak dengan cepat. Ahwil Lutan yang hendak pensiun dini itu akhirnya dapat mencapai pangkat bintang tiga di Kepolisian yaitu sebagai Komisaris Jenderal. Dibalik itu ia mengungkapkan hubungannya yang cukup baik dengan isteri Pak Kumis, sebutan populer untuk Jenderal Faisal Tanjung kala itu. Isteri Pak Kumis yang adalah teman sekelas sesama murid Sekolah Menengah di Medan, sempat dihubunginya untuk membantu mengubah nasibnya yang tersendat sebagai Kolonel selama 12 tahun. Kombinasi antara jejaring dan keuletan yang dimilikinya sungguh membuahkan hasil.

FOTO X-1
KENANGAN BERSAMA CUCU DI HOUSTON

Berkali-kali ditekankan kepada staff bahwa yang paling penting bagi staff adalah menunjukan kinerja sebagai seorang profesional, karena pada akhirnya pimpinan akan melihat hal itu, tanpa perlu berangan-angan untuk suatu posisi.

Pernah diceritakan bahwa selama kariernya sebagai polisi ia seringkali harus berbuat ibarat mengambil rambut di tepung tanpa mengakibatkan tepung bergerak. Ia pun bercerita mengenai telepon bernada ancaman yang berkali-kali diterimanya saat ia harus menangani kasus-kasus berat seperti kasus bangunan Kedubes Rusia di Jakarta dan kasus tanah di Jalan Sudirman yang keduanya melibatkan anak-anak pejabat tinggi negara saat itu, kasus pencurian spare-part di gudang PT GARUDA Indonesia Airways, kasus penipuan tax holiday pengapalan minyak oleh CALTEX, kasus penyelundupan timah di Pulau Bangka saat permulaan kariernya di kepolisian, dan sebagainya. Saya memang sempat memendam kekesalan setelah menerima telpon agar tidak terus maju untuk melakukan investigasi kasus-kasus itu, ungkapnya suatu hari.

Sejak itu nampaknya ia menyadari harus menghadapi kenyataan hidup ini dengan sabar.



---0---
BAB IV
MEMBINA HUBUNGAN DENGAN NEGARA AKREDITASI
PANAMA, HONDURAS, COSTA RICA

Pada waktu akan berangkat tugas ke Meksiko disebutkan bahwa ia adalah Duta Besar RI untuk Meksiko merangkap negara Panama, Costa Rica, dan Honduras. Namun sampai menjelang mengakhiri tugasnya di Mexico City, Surat-surat Kredensial dari Presiden RI untuk diserahkan kepada Presiden negara Costa Rica tidak pernah diterimanya. Dengan adanya restrukturisasi perwakilan RI seluruh dunia maka tugas perangkapan KBRI untuk Meksiko diubah menjadi untuk Costa Rica, Honduras, Nicaragua, dan Guatemala. Untuk negara Panama selanjutnya akan didirikan perwakilan setingkat Konsulat Jenderal. Sedang perangkapan dua negara di Amerika Tengah lainnya, El Salvador dan Belize, akan ditetapkan kemudian.

Ke negara-negara tersebut ia pernah pergi mengunjunginya. Cerita mengenai hal-hal di negara Amerika Latin yang jauh dari tanah air kita yang masih dianggap negeri Antah Berantah oleh sebagian besar rakyat kita pasti akan sangat menarik.

FOTO 10
PENYERAHAN SURAT-SURAT KEPERCAYAAN
KEPADA PRESIDEN PANAMA,
SRA. MIREYA ELISA MOSCOSO RODRIGUEZ

Negara Panama yang merdeka pada tanggal 3 Nopember 1903 dari Columbia dengan dukungan AS, terletak di leher benua Amerika dan sangat strategis bagi kepentingan pelayaran dunia. Di Panama terdapat Colon Free Zone dan Panama Kanal yang penting bagi perekonomian negara itu. Barang-barang yang masuk dari seluruh penjuru dunia ke Panama umumnya di ekspor kembali ke negara-negara lain di benua Amerika. Di Panama terdapat sebuah perusahaan Indonesia yang beroperasi dalam bidang tekstil.

Pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan Panama sejak masa Duta Besar Husni Thamrin Pane (1981 – 1984). KBRI Mexico City pernah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar membuka Perwakilan RI atau Kantor Perdagangan di Panama mengingat peranannya yang penting dalam perekonomian dunia sebagaimana Hong Kong dan Singapura di Asia. Namun sebaliknya Pemerintah RI malah membuka Kantor Perdagangan di Sao Paulo, Brazil. Sesuai restrukturisasi Perwakilan RI di luar negeri maka Pemerintah RI berencana akan membuka perwakilan setingkat Konsulat Jenderal di Panama pada beberapa tahun mendatang.

Negara Panama dengan Ibu kota Panama City telah beberapa lama memiliki perwakilan setingkat Duta Besar di Jakarta. Sebaliknya Pemerintah Republik Indonesia pernah mempunyai Konsul Kehomatan RI di Panama City yaitu Dr.George Weeden Gamboa yang cukup berpengaruh dan disegani di negara itu. Ia seolah seorang Godfather yang sangat berkuasa melebihi Presiden Panama. Isterinya pernah menjadi Duta Besar Panama untuk Costa Rica dan anaknya pernah menjadi Duta Besar Panama untuk Jakarta. Duta Besar RI selalu mendapat fasilitas yang lebih dari cukup bila berkunjung ke Panama. Namun sejak pergantian Presiden Panama menyusul pemilihan umum di negeri itu pada tahun 2004 kekuasaanya harus berakhir dan posisi isteri dan anaknya tersebut akhirnya digantikan oleh orang-orang dari kelompok lain yang kemudian berkuasa. Kini Pemerintah RI perlu mencari pengganti yang layak mengingat beliau telah meninggal dunia karena sakit pada awal tahun 2005.

Honduras yang merdeka pada tahun 1821 adalah salah satu negara kecil yang terletak di leher benua Amerika dengan Ibu kota di Tegucigalpa. Pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan negara itu pada tahun 1998. Penghasilan utama negara Honduras adalah pisang. Karena itu negara itu sering disebut “Banana Republic” Duta Besar RI Barnabas Suebu telah merintis kerjasama antara Honduras dengan Propinsi Papua mengenai pengembangan tanaman pisang untuk tujuan ekspor. Berdasarkan Memorandum of Understanding antara Universitas Papua dengan The Honduran Foundation for Agricultural Investigation for Technical Cooperation (FHIA) yang ditandatangani kedua pihak setahun sebelumnya, maka pada bulan Nopember tahun 2004, Pemerintah Kabupaten Sorong telah mengirimkan 2 (dua) orang insinyur pertanian untuk mengikuti program magang/kursus kultur jaringan tanaman pisang di FHIA Honduras. MoU tersebut ternyata menjadi kontroversial karena salah prosedur saat proses pembuatan dilakukan.

FOTO 11
PENYERAHAN SURAT-SURAT KEPERCAYAAN
KEPADA PRESIDEN HONDURAS,
SR.RICARDO MADURO

Dalam kesempatan menyerahkan kredensial kepada Presiden Honduras, Sr.Ricardo Maduro, Duta Besar Ahwil Lutan pernah menerima tawaran untuk menjadi konsultan keamanan nasional negara penghasil pisang tersebut. Tawaran untuk menjadi Konsul Kehormatan Honduras di Jakarta juga diterimanya. Tawaran yang pertama ditolaknya dengan halus namun tawaran kedua dengan senang hati akan dipertimbangkan setelah selesai menjalankan tugas di Meksiko. Saat ini Pemerintah RI juga sedang memilih-milih seorang Konsul Kehormatan RI di Honduras. Dalam hal ini kehati-hatian sangat diperhatikannya agar tidak mendatangkan kerugian bagi kepentingan negara.

Negara Costa Rica yang merdeka pada tahun 1821 dengan Ibu kota San Jose, adalah negara paling maju secara ekonomi di Amerika Tengah. Hubungan diplomatik kedua negara dibuka sejak tahun 1995. Namun karena karena kebijakan luar negeri negara itu yang memindahkan kantor Kedutaan Besar dari Tel Aviv ke Jerusalem maka Duta Besar RI merangkap negara itu tidak menyerahkan kredensial ke Presiden Costa Rica, mengikuti konsensus negara-negara OKI yang “tidak mengikat”.

Pariwisata adalah penghasilan utama negara tersebut yang mengandalkan wisata alam dan lingkungan hidup yang terpelihara dengan baik. Pembuatan filem Jurassic Park juga telah dilakukan di negara itu. Negara ini dikenal sebagai Switzerland of Central America karena tidak memiliki tentara dan polisi memegang peranan penting untuk keamanan dalam negeri.

Di Costa Rica terdapat Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa yang mendidik mahasiswanya dalam berbagai bahasa dunia. Lulusan Universitas ini dijamin akan memperoleh posisi sebagai staf di organisasi PBB. Pihak Universitas pernah mengajukan permintaan agar Pemerintah RI dapat menyumbangkan patung Dr.Ir.Soekarno untuk dapat dipasang di halaman Universitas tersebut namun belum memperoleh jawaban. Melalui pemasangan patung tersebut, sesungguhnya Indonesia dapat memperoleh manfaat untuk memperkenalkan negara kita kepada masyarakat setempat maupun mahasiswa asing yang belajar disitu.

Saat berkunjung ke Costa Rica, Duta Besar Ahwil Lutan menyempatkan diri makan siang di sebuah Restaurant Indonesia di Ibukota San Jose yang menyediakan masakan Indonesia milik seorang keturunan China yang orang tuanya berasal dari Indonesia. Saat-saat pertemuan semacam ini memang selalu memberi kesan bagi kebanyakan warga Indonesia yang tinggal di luar negeri dan relatif jarang bertemu dengan warga Indonesia yang masih memegang kewarganegaraan Indonesia maupun yang sudah tidak lagi memegang kewarganegaraan Indonesia. Biasanya mereka menjadi akrab dan saling menumpahkan kerinduannya kepada tanah air asalnya. Dan bagi mereka yang telah lama tinggal di luar negeri dimanapun yang akan dicari adalah makanan Indonesia sebagai pelepas rindu kepada tanah air.

FOTO 12
DI DEPAN RESTAURANT INDONESIA DI SAN JOSE, COSTA RICA

Negara lain di kawasan yang akan menjadi rangkapan KBRI Mexico City adalah Guatemala dengan Ibu kota Guatemala City dan Nicaragua dengan Ibu kota Managua. Kedua negara tersebut termasuk kelompok negara miskin. Kedua negara merdeka pada tahun 1821. Kesannya pada saat mengunjungi negara-negara tersebut adalah membandingkan kondisinya yang mirip Indonesia sekitar tahun 1950-an. Sebelumnya negara tersebut dirangkap dari Perwakilan Tetap RI di New York. Perangkapan Perwakilan RI di Meksiko untuk negara-negara ini akan terjadi menunggu kedatangan Duta Besar RI yang baru yang menggantikan Duta Besar Ahwil Lutan.

Dua negara Amerika Tengah lainnya, yaitu Belice dan El Salvador, tidak dimasukan sebagai negara rangkapan KBRI Mexico City. Dengan dua negara itu Indonesia memang belum memiliki hubungan diplomatik.

Ada cerita-cerita menarik dari kunjungannya ke negara-negara tersebut. Belice (dulu bernama British Honduras) dengan Ibu kota di Belmopan, adalah satu-satunya negara bekas jajahan Inggris di Amerika Tengah yang menggunakan bahasa Inggris dan memiliki sebuah wilayah perdagangan bebas di perbatasannya dengan Meksiko. Yang boleh masuk dan berbelanja tanpa pajak disitu hanya Warga Negara Asing atau Meksiko, sedang warga negaranya sendiri tidak boleh berbelanja dan hanya boleh bekerja. Ia belajar dari negara kecil itu, bagaimana suatu negara dapat memiliki dua rejim perdagangan dan keimigrasian yang berbeda demi mensejahterakan rakyatnya.

Barang asal Indonesia banyak masuk ke negara itu dan diekspor ke wilayah Meksiko oleh pedagang asal Suriname dan India. Dalam kunjungannya ke Belice ia menyempatkan diri bertemu dengan Konsul Kehormatan Suriname dan India di Belice. Keduanya keturunan India yang pernah tinggal di Jalan Batu Ceper, Pasar Baru, Jakarta. Dan keduanya adalah importir barang produksi Indonesia. Setiap bulan sekitar 10 kontainer berisi barang asal Indonesia masuk ke wilayah perdagangan bebas itu.

Sampai disini dapat dicatat bahwa faktor demografi (keturunan penduduk) kenyataannya dapat menjadi salah satu penunjang ekspor suatu negara. Mereka ini tentu akan mengimpor barang dari Jakarta melalui jejaringnya. Mungkin mereka itu saudara atau kenalannya. Hal ini dapat menjadi bahan pemikiran bagaimana memanfaatkan keturunan China di Indonesia untuk mendorong ekspor produk Indonesia ke negara-negara di Amerika Utara atau negara lain melalui jejaring mereka yang berada dimana-mana. Lebih dari seperlima penduduk dunia adalah keturunan China.

Di negara El Salvador dengan Ibu kota San Salvador, terdapat investasi Indonesia yang bergerak di bidang pencucian tekstil. Dua tenaga kerja warga negara Indonesia menjadi direktur di perusahaan tersebut dengan gaji dan fasilitas cukup yang disediakan perusahaan. Kantor pusatnya yang terletak di Cakung, Jakarta Utara, selalu memasok kebutuhan perusahaan tersebut melalui pengiriman kontainer setiap beberapa bulan sekali. Saya bisa makan pecel, sambel oleg, dendeng, dan teri Medan yang dibawa kontainer itu, kata mereka. Dimanapun orang Indonesia berada makanan adalah yang dicarinya sebagai pelepas kangen mereka kepada tanah air.

FOTO X-2
KENANGAN KUNJUNGAN KE NEGERI FIDEL CASTRO, CUBA

Selama bertugas di Meksiko ia juga menyempatkan diri mengunjungi negara-negara Amerika Latin dan Karibia lainnya seperti Kuba, Chili, Ecuador, Columbia, Peru, Argentina, dan Brazil. Apalagi kalau tidak untuk belajar yang baik-baik dari negara-negara itu.


--0--
BAB V
PENYERAHAN KREDENSIAL KEPADA
PRESIDEN MEKSIKO VICENTE FOX QUESADA :
TONGGAK PENINGKATAN EKSPOR INDONESIA KE MEXICO

Penyerahan Surat Kredensial dari Presiden RI Megawati Soekarnoputri pada tanggal 22 Nopember 2002 oleh Duta Besar Ahwil Lutan kepada Presiden Meksiko Vicente Fox Quesada di Istana Los Pinos adalah tonggak penting dalam upaya peningkatan ekspor Indonesia ke Meksiko.

FOTO 13
SAAT PENYERAHAN KREDENSIAL KEPADA
PRESIDEN MEXICO VICENTE FOX QUESADA


Duta Besar Ahwil Lutan tiba di Meksiko pada akhir bulan Oktober 2002 dan segera mendampingi Presiden RI selama berlangsungnya KTT para pemimpin negara-negara APEC di Los Cabos, walaupun belum menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Meksiko. Selang sebulan kemudian pada tanggal 22 Nopember, Duta Besar RI Ahwil Lutan diterima oleh Presiden Mexico Vicente Fox Quesada untuk menyerahkan Surat-surat Kepercayaan. Dalam kesempatan tersebut Presiden Fox menyampaikan keinginannya untuk mengimpor gas alam dari Indonesia.

Pesan Presiden Meksiko tersebut segera ditindak lanjuti dengan menghubungi pihak-pihak di Meksiko untuk memperoleh kepastian atas pernyataan pemimpin mereka. Beberapa mengaku tidak tahu. Mereka hanya mengatakan bahwa pengelolaan gas merupakan urusan pihak swasta sedang pengelolaan minyak dilakukan oleh PEMEX, suatu perusahaan negara. Situasi seperti ini di kalangan pejabat tinggi di Meksiko cukup dimengerti olehnya. Namun dengan gigih semua rintangan ditempuh karena menyadari bahwa ini suatu peluang besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Meksiko.

Akhirnya ia dapat mendeteksi bahwa ternyata wilayah Meksiko di perbatasan utara adalah pangkalan untuk masuknya berbagai produk ke Amerika Serikat. Gas bumi (Liquid Natural Gas) yang dipasok Jepang ke AS ternyata berasal dari Indonesia dan dimasukan oleh perusahaan Meksiko. Hal ini terjadi karena peraturan lingkungan hidup di AS tidak membolehkan penyimpanan gas di wilayahnya. Disinilah mula-mula ia melihat adanya peluang masuknya gas dari Indonesia ke AS melalui Meksiko. Jika jalur itu dapat dipotong tanpa melalui pedagang Jepang maka akan menguntungkan kepentingan Indonesia. Demikianlah kira-kira perhitungannya.

Ia kemudian mendekati perusahaan Meksiko tersebut. Hasilnya perusahaan tersebut setuju untuk menerima kiriman gas langsung dari Indonesia untuk kemudian dijual ke AS maupun untuk dipasarkan di dalam wilayah Meksiko. Setelah mengetahui pasti pihak-pihak dari kedua pihak yang harus dipertemukan, maka sebagai tindak lanjut Menteri Energi kedua negara dan swasta di bidang gas kemudian difasilitasi untuk mengadakan pertemuan di Wisma Duta dan dilanjutkan dengan serangkaian perundingan untuk mendatangkan gas dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pantai barat Amerika Serikat dan Meksiko sebelah utara. Kesepakatan awal akhirnya tercapai antara Menteri Energi Amerika Serikat, Meksiko dan Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding mengenai kerjasama energi di New York pada bulan Desember 2003.

FOTO 14
SETELAH PENANDATANGANAN KONTRAK PENGAPALAN GAS
DARI INDONESIA KE MEKSIKO DI SAN DIEGO,
TANGGAL 11 OKTOBER 2004

Jalan pikiran dengan menggunakan “mata hati seorang reserse” terbukti membuat hasil yang nyata untuk mencapai visi dan misinya sebagai seorang Duta Besar RI. Kehati-hatiannya sangat nampak, bahkan untuk sesuatu kejadian yang belum dipikir orang akan terjadi. “Ahwil Lutan memang mampu berfikir strategis berlipat tiga kali ke depan”, demikian seorang mantan Direktur Jenderal di Departemen Perhubungan, kakak kelasnya di Akademi Militer Nasional pernah mengungkapkan.

Ada sekelumit cerita dibalik itu semua. Sebelumnya memang beberapa perusahaan minyak termasuk Marathon Oil telah mendekati Menteri Energy dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bapak Purnomo Yusgiantoro untuk dapat dipilih menjadi pemasok. Saat diberitahu oleh Duta Besar Ahwil Lutan bahwa Sempra Energy telah memiliki jaringan pipa dari baja California ke wilayah AS, maka Menteri Purnomo yang sebelumnya akan memilih Marathon Oil tersebut kemudian berubah pilihan.

Suatu keberhasilan besar akan tercapai dalam usaha meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara. Penandatanganan kontrak penjualan Liquid Natural Gas antara Sempra Energy dan British Petroleum dengan partner lokalnya, telah dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2004 di San Diego, Amerika Serikat. Pengiriman pertama LNG yang berasal dari ladang Tangguh (Papua) ke terminal penerima Energia Costa Azul di Ensenada, negara bagian Baja California, Meksiko, diharapkan dapat dilakukan pada tahun 2008. Kontrak untuk kurun waktu 20 tahun bernilai US$ 24 milyar tersebut juga merupakan tonggak awal masuknya LNG dari Asia Pasifik, khususnya produksi Indonesia, ke kawasan Amerika. Supply LNG tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas di wilayah pantai barat Amerika dan sebagian Meksiko, khususnya di bagian utara.

Ini merupakan kombinasi kerja keras dan kehati-hatian yang membuahkan keberhasilan. Saingan Indonesia waktu itu adalah gas dari Sakhalin (Rusia), Darwin (Australia), Bintulu (Malaysia), dan Peru. Harga yang diperoleh Indonesia juga lebih baik dibandingkan dengan harga gas Indonesia ke China karena memakai harga mengambang sesuai harga pasar. Setelah keberhasilan itu gas asal Indonesia kemudian dilirik oleh negara Chile. Namun sampai saat ini belum berhasil sampai menjadi kenyataan.

Dapat dicatat bahwa hubungan ekonomi melalui perdagangan bilateral antara Indonesia dan Meksiko secara umum terus memperlihatkan kecenderungan yang meningkat setiap tahun dan selalu surplus di pihak Indonesia sejak 1986. Nilai ekspor Indonesia ke Meksiko pada tahun 2004 mencapai US$ 626,98 juta sementara impor Indonesia dari Meksiko hanya US$ 14,48 juta, meningkat dibandingkan tahun 2003. Hampir separuh barang ekspor dari Indonesia masuk melalui pihak ketiga seperti AS, Singapura, Hongkong dan Belice.

Kecenderungan akan adanya peningkatan perdagangan pada tahun-tahun mendatang memang dapat dilihat dari indikator semakin banyaknya inquires yang masuk ke KBRI Mexico City dengan variasi jenis produk yang diminati. Saat ini Meksiko merupakan urutan ke-27 tujuan ekspor utama non-migas Indonesia setelah Italia, Arab Saudi, Kanada dan Vietnam.

Table neraca perdagangan Meksiko - Indonesia dalam periode 5 tahun terakhir dari sumber dapat dilihat pada : http://www.economia-snci.gob.mx/ .


Surplus sejak tahun 1986 yang dinikmati Indonesia dalam perdagangannya dengan Meksiko tersebut akan semakin membesar dengan akan adanya pengapalan dan supply gas alam asal Indonesia dari ladang Tangguh, Papua, mulai tahun 2008. Bila angka ekspor migas dan non migas dari Indonesia ke Meksiko digabung maka mulai tahun 2008 akan tampil angka lebih dari US$ 1,5 milyar, hampir mendekati angka ekspor Singapura ke negara itu tahun 2003 yang mencapai sekitar US$ 2 milyar dan meninggalkan jauh angka ekspor yang dicapai negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Thailand dan Philipina ke negara itu.

Malaysia adalah suatu pengecualian. Ekspor negara itu ke Meksiko telah mencapai sekitar USD 3 milyar. Barang ekspor yang paling signifikan dari negara itu adalah elektronik terutama semi konduktor. Kita tahu bahwa yang merakit barang ekspor itu adalah para Tenaga Kerja Indonesia di Johor. Dan perusahaan semi konduktor itulah yang dulu pernah ditolak menanam modalnya di Batam karena dianggap padat modal, bukan padat karya yang menjadi kebutuhan Indonesia.

Saat peresmian dimulainya investasi minyak kelapa sawit Malaysia di negara bagian Chiapas, Presiden Meksiko Vicente Fox telah menyempatkan diri datang ke negara bagian itu. Ironisnya, bibit kelapa sawit pertama yang ditanam di Chiapas adalah berasal dari Indonesia yang dilakukan pada tahun 1939, sebelum Indonesia merdeka. Negara bagian Chiapas memang memiliki alam tropis yang mirip dengan Indonesia dan cocok untuk ditanami kelapa sawit. Dapat diperkirakan bahwa investasi Malaysia itu sedang membidik pasar Meksiko dan Amerika Utara. Saat ini beberapa kapal tanker yang memuat minyak kelapa sawit menuju Meksiko diketahui didatangkan oleh pengusaha Malaysia dari pelabuhan Belawan.

Kebijakan Presiden Vicente Fox dan politik luar negerinya memang sangat mendukung sektor ekonomi dan perdagangan. Dengan dukungan kebijakan-kebijakan moneter yang ketat dan perbaikan struktur fiskal, moneter dan struktur perekonomian serta memberantas korupsi, maka peluang bagi investasi asing yang mendorong pembangunan dalam negeri semakin meningkat.

Perlu dicatat pula bahwa jumlah penduduk Meksiko yang cukup besar, sekitar 100,3 juta jiwa, dengan Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product (GDP) per kapita mencapai US$ 6.465,- pada tahun 2004, dan keanggotaannya dalam NAFTA telah mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri negara itu sekita 5% per tahun, terutama dengan masuknya modal asing serta meningkatnya ekspor produksi Meksiko ke Pasar Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Sejak tahun 1994, sebelum diterjang krisis ekonomi, negara itu telah menjadi anggota klub negara-negara kaya OECD. Perekonomian Meksiko yang kini tergabung dalam organisasi North America Free Trade Area (NAFTA), walau masih menanggung beban hutang luar negeri yang besar, dinilai oleh Bank Dunia telah mampu melepaskan diri dari krisis tersebut pada tahun 2004.

FOTO 15
PASAR INDUK PERTANIAN DAN PERIKANAN
DI MEXICO CITY

Selain keanggotaannya dalam NAFTA, sampai Juli 2004 negara Meksiko telah menandatangai Perjanjian Perdagangan Bebas dengan 18 negara. Negara-negara tersebut adalah Columbia, Venezuela, Costa Rica, Bolivia, Nicaragua, Chile, El Salvador, Guatemala, Honduras, Uruguay, Israel, Jepang, dan negara anggota AELC di Eropa, seperti Islandia, Norwegia, Liechtenstein, Swiss ditambah negara-negara anggota Uni Eropa. Selain itu Mexico juga menjadi peninjau pada organisasi MERCOSUR dan anggota Asia Pacific Economic Conference (APEC). Saat ini suatu perjanjian perdagangan bebas dengan Singapura sedang dijajagi oleh Meksiko. Namun barang Singapura yang diekspor ke Meksiko sudah dapat diperkirakan berasal dari negara sekeliling, termasuk Indonesia.

Saya orang awam dalam soal perdagangan, namun mengapa Indonesia tidak pernah berfikir untuk membuat perjanjian perdagangan bebas dengan negara Meksiko yang jelas-jelas dalam posisi menguntungkan negara kita saat ini, demikian pernah disampaikan kepada Menteri Perdagangan dan Industri Rini Suwandi di sela-sela Konferensi WTO di Cancún tahun 2004. Suatu pandangan yang logis mengingat surplus yang dinikmati dalam perdagangannya dengan Meksiko sejak tahun 1986.

Dengan penolakan Perusahaan Minyak Meksiko PEMEX tahun 2003 atas produk pipa dari sebuah perusahaan supplier pipa Indonesia yang berbasis di Batam yang telah memenangkan tender, hal itu telah mengusik logikanya. Perusahaan itu ditolak oleh aturan internal Perusahaan PEMEX karena produk pipa dari Batam itu tidak termasuk yang berasal dari negara dimana Meksiko telah menjalin Perdagangan Bebas.

Keanggotaan Meksiko dalam North America Free Trade Area (NAFTA) maupun Perjanjian Perdagangan Bebas dengan beberapa negara di dunia merupakan peluang untuk memasarkan produk-produk ekspor Indonesia sekaligus sebagai pintu gerbang untuk penetrasi pasar ke negara-negara anggota NAFTA lainnya. Indonesia sebenarnya dapat memanfaatkan peluang untuk memasukkan berbagai bahan dasar atau produk-produk lain yang dibutuhkan Meksiko yang sedang membangun. Hal ini perlu perhatian bagi Indonesia yang sedang mencari pasar alternatif. Pasar Meksiko perlu digarap sebagai tujuan maupun perantara bagi pemasaran produk-produk Indonesia di kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan bahkan Eropa dengan memakai fasilitas bebas bea yang dimiliki negara itu.

Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang ditutup tahun 1998 karena krisis yang mendera Indonesia yang rencana akan dibuka kembali pada awal tahun 2005 terpaksa urung dilakukan dengan adanya kebijakan Kabinet Indonesia Bersatu dari Pemerintah RI yang baru.

Kedua negara memang tidak memiliki basis yang kuat untuk mengembangkan perdagangan. Masalah ini sudah disadari sejak tahun-tahun pertama pembukaan hubungan diplomatik antara kedua negara. Belum pernah dilakukan penelitian mendalam bagaimana mengatasi perbedaan budaya dalam perdagangan yang bersumber dari jarak psikologis akibat kurangnya informasi, bagaimana mengatasi inefisiensi karena mahalnya transportasi dan hambatan tariff dalam perdagangan antara kedua negara. Perjanjian Perlindungan Jaminan Investasi antara kedua negara pernah dibahas sekali kemudian tidak ditindaklanjuti. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda yang ditandatangani di Los Cabos, pada bulan Oktober tahun 2002 pada saat Konferensi APEC, baru saja berlaku pada awal tahun 2005 setelah diratifikasi kedua pihak.

Nampaknya masih jauh jalan yang harus ditempuh, bagaimana memanfaatkan kedekatan politis dan mengalihkannya (transform) menjadi interaksi ekonomi yang dapat saling menguntungkan bagi rakyat kedua negara.

Bagi seorang pedagang, profit adalah penggerak utama kapan dan kemana ia akan berdagang. Perasaan aman dari sisi supply dan meraih untung dari penjualan dengan cepat akan menjadi dasar pemikiran mereka. Dengan demikian maka efisiensi adalah persoalan kunci. Mengingat jarak yang jauh yang akan membuat harga jadi mahal, maka investasi dapat menjadi salah satu solusi. Investasi akan memotong biaya transportasi yang mahal karena jarak yang jauh. Atau, membeli barang dari pihak ketiga yang sudah jelas aman dari sisi supply. Itulah yang dilakukan banyak importir Meksiko. Banyak barang made in Indonesia yang diimpor dari AS, Hongkong, Singapura, atau Belice.

Salah satu mata dagangan yang tidak mengenal inefisiensi dalam perdagangan tentu saja ada, salah satunya yaitu benda seni kekayaan budaya dan kerajinan tangan suatu bangsa. Sepanjang pembeli suka, barang jenis ini akan dibelinya walau terkena tariff berkali-kali. Walaupun nilainya kecil para pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergelut di ekspor benda seni dan kerajinan tangan dari Indonesia telah berusaha merambah pasar di Meksiko. Berkembangnya ekspor hasil industri UKM di Indonesia ini tentu akan memberi sumbangan kepada penciptaan lapangan kerja. Karena itu perlu dibantu.


FOTO 16
LUKISAN DI KULIT SAPI DARI CHIAPAS

FOTO 17
KENANGAN DI PASAR KERAJINAN DAN BENDA SENI DI CIUDADELA,
MEXICO CITY

Pemerintah RI yang sedang giat membantu UKM dapat mencontoh Meksiko dalam penanganan soal ini. Pemerintah Ibu kota Mexico DF menyediakan pasar khusus dan subsidi untuk pedagang kerajinan tangan dengan sewa yang sangat murah di Ciudadela, Mexico DF dan Buena Vista. Tempat semacam ini juga banyak dibangun di seluruh negeri itu. Pemerintah Meksiko memang tidak hanya bicara soal UKM, namun langsung menciptakan pasar untuk produk UKM.



---0---


BAB VI
PERINGATAN 50 TAHUN HUBUNGAN DIPLOMATIK
INDONESIA – MEKSIKO (1953 – 2003)

Sejenak melakukan interospeksi, penyematan bintang jasa untuk menghargai seorang warga negara Meksiko Dr.Josue de Bonito Lopez oleh Presiden Soekarno pada tahun 1966 adalah sejarah penting bagi kedua negara. Dr.Josue de Bonito Lopez adalah Penasehat Menteri Perdagangan di bawah Presiden Adolfo Ruiz Cortinez dan juga seorang pengusaha besar Meksiko saat itu. Di buku “Catatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia - Meksiko (1953 – 2003)” yang diterbitkan oleh KBRI Mexico City tahun 2004 diungkapkan bahwa tokoh tersebut telah memungkinkan dimulainya hubungan diplomatik antara kedua negara pada tahun 1953. Dengan bantuan tokoh itu pula maka Kuasa Usaha Tetap RI tahun 1958 – 1960 Bapak Teuku Muhammad Hadi Thayeb/Counsellor, dapat mengusahakan kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Meksiko tahun 1959 yang membuahkan sukses besar bagi diplomasi Indonesia dalam masalah PRRI/PERMESTA dan masalah Irian Barat.

Meksiko yang sebelumnya mendukung pemberontak PRRI/PERMESTA berubah menjadi mendukung NKRI. Dan Meksiko yang sebelumnya abstain dalam masalah Irian Barat berubah menjadi mendukung NKRI pada Sidang Umum PBB tahun 1969. Karena pada waktu itu Meksiko dianggap sebagai pemimpin kelompok negara-negara Amerika Latin maka banyak negara di kawasan itu yang mengikuti jejak Meksiko di PBB dan lembaga internasional lainnya. Saat ini kepemimpinan itu memang sudah tidak tampak lagi. Kepemimpinan itu hanya masih tampak sebatas di negara-negara kawasan Amerika Tengah.

Hubungan diplomatik kedua negara yang secara resmi dimulai pada tanggal 6 April tahun 1953 melalui penandatanganan Joint Declaration Pembukaan Hubungan Diplomatik oleh para wakil kedua negara, pada tahun 2003 yang lalu genap berusia 50 tahun. Sehubungan dengan hal itu, KBRI Mexico City bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Meksiko serta pihak setempat lainnya, telah mengadakan serangkaian kegiatan untuk memperingati 50 tahun Hubungan Diplomatik antara kedua negara.

Peringatan 50 tahun Hubungan Diplomatik kedua negara pada tahun 2003 dimasa jabatan Duta Besar Ahwil Lutan merupakan momentum penting sebagai interospeksi bagi kedua pihak sambil mengingatkan dasar-dasar persahabatan yang pernah dibangun Presiden RI Soekarno dan Presiden Meksiko Mateos Lopez. Presiden Soekarno telah menemukan persamaan latar belakang historis, persamaan aspirasi dan bahkan persamaan prinsip tentang revolusi Indonesia dan Meksiko. Kedua bangsa yang dikatakan pernah mengalami penghisapan dan penindasan dari pihak luar itu kemudian mengadakan perlawanan untuk menumbangkan stelsel penindasan dan exploitation de l’homme por l’homme.

Pada bulan Februari 2003, bekerja sama dengan Honorary Cónsul of the Republic of Indonesia di Monterrey, Dr.Raul Quintero Flores, telah diselenggarakan Malam Kebudayaan Indonesia (Noche Cultural de Indonesia. 50 Anos de Relaciones con Mexico) di Museum Kota Monterrey. Dan pada bulan Juni 2003, bekerjasama dengan lembaga pendidikan Colegio de Mexico, telah diselenggarakan seminar yang dihadiri Bapak Menko Perekonomian RI, DR.Dorodjatun Kuntjoro-jakti, dengan tema meningkatkan hubungan ekonomi bilateral kedua negara.

FOTO 19
ACARA KEBUDAYAAN
MENYAMBUT 5O TAHUN HUBUNGAN DIPLOMATIK KEDUA NEGARA
DI GEDUNG MUSEUM KOTA MONTERREY

FOTO 20
KENANGAN BERSAMA GUBERNUR NUEVO LEON DAN
KONSUL KEHORMATAN RI, DR.RAUL QUINTERO FLORES

Pada tanggal 24 September 2003, bertempat di Teatro de La Danza Instituto Nacional de Bellas Artes di Mexico City, telah diselenggarakan Malam Kebudayaan Indonesia - Meksiko (Noche Cultural Indonesia - Mexico, 50 Años de Relaciones Diplomaticas), dengan menampilkan Kelompok Tari Burat Wangi pimpinan DR.Nyoman Wenten dari Los Angeles, Kelompok Tari Majapahit, yang anggotanya adalah para siswa lulusan beasiswa Dharmasiswa, DEPDIKNAS, serta Kelompok Tarian Tradisional Meksiko dari Compañía Nacional de Danza Folklorica pimpinan Mrs. Nieves Paniagua.

Selanjutnya tanggal 25 September 2003, dengan dihadiri para Duta Besar dari negara-negara sahabat dan pejabat Kementerian Luar Negeri setempat, telah dilangsungkan acara pembukaan Festival Makanan Indonesia di Restaurant O´Mei, Hotel Nikko, di Polanco, Mexico City, yang dimeriahkan juga oleh pertunjukan kesenian daerah Indonesia.

Hubungan kedua negara yang berlangsung sejak tahun 1953 dapat dikatakan tidak pernah mengalami pasang surut. Kedua negara telah menjalani hubungan baik secara konstan tanpa goncangan yang berarti, dengan beberapa periode tertentu nampak sangat erat. Jalinan hubungan pribadi yang erat antara Presiden Soekarno dan Presiden Lopez Mateos telah membuat hubungan baik antara kedua negara mencapai puncaknya. Namun hubungan kedua negara juga pernah mengalami suatu masa dimana politik luar negeri Indonesia ditempatkan pada posisi “right of centre” oleh karena itu tidak sejalan dengan dengan posisi Meksiko yang “left of center”. Hubungan kedua negara kemudian menurun walaupun tidak retak, pada saat persoalan Timor Timur muncul pertama kali di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1975. Dengan berakhirnya perang dingin, pola hubungan kedua negara kemudian berubah dengan titik berat pada kepentingan pembangunan ekonomi dalam membina hubungan bilateral.

Kedua negara terdiri dari berbagai suku bangsa yang tinggal di wilayah yang luas dengan sumber daya alam yang melimpah. Kedua negara adalah negara sedang berkembang yang mengalami nasib sama. Kedua negara pernah mengalami penjajahan oleh bangsa Eropa dan berhasil melepaskan diri dari penjajahan melalui perjuangan yang heroik. Meksiko adalah anggota klub negara kaya OECD sejak tahun 1994 dan Indonesia pernah dijuluki sebagai salah satu “macan ekonomi Asia” karena pertumbuhannya yang cepat pada pertengahan tahun 1990-an, namun kedua negara harus didera krisis ekonomi. Menapak abad ke-21, kedua bangsa juga sama-sama bertekad untuk tumbuh menjadi negara demokratis.

Walau kemudian berubah peranannya karena kemajuan ekonomi negara-negara Amerika Latin, Indonesia memang awalnya memposisikan Meksiko yang strategis sebagai “jembatan” ke negara-negara Amerika Latin. Sebaliknya Meksiko saat ini menilai Indonesia dengan sumber daya penduduknya yang besar yang mayoritasnya beragama Islam dengan keragaman budaya yang ada dan potensi ekonomi yang terbuka dan terbesar di Asia Tenggara, dapat menjadi partner penting bagi Meksiko.

Kedua negara memiliki hubungan yang baik dan dapat bekerjasama di forum dunia. Hubungan baik di bidang politik antara kedua negara telah dapat diwujudkan melalui kerjasama yang erat di fora Internasional. Di bidang ekonomi, kedua negara juga telah bahu membahu dalam berbagai perundingan di PBB, WTO, APEC, G-15, Kelompok-77 dan sebagainya demi memperjuangkan kepentingan negara berkembang menghadapi negara maju.

Para pejabat pemerintahan kedua negara juga saling bertukar pengalaman melalui saling kunjung untuk memecahkan masalah yang dihadapi mereka. Indonesia belajar dari Meksiko dalam hal krisis moneter dan proses pemilihan umum yang transparan. Sedangkan peranan penting Indonesia sebagai pendiri ASEAN menjadi hal yang menarik dipelajari oleh Meksiko dalam hubungannya dengan negara tetangga sekitar.

Ke depan bangsa kedua negara yang letaknya ditakdirkan berjauhan perlu kiranya merenungkan apa yang telah dilakukan dan apa yang perlu dilakukan untuk mengisi hubungan baik tersebut, di bidang politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Tujuannya adalah bagaimana mencapai cita-cita kedua bangsa yaitu memakmurkan rakyatnya melalui kerjasama kedua negara.

Pada kata sambutan di buku “Catatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Meksiko (1953 – 200)3”, yang diterbitkan oleh KBRI Mexico City tahun 2004, Duta Besar RI Ahwil Lutan telah menyinggung masalah hubungan kedua negara dengan suatu pesan kepada kedua pihak untuk menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang perlu dilakukan untuk memberi isi bagi kelangsungan hubungan baik yang ada untuk kepentingan kedua bangsa. Jarak yang jauh kiranya tidak lagi dianggap sebagai hambatan bagi usaha tersebut dengan adanya kemajuan tehnologi dewasa ini dan kerjasama dalam Asia Pacific Economic Conference (APEC). Kedua negara perlu memiliki visi baru bahwa Indonesia tidak jauh dari Meksiko dan Meksiko tidak jauh dari Indonesia, dengan bukti adanya surplus yang selalu dinikmati Indonesia dalam perdagangannya dengan Meksiko.



FOTO 22
MALAM KEBUDAYAAN INDONESIA - MEKSIKO
MENYAMBUT 5O TAHUN HUBUNGAN DIPLOMATIK
DI TEATRO DE LA DANZA, MEXICO DF

Dalam hal ini mantan Menteri Koordinator Perekonomian Prof.Dr.Dorodjatun Kuntjoro-jakti pernah menyampaikan visinya dalam suatu seminar memperkuat hubungan ekonomi bilateral Indonesia – Meksiko pada bulan Juni 2003 di depan mahasiswa dan dosen di El Colegio de Mexico (COLMEX), bahwa sebagai sesama negara yang memiliki kebijakan good neighboring policy, perlu bagi kedua negara membuat semacam roadmap, bagaimana merealisasikan rasa percaya yang telah berlangsung dengan baik selama 50 tahun dalam hubungan kedua negara tanpa goncangan yang berarti, untuk “sesuatu” yang lain bagi hubungan bilateral menyongsong masa depan. Kedua negara nampaknya perlu menyusun konsep bersama untuk menggunakan potensi maritim yang dimiliki kedua negara untuk tujuan sea-lanes communications, fishing ground, aqua-culture, selain untuk transportasi dan turisme, mengingat di abad mendatang peran lautan akan dimanfaatkan oleh umat manusia sebagai sumber makanan dan obat-obatan.


--0—

BAB VII
PROMOSI CITRA DAN BUDAYA INDONESIA

Meningkatkan citra Indonesia di Meksiko melalui Public Relations adalah salah satu misinya. Disadari bahwa hubungan yang lebih dalam antara kedua bangsa dapat didorong dengan saling pemahaman yang mendalam terhadap kebudayaan masing-masing bangsa itu. Dan misi Perwakilan RI harus bisa mendorong bangsa setempat untuk memahami Indonesia secara lebih dalam dengan memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki melalui kegiatan promosi budaya/citra Indonesia.

Namun banyak warga Indonesia di Meksiko sering lupa bahwa target promosi citra/budaya Indonesia oleh Perwakilan RI di Meksiko sesungguhnya ditujukan kepada masyarakat setempat, dan tidak dimaksudkan untuk memuaskan atau menghibur warga Indonesia sendiri. Beberapa kali hal ini menimbulkan salah paham, mengapa hanya tarian Bali yang ditampilkan. Padahal tidak dimaksudkan begitu. Bagi masyarakat setempat mereka hanya mengenal kebudayaan Indonesia, dari manapun asalnya. Bangsa Indonesia terdiri lebih dari 300 etnis yang berbeda budaya dan bahasa yang tinggal tersebar di wilayah kepulauan Indonesia. Dan masing-masing budaya dari suatu etnik dapat mewakili kebudayaan Indonesia. Bagi Perwakilan RI tarian dari manapun yang siap diundang dan siap tampil bagus mewakili Indonesia akan diberi peluang.

FOTO 23
PROMOSI MAKANAN INDONESIA
SETIAP HARI JUM’AT OLEH DHARMA WANITA

Untuk mendukung kegiatan promosi budaya/citra Indonesia KBRI Mexico City telah memberdayakan masyarakat setempat, terutama para lulusan program beasiswa Dharmasiswa, Depdiknas. Kegitan promosi kebudayaan juga dilakukan melalui Casa de la Cultura LOKA BUDAYA yang dibentuk dengan Surat Keputusan Duta Besar RI Nomor : 326/DB/2003, tanggal 5 Mei 2003, yang merupakan bagian dari KBRI Mexico City dan dikelola oleh Fungsi Sosial dan Budaya. Casa de la Cultura Loka Budaya yang berada di dalam kompleks gedung kantor KBRI Mexico City telah dilengkapi dengan koleksi benda seni berupa patung-patung, topeng kayu, miniatur rumah adat, lukisan cat minyak maupun batik, dua perangkat gamelan Jawa dan seperangkat gamelan degung Sunda, angklung, kolintang, gendang Melayu Sumatera dan kostum tari–tarian Indonesia. Selain itu KBRI Mexico City juga memiliki perpustakaan yang cukup baik untuk kegiatan diplomasi publik.

KBRI Mexico City sudah saatnya memiliki fasilitas ruangan tersendiri untuk kegiatan kebudayaan Indonesia di Ibu kota Mexico City untuk menampung minat yang semakin meningkat dari warga setempat yang memiliki apresiasi tinggi terhadap kebudayaan Indonesia. Saat ini fasilitas itu berada di dalam halaman kantor yang terasa semakin sempit. Fasilitas tersebut dapat dikelola oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia atau bentuk apapun yang tujuannya sebagaimana tersebut di atas.

Sudah sejak tahun 1992 kedua pemerintah juga saling melakukan pertukaran pelajar. Sampai tahun 2005 tercatat sudah 26 pelajar Meksiko yang telah mendapatkan beasiswa dari Pemerintah RI.

FOTO 24
SETIAP HUT KEMERDEKAAN RI MURID SEKOLAH
YANG MEMAKAI NAMA REPUBLIK INDONESIA SELALU DIUNDANG

Promosi budaya/citra Indonesia yang dilakukan adalah berupa pameran benda seni karya budaya, pertunjukan tarian daerah Indonesia dan gamelan, kursus bahasa Indonesia, kegiatan kebudayaan lainnya serta bantuan pengajaran kesenian Indonesia kepada Escuela Republica de Indonesia, Tacuba, dan Colegio Republica de Indonesia, Coacalco. Promosi budaya memang ideal bila dapat dilakukan oleh masyarakat setempat.

Escuela Republica de Indonesia adalah sebuah sekolah dasar negeri di Tacuba, Mexico DF. Nama sekolah itu diresmikan pada tahun 1959 oleh Presiden RI Dr.Ir.Soekarno. Sebaliknya Presiden Meksiko Lopez Mateos juga telah meresmikan nama sebuah Sekolah Dasar Republik Meksiko di Kebayoran Baru, Jakarta, pada tahun 1962. Penamaan ini adalah monumen persahabatan antara Presiden kedua negara waktu itu. Sedang Colegio Republica de Indonesia, di Coacalco, Ecatepec, negara bagian Meksiko, didirikan oleh mantan guru Escuela Republica de Indonesia, Isabel Olguin Romo, pada tahun 1979, yang mengagumi perjuangan bangsa Indonesia yang gigih dalam mencapai kemerdekaannya.

FOTO 25 (CHANGE)
KUNJUNGAN ANGGOTA DPR-RI
DI ESCUELA REPUBLICA DE INDONESIA, TACUBA.

Kedua pemimpin itu telah meletakan dasar saling mengenalkan budaya sejak anak-anak antara kedua bangsa. Sekolah-sekolah itu telah mengajarkan murid-muridnya masing-masing nama negara yang menjadi nama sekolah mereka, beberapa patah bahasa dan menyanyikan lagu atau membawakan tarian negara lain yang diajarkan oleh sekolah dimana ia pernah belajar.

Pada saat terjadi bencana tsunami di Aceh, murid sebuah Sekolah Negeri Meksiko dengan nama Escuela Republica de Indonesia di Ixta Palapa datang ke KBRI Mexico City memberi sumbangan berupa uang. Untuk pertama kali KBRI Mexico City mengetahui adanya sekolah tersebut. Ini adalah sekolah ketiga yang dengan bangga menyandang nama Republica de Indonesia. KBRI Mexico City kemudian memperlakukan sekolah negeri tersebut sebagaimana dua sekolah yang lain.

Dalam suatu pemilihan yang demokratis, istri Dubes RI untuk Meksiko secara aklamasi terpilih sebagai ketua Asosiasi pasangan (Istri/Suami) Diplomat Asing di Mexico City periode 2003 - 2004. Selain sangat efektif untuk membina hubungan baik dengan Presiden Vicente Fox dan Ibu Negara Martha Sahagun de Fox, jabatan ini telah mendukung usaha promosi citra/budaya Indonesia dikalangan jetset. Ibu Ahwil Lutan selalu terkenang bagaimana Madame Martha Sahagun de Fox bereaksi kala mendengar musik gamelan sedang dimainkan anak-anak Grupo de Gamelan KBRI Mexico City.”It’s Indonesian music, right!”, demikian komentarnya. Ketika menyaksikan peragaan pakaian tradisional seluruh dunia yang diselenggarakan Asosiasi Pasangan Pejabat Diplomatik di Hotel Marriott, Mexico City, bulan September tahun 2004, Madame Fox pernah menyampaikan keinginan untuk mengunjungi Indonesia, karena begitu terkesan dengan penampilan staff KBRI Mexico City, Dorce Monim, membawakan pakaian tradisional Papua yang hanya separuh badan. Ia agaknya tak pernah membayangkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya sedemikian rupa.

FOTO 26
PERAGAAN BUSANA PAPUA OLEH DORCE MONIM
DIHADIRI OLEH IBU NEGARA MARTA SAHAGUN DE FOX


FOTO 27
IBU NEGARA MARTA SAHAGUN DE FOX BERSAMA DENGAN
ANGGOTA ASOSIASI PASANGAN DIPLOMATIK

Membangun jejaring lokal untuk melakukan promosi citra/budaya Indonesia juga dilakukan. Beberapa lembaga kebudayaan lokal dimana KBRI Mexico City telah memiliki hubungan baik adalah Lembaga Kebudayaan Nasional Mexico (Instituto Nacional de Bellas Artes), Pusat-pusat perbelanjaan/mall seperti Plaza Loreto, Plaza Inbursa, Bioskop lokal Cinemex dan Cineteca, Televisi lokal khusus kebudayaan seperti TV Channel 11, Universitas-universitas negeri maupun swasta, Museum Nacional de Anthropologi, Teatro Angela Peralta, Polanco, Bagian Kebudayaan Pemerintah di negara bagian maupun di Ibukota, serta Kelompok Seni Budaya setempat, serta Konsul Kehormatan RI di Monterrey.

FOTO 28 (belum)
MUSEUM NASIONAL ANTROPOLOGI, MEXICO CITY,
ADALAH TERBESAR DI DUNIA

Selama bulan Agustus tahun 2004 telah diadakan promosi kebudayaan cukup besar untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-59, dengan serangkaian acara pameran produk ekspor Indonesia dan pertunjukan kebudayaan berupa tarian dan pameran benda seni dengan mengundang Grup Tari dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat di Plaza Loreto Mall serta Pekan Filem Karya Garin Nugroho di bisokop Cinemex, Polanco. KBRI Mexico City sama sekali tidak menerima keuntungan dari setiap promosi citra atau pertunjukan budaya. Dan bila ada selalu disumbangkan uutuk amal seperti kepada Escuela Republica de Indonesia, Tacuba.

Namun demikian perlu diakui bahwa langkah promosi Indonesia di negara itu masih kurang greget. Negara tetangga Thailand cukup dikenal dengan promosi melalui filem, Thai Boxing dan makanan. Ongbak adalah filem jenis silat dari Thailand yang telah diputar di bioskop setempat dan cukup digemari oleh banyak penonton. Dan dengan dukungan Pemerintahnya, Thailand melakukan promosi kebudayaan melalui makanan dengan pendirian beberapa restaurant di Mexico City.

Suatu acara besar promosi kebudayaan juga diselenggarakan pada bulan Agustus – September 2005 di bawah tema Gracias Mexico por tu apoyo al tsunami en Indonesia untuk menunjukan kepada rakyat Mexico bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tahu berterima kasih. Filem Arisan, Eliana-Eliana, Petualangan Sherina dan Filem seri anak-anak Pustaka Nusantara telah didatangkan untuk memeriahkan Festival Filem ASEAN di Bioskop Cineteca, Festival Filem Indonesia di Bioskop Cinemex dan Festival Filem Anak-anak La Matatena di Mexico City sepanjang bulan Agustus 2005. KBRI Mexico City juga mendatangkan Grup Kesenian Bharata Muni dari Bali, pimpinan DR.I Nyoman Wenten, seorang pengajar di CALARTS (California Institute of Arts), Los Angeles, terdiri dari 44 penari dan pemusik gamelan untuk melakukan pertunjukan di Gedung Teatro de la Ciudad, Teatro de la Danza - Instituto Nacional de Bellas Artes, Mexico DF, Teatro Morelos, Toluca, dan ikut serta pada Pekan Tari dan Musik Tradisional di San Luis Potosi, pada awal Oktober 2005. DR. I Nyoman Wenten memang cukup dikenal di Meksiko dan sudah sejak tahun 1972 melakukan pertunjukan di negara itu pada Festival Kebudayaan Cervantino.

Suatu hal yang patut menjadi perhatian Pemerintah RI adalah ratifikasi Persetujuan Kerjasama Pendidikan dan Kebudayaan, yang ditandatangani di Jakarta, pada bulan Mei 2004, oleh Menteri Luar Negeri kedua negara. Pemerintah Meksiko telah meratifikasi Persetujuan tersebut pada tanggal 3 Desember 2002 dan menunggu ratifikasi pihak Indonesia untuk berlakunya. Pemberlakuan Persetujuan tersebut sesungguhnya akan memperkuat hubungan bilateral melalui pertukaran budaya dan pelajar yang sudah berlangsung antara kedua negara sejak tahun 1992.

FOTO 29
GAMELAN JAWA DI CASA DE LA CULTURA

Pada gilirannya semua usaha ini akan memberi pengaruh dalam usaha mengembangkan hubungan politik dan ekonomi bilateral.


---0---
BAB VIII
KANTOR, WISMA DUTA DAN MOBIL DIPLOMATIK
ADALAH REPRESENTASI NEGARA

Gedung kantor KBRI Mexico City dibangun pada tahun 1942 oleh Arsitek I.C.Lanousse. Bangunan itu telah menjadi milik negara RI sejak 9 Juli 1980. Kantor yang terletak di daerah elit hunian orang kaya di Jalan Julio Verne no.27, Polanco, itu sebelumnya adalah kompleks perumahan tentara. “Sebagaimana Jalan Jawa atau Jalan Sumatera di Bandung”, kenang Duta Besar Ahwil Lutan. Ingatannya lalu menerawang jauh tatkala ia masih murid Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di kota Bandung. Harga tanah per meter di Polanco kini sudah sangat mahal untuk ukuran warga setempat. Saat ini harga per meter di daerah Polanco sudah mencapai US $2.000,-.

FOTO 30
GEDUNG KANTOR KBRI MEXICO CITY

Menyadari bahwa kantor perwakilan dan rumah Duta Besar tidak boleh nampak kumuh maka perawatan berupa pengecatan dan pembersihan menjadi prioritas saat ia menjadi Duta Besar. Baginya kantor, Wisma Duta dan mobil diplomatik adalah representasi Negara RI karena itu penampilannya harus dijaga dengan baik. Ia nampaknya masih ingat pesan Menlu Hassan Wirajudha :”Jadikanlah Kedutaan Besar masing-masing sebagai etalase Republik Indonesia di luar negeri dimana saja pun anda berada. Jangan sampai Kedutaan Besar seperti kandang ayam, gersang dan tidak ada keindahan dan penghijauan yang membuat sejuk penghuninya”.

Ia berusaha keras sehingga mobil Cadillac BW-01 yang dibeli sejak tahun 1997 di masa Duta Besar Usman Hassan dapat diganti dengan mobil Cadillac tahun 2004 yang baru. Pilihan mengambil kembali merek Cadillac ternyata juga dari “mata hati seorang reserse”. Dikatakannya bahwa dengan membeli mobil Cadillac yang juga menjadi mobil dinas Presiden Amerika Serikat, maka onderdil dan pemeliharannya akan lebih mudah dan murah di dapat karena dekat dengan negara yang memproduksi dari pada memiliki mobil buatan Eropa seperti Mercedez Benz atau Volvo yang selalu menjadi pilihan oleh hampir seluruh Perwakilan RI di luar negeri.

Prinsip efektif dan efisien selalu menjadi pertimbangannya saat memutuskan pembelian suatu barang milik negara. Seperti saat memesan peralatan kamera CCTV untuk keperluan perwakilan, ia memilih membeli dari New York dengan merek yang sama tapi bisa memperoleh dua set termasuk biaya kirim dari pada membeli di Meksiko yang hanya akan memperoleh satu set.

Baginya, barang-barang inventaris milik negara di kantor dan di Wisma Duta, termasuk benda seni, perlu dicatat dan dipelihara agar tidak terbawa atau dibawa sewaktu para home staff pulang kembali ke tanah air. Sangat berdosa bila ada barang inventaris milik negara yang sengaja diambil untuk dibawa pulang ke Indonesia, demikian pernah dikatakan. Ia kesal setelah mendapat laporan bahwa banyak barang-barang seni budaya milik negara pada masa sebelumnya yang telah dijadikan souvenir sehingga jumlahnya menyusut.

Sebaliknya ia sengaja membawa banyak souvenir dari Indonesia dan menyumbangkan benda seni budaya untuk dijadikan bahan promosi citra/budaya Indonesia. Dari Kepala Polisi Wilayah Surakarta ia memperoleh seperangkat gamelan Jawa. Dari Kepala Polisi Daerah Jawa Barat ia memperoleh seperangkat gamelan Degung Sunda. Dari Gubernur Jawa Barat ia memperoleh 50 buah boneka wayang golek. Dan dari Kepala Polisi Daerah Sulawesi Utara ia memperoleh sumbangan seperangkat peralatan musik Kolintang. Semuanya ditempatkan di Casa de la Cultura Loka Budaya. Selain itu ia juga menghibahkan sedan Toyota Camry tahun 2005 untuk keperluan kendaraan dinas dan dua perangkat metal detektor yang dipasang di pintu sebelum masuk halaman kantor dan Wisma Duta untuk menjaga keamanan kantor dan Wisma Duta serta peralatan makan malam atau dinner set untuk 24 orang dengan gambar logo garuda bertuliskan Indonesian Embassy. Dua set angklung juga disumbangkan masing-masing kepada Escuela Republica de Indonesia, di Tacuba, dan Colegio Republica de Indonesia, Coacalco.

Wisma Duta adalah rumah rakyat Indonesia, demikian selalu dikemukakan tatkala menyambut tamu-tamunya dari Indonesia. Wisma Duta telah menjadi milik negara RI sejak 25 Februari 1984 pada masa Duta Besar RI Bapak Husni Thamrin Pane. Bangunan itu dibeli Pemerintah RI dalam keadaan baru. Terbetik cerita pada waktu itu bahwa seorang isteri pengusaha kaya Meksiko tidak bersedia menempati bangunan baru yang megah yang selesai dibangun oleh suaminya itu. Tidak jelas apa sebabnya.

FOTO 31
DUTA BESAR RI SELURUH BENUA AMERIKA
DI FESTIVAL INDONESIA, PLAZA LORETO MALL,
MEXICO CITY, AGUSTUS 2004

Banyak tamu dinas yang diperkenankan menginap di Wisma Duta karena jalan pikiran seperti tadi. Kamarnya juga cukup banyak dengan ukuran ruang yang cukup besar. Pejabat Tinggi negara yang bersedia untuk bermalam di Wisma Duta tercatat Menko Perekonomian Dr.Dorodjatun Kuncoro-Jakti, Menteri Kelautan Bapak Dr.Rokhmin Dahuri dan rombongan, Kepala Polisi RI Jenderal Da’i Bachtiar, Sekretaris Menko Perekonomian Bapak Widjanarko, Duta Besar RI untuk Austria Bapak Samodera, dan Duta Besar RI untuk Cuba Bapak Indrajaya. Ketika Rapat Koordinasi Kepala Perwakilan RI untuk wilayah Amerika berlangsung di Mexico City, pada bulan Agustus 2004, seluruh tamu dijamu untuk santap makan malam di Wisma Duta yang merupakan salah satu kekayaan milik negara RI yang besar di benua Amerika.

Namun Wisma Duta juga menerima tamu biasa. Beberapa kali rombongan penari dari Indonesia yang melakukan pertunjukan di Meksiko tinggal di Wisma Duta. Bahkan sebuah grup turis dari Indonesia yang beberapa kebetulan dikenalnya disambut dengan makan malam dan grup musik mariachi di Wisma Duta.



FOTO 32
BERSAMA KAPOLRI JENDERAL POLISI DA’I BACHTIAR
DI WISMA DUTA

Tak lupa adalah kebiasaan memberikan kenang-kenangan atau cindera mata kepada setiap tamu yang mengunjungi Wisma Duta. Untuk pria selalu diberikan topi sombrero dari perak ukuran mini yang diserahkan sambil berseloroh dapat menjadi besar bila disiram air panas setiba di Jakarta, dan gelang perak asli Meksiko bagi tamu wanita. Ia juga membawa banyak cindera mata berupa kaos dan kerajinan tangan serta gelas dan piring dengan logo garuda dengan tulisan Embajada de Indonesia en Mexico City sebelum berangkat ke Meksiko. Hal ini seperti tak bermakna, padahal akan memberi kenangan bagi si penerima entah siapapun, mulai dari seorang Menteri atau penari dari Indonesia hingga penjaga malam. Jalan pikirannya begitu sederhana, apa salahnya menjalin hubungan baik dengan setiap orang melalui cindera mata, demikian selalu dipesankan kepada para staff. Tanpa sadar hal ini memang akan menciptakan jejaring di masa depan.

Ia juga pernah mengusulkan kepada pimpinan Departemen Luar Negeri untuk membeli rumah di sebelah kantor di Polanco saat pemiliknya yang adalah Gubernur Bank Sentral Meksiko ingin menjualnya dengan harga USD 800.000,-. Pemikirannya yang jauh ke depan membayangkan gedung dan halamannya itu dapat dipergunakan untuk pusat kegiatan kebudayaan sehingga demi keamanan tidak perlu lagi mereka yang bukan pegawai keluar masuk ke halaman gedung kantor.

Sebelumnya, pemerintah setempat pada tahun 1980-an pernah meminta sumbangan berupa patung Dr.Ir.Soekarno untuk dipasang di jalan utama Avenida Reforma yang membelah Ibu kota Mexico City dari barat ke timur. Namun permintaan tersebut tidak pernah dipenuhi. Di tempat dimana akan dipasang tokoh Soekarno itu kini berdiri patung tokoh Gerakan Non Blok, Joseph Broz Tito. Pihak Universitas PBB di Costa Rica pada tahun 2003 juga pernah mengajukan permintaan agar Pemerintah RI dapat menyumbangkan patung Dr.Ir.Soekarno untuk dapat dipasang di halaman Universitas tersebut. Permintaan itu hingga kini juga tidak dipenuhi. Untuk beberapa hal, pemerintah pusat memang tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Perwakilan RI.

Pada tahun 2004 Pemerintah Federal Meksiko telah mengulang permintaan sumbangan sebuah patung yang mewakili kebudayaan Indonesia untuk dipasang di titik pertama di jalan raya dari Bandara Internasional Mexico yang menuju ke pusat kota. KBRI Mexico City telah mengusahakan sendiri untuk dapat mendirikan sebuah patung Asmat, Papua, yang mewakili kebudayaan Indonesia.

Disadari bahwa kelanjutan mesin organisasi Perwakilan RI memang tergantung dari kecerdasan dan keterampilan staff lokal yang tinggal lebih lama. Kecuali bahasa setempat dan jaringan yang dimiliki, mereka tahu benar cita rasa budaya setempat dan secara kreatif dapat mendalaminya. Ini akan berguna bagi staff diplomatik yang nantinya akan mempekerjakan mereka. Karena mereka memang diangkat oleh staff diplomatik untuk membantu jalannya mesin organisasi Perwakilan RI secara berkelanjutan. Duta Besar Ahwil Lutan sendiri mengakui bahwa lokal staf adalah orang yang mengetahui banyak hal dan dapat berbahasa setempat karena mereka tinggal lebih lama dari home staff, dan karena itu mereka memiliki jejaring cukup luas di negara setempat. Namun akan menjadi persoalan kalau kemudian mereka merasa seolah-olah menjadi “pemilik” kantor perwakilan itu sendiri. Apalagi ada kecenderungan tidak mau merubah kebiasaan lama dengan pola atau peraturan baru yang diinginkan pemerintah pusat. Atau bahkan tidak bersedia dipensiunkan ketika masanya tiba.

Jumlah staff yang bekerja pada Perwakilan RI di Mexico sebenarnya lebih dari cukup. Beberapa bahkan masih bekerja sebegai staff honorer walau telah melampaui usia pensiun. Sampai saat ini sangat sulit mengatasi hal ini, mengingat faktor kemanusiaan yang selalu dikedepankan. Dengan adanya restrukturisasi perwakilan jumlah mereka akan menjadi 12 orang klerikal, ditambah beberapa pegawai non-klerikal dan honorer.

Selain kewajiban yang dibebankan melalui kontrak kerja yang ditandatangani antara pegawai lokal dan Perwakilan kepada mereka diberi hak-hak sesuai ketentuan yang berlaku dari pusat. Di Perwakilan RI di Meksiko sesuai ketentuan setempat mereka juga diberi tunjangan gaji ke-13 setiap akhir tahun (aguinaldo) dan tunjangan jaminan sosial setempat (IMSS). Tunjangan asuransi kecelakaan sesuai ketentuan pusat mulai diberikan pada tahun anggaran 2005. Khusus kepada staff lokal WNI diberlakukan potongan jaminan sosial internal (provident fund) sebesar 10% dari gaji sesuai peraturan pusat yang dimaksudkan akan diberikan bila yang bersangkutan berhenti bekerja dan kembali ke Indonesia. Kepada pegawai lokal setempat Perwakilan RI di Meksiko memberikan kursus bahasa Indonesia.

Restrukturisasi Perwakilan RI di seluruh dunia sebetulnya akan menciptakan organisasi perwakilan yang canggih. Restrukturisasi Perwakilan memang berarti perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik karena tuntutan di tingkat nasional. Restrukturisasi Perwakilan juga memungkinkan berlangsungnya transparansi penggunaan anggaran karena adanya check and balance. Restrukturisasi Perwakilan benar-benar akan dapat mengubah wajah Perwakilan RI. Setiap Pejabat Diplomatik dan Konsuler kini juga harus menguasai masalah perbendaharaan dan tata kerumahtanggaan perwakilan yang meliputi administrasi keuangan, kepegawaian, perlengkapan, kebersihan dan sebagainya. Apabila dilaksanakan dengan baik maka akan tercapai good governance di Perwakilan RI.

Dengan restrukturisasi seluruh Perwakilan RI yang menjadi bagian dari perubahan di Departemen Luar Negeri maka paradigma lama akan berubah sehingga semua Perwakilan RI dianggap penting dan perlunya pelaksanaan diplomasi yang seimbang antara diplomasi bilateral, diplomasi regional dan diplomasi global.

Diakui atau tidak, sendi terlemah manajemen di perwakilan adalah pada saat terjadinya mutasi pejabat diplomatik. Mereka yang tidak bertanggungjawab akan berusaha mengurangi sendiri uraian tugas berdasarkan kontrak/aturan yang ada, atau tidak melaporkan sesuatu yang benar kepada pejabat baru. Dapat terjadi pencatatan memang tidak ada. Tapi dapat juga terjadi pencatatan yang ada dimusnahkan, atau pencatatan yang ada tidak dilaporkan untuk ditindaklanjuti pejabat baru. Segala suatu kemudian harus dimulai lagi dari nol. Mulai dari soal kebersihan kantor, perawatan barang inventaris hingga jejaring yang pernah dibangun oleh pejabat lama.

Untuk mencapai visi dan misi yang untuk masa depan akan semakin dipertajam, termasuk meningkatkan pelayanan publik maka perlu adanya peningkatan kualitas, peremajaan melalui perekruitan yang sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku serta rotasi staf lokal yang ada secara reguler. Rotasi akan memberikan penyegaran, perluasan wawasan dan peningkatan kemampuan pegawai lokal, namun perlu dilakukan dengan memperhatikan kompetensi yang bersangkutan. Selain itu memang harus terus dilakukan pengawasan kepada mereka dalam penyelenggaraan tugas, terutama dalam pelayanan publik.

Sampai saat ini di Perwakilan RI Meksiko memang terdapat permasalahan kepegawaian yang tidak pernah dapat diselesaikan, terutama menyangkut masalah hukum perburuhan. Pegawai setempat warga negara Mexico tentu saja harus tunduk pada hukum negaranya dan karena bekerja pada kantor perwakilan Indonesia mereka harus menundukan diri pada hukum perburuhan Indonesia tertentu. Persoalannya adalah seringkali tidak ada kecocokan antara dua sistim hukum tersebut. Staff warga setempat yang bekerja pada perwakilan asing juga dikenakan pajak pribadi oleh negaranya sendiri dan kewajiban melaporkan diri kepada Kongres sesuai konstitusinya. Hal ini artinya perlu perlakuan yang berbeda terhadap staf warga setempat dan staf warga Indonesia. Namun bila perwakilan menerapkan peraturan yang berbeda kepada kedua kelompok staf tersebut maka akan menciptakan diskriminasi. Yang pasti otoritas setempat tidak akan pernah bisa menerapkan peraturan mereka terhadap urusan internal suatu perwakilan asing yang memiliki imunitas diplomatik sesuai Konvensi Wina 1961.

Saat ini beberapa kali terjadi kasus tuntutan hukum dari lokal staff kepada Perwakilan RI di beberapa negara berujung pada kekalahan di pihak Perwakilan. Hal ini dapat terjadi berakar dari pembuatan kontrak kerja yang tidak dibuat secara benar. Agaknya mulai dipikirkan perlunya pembuatan kontrak kerja dengan menggunakan jasa pengacara lokal karena sudah dapat diperkirakan masalah-masalah ini akan terus terjadi berulang di masa datang. Yang perlu diingat adalah kantor Perwakilan sebagai bagian dari suatu negara berdaulat merupakan subjek hukum yang dapat digugat. Dan peraturan yang dikeluarkan oleh Kepala Perwakilan dan Kontrak Kerja antara pegawai lokal dengan Perwakilan vis a vis Hukum Perburuhan setempat perlu diposisikan sebagai “lex specialis derogat lex generalis”.

Menangani soal kepegawaian memang pekerjaan paling rumit karena menyangkut manusia. Namun sangat menarik adalah cerita seru mengenai hantu yang konon ada di kantor maupun Wisma Duta. Suatu ketika Ibu Ahwil Lutan bercerita bahwa sebelum berangkat ke Meksiko ia sudah tahu bahwa di Wisma Duta tinggal ratusan penghuni gelap. Karena itu ia lalu minta bantuan seseorang untuk memotret setiap sudut Wisma Duta dan hasilnya dikirimkan kepada seseorang yang konon bisa melihat dimana penghuni gelap itu berada. Setelah melihat foto-foto “si orang pandai” yang tinggal di Jakarta itu kemudian mengusirnya dan saat ini konon katanya hanya beberapa yang masih tinggal di situ.

Lain lagi cerita dari Pak Benny Pakuningrat, seorang petugas jaga keamanan di kantor yang telah bekerja di KBRI Mexico City sejak tahun 1960. Suatu hari ia pernah terkejut karena tiba-tiba ada “penghuni gelap baru” yang muncul di depan pintu gardu. Dan akhir-akhir ini setiap malam Jum’at kliwon ia juga sering mendengar seperti banyak anak-anak sedang bermain. Konon ia memang mengenal semua penghuni gelap di kantor. Ia lalu bergumam bahwa sejak dilakukan penertiban dan pembersihan ruangan gedung kantor pada tahun 2005 nampaknya semua penghuni gelap disitu kemudian menyebar kemana-kemana. Dari kenalannya seorang para normal ia bahkan memperoleh nama para penghuni gelap tersebut yang ternyata suatu keluarga besar pemilik lama sebelum pemilik terakhir gedung yang akhirnya di beli oleh Pemerintah RI. Wallahu alam. Boleh percaya boleh tidak. Yang jelas tidak pernah ada orang yang mati karena hantu, kecuali di filem “Ghost” yang dibintangi oleh Demi Moore.



--0--BAB IX
KERJASAMA KEDUBES ASEAN DI MEKSIKO :
UNTUK KEPENTINGAN BILATERAL

Ia masih terkenang-kenang saat pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan udara Internasional Benito Juarez setelah 30 jam penerbangan dari Jakarta dengan pesawat Air France dalam perjalanan menunaikan tugas baru di negara Meksiko. Para Duta Besar negara-negara ASEAN di negara itu, yaitu Malaysia, Philipina, Vietnam, dan Thailand menjemputnya dan memperkenalkan diri di VIP Room Bandara, didampingi seorang pejabat dari Protokol Kementerian Luar Negeri setempat. Suasananya menggambarkan betapa akrab hubungan antara negara-negara ASEAN di negara mereka bertugas.

Organisasi Kedutaan Besar negara-negara anggota ASEAN di Meksiko, ASEAN – Mexico/Central America Group (AMCAG), yang bediri sejak 28 April 2002, kini tumbuh semakin kuat. Gabungan beberapa Kedubes ASEAN ini ternyata dapat memperkuat hubungan bilateral masing-masing negara dengan negara setempat dan dapat membuat lebih murah biaya kegiatan terutama kebudayaan dan lebih besar menarik perhatian dari masyarakat setempat serta media masa lokal secara lebih luas.

FOTO 36
ACARA PERPISAHAN DUBES VIETNAM OLEH PARA DUBES ASEAN
DI WISMA DUTA

Organisasi AMCAG melakukan pertemuan berkala pada tingkat Duta Besar untuk mengambil keputusan yang akan menjadi dasar kegiatan organisasi tersebut dan melakukan pertemuan pada tingkat Working Group yang akan melaksanakan keputusan yang diputuskan oleh para Duta Besar. Kepemimpinan AMCAG berganti berganti setiap 6 (enam) bulan sekali dan tempat pertemuan setiap bulan berganti menurut abjad. Apabila seorang Duta Besar salah satu negara ASEAN menjadi Chairman, maka Sekretaris Umum AMCAG adalah anggota Working Group dari Kedutaan Besar negara ASEAN itu. Saat Duta Besar Indonesia Áhwil Lutan memegang kepemimpinan AMCAG untuk periode Juli - Desember 2003, maka Sekretaris Umum AMCAG dijabat oleh Sdr.Hendrar Pramudyo/Minister Counsellor. Demikian berlangsung seterusnya.

Pada saat Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Meksiko, gabungan Kedubes negara-negara ASEAN dapat mengundang pejabat tinggi setempat untuk koordinasi menyambut kedatangan Kepala Negara mereka. Mengundang pejabat tinggi setempat juga dilakukan pada pada beberapa kali pertemuan tingkat Duta Besar ASEAN bila diperlukan untuk menanyakan suatu kebijakan Pemerintah setempat atas sesuatu hal. Sebaliknya sudah beberapa kali para Duta Besar negara-negara ASEAN itu telah diundang oleh beberapa pihak di Meksiko untuk memberikan ceramah maupun acara kebudayaan secara bersama. Saat ini AMCAG semakin dikenal dikalangan diplomatik, akademisi dan business community serta pejabat setempat sebagai organisasi yang solid dan aktif.

Kegiatan yang selalu diselenggarakan secara bersama oleh Kedubes ASEAN di Meksiko sebenarnya telah mulai berlangsung sejak tahun 1979 melalui Bazaar ASEAN. Awalnya memang dari Bazaar yang dilakukan oleh Kedutaan Besar RI dan kemudian diperluas. Hasil dari Bazaar tersebut kemudian diserahkan kepada Rumah Yatim Piatu, Rumah orang Jompo maupun Badan-badan sosial di Meksiko lainnya. Kini Bazaar ASEAN telah dikenal secara luas dikalangan pemburu barang kerajinan tangan dan makanan khas dari Asia Tenggara dan menjadi Bazaar tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Desember. Saat inipun sedang digagas melalui kerjasama dengan sebuah hotel untuk mengadakan suatu ASEAN Food Festival.

FOTO 37
BAZAAR ASEAN 2004

Kerjasama Kedubes negara-negara ASEAN di Meksiko selama ini berjalan cukup baik. Bahkan pembukaan Kedutaan Besar Malaysia di Mexico City juga dilakukan melalui Kedutaan Besar RI. Namun di Meksiko tidak ada ASEAN Committe Mexico karena Meksiko memang bukan negara mitra dialog maupun negara peninjau pada Organisasi ASEAN yang memiliki kantor Sekretariat di Jakarta. Walau demikian Duta Besar negara-negara ASEAN di Meksiko telah menjalin hubungan baik, bahkan dengan Duta Besar negara-negara mitra dialog ASEAN dan negara-negara peninjau ASEAN lainnya.

Suatu ketika Duta Besar Ahwil Lutan pernah mengundang Duta Besar negara-negara ASEAN di Meksiko + 3 (China, Jepang, Korea Selatan) dan Duta Besar Korea Utara di Wisma Duta untuk acara makan malam. Oleh Duta Besar Ahwil Lutan, sahabatnya yang dari Korea Selatan dan dari Korea Utara itu dengan sengaja didudukan berdampingan. Tidak menyangka mereka ternyata menjadi akrab dan saling menyatakan sebetulnya kedua bangsa itu bersaudara namun telah dipisahkan oleh politik. Di acara tersebut sahabatnya dari Korea Utara mengungkapkan perasaannya bahwa sebetulnya negaranya bersedia berunding dengan Korea Selatan tanpa melibatkan negara ketiga, yaitu AS. Ini memang politik makan malam tingkat tinggi.

FOTO 38
DI EXPO MUNDIAL TURISMO, BANAMEX CONVENTION CENTER, 2003

AMCAG secara bersama pernah ikut serta pada Expo Mundial Turismo, suatu pameran pariwisata terbesar di benua Amerika yang diselenggarakan oleh Messe Frankfurt, yang berlangsung di Banamex Convention Center, Mexico City, pada tanggal 24 – 27 September 2003. Duta Besar negara-negara ASEAN juga pernah melakukan ceramah mengenai ASEAN dan eksibisi benda seni budaya Asia Tenggara di Tlaxcala pada bulan Juni tahun 2004, dan melakukan perjalanan bersama dengan bus atas undangan Gubernur Tabasco pada bulan Maret 2005. Suatu kegiatan promosi budaya negara-negara ASEAN dilakukan pada bulan Juli 2005 di Toluca atas undangan pemerintah negara bagian setempat dan suatu Festival Filem ASEAN juga dilangsungkan pada bulan Agustus 2005 menyambut Ulang Tahun ASEAN bekerjasama dengan Bioskop CINETECA. Kegiatan bersama seperti itu juga pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya bekerjasama dengan pemerintah negara bagian, lembaga pendidikan maupun lembaga kebudayaan setempat.

Bekerjasama dengan BANCOMEXT, Kedubes negara-negara ASEAN akan menyelenggarakan suatu Seminar Perdagangan ASEAN - Meksiko pada 4 Oktober 2005. Duta Besar Malaysia untuk Mexico, Halim bin Abdul Halim, yang menjadi organizer Seminar tersebut kembali mengungkapkan bahwa masing-masing negara ASEAN secara induvidual akan lemah bila berhadapan dengan pemerintah dan pihak setempat. Tapi aktifitas yang dilakukan secara gabungan akan diperhitungkan oleh mereka.

Total penduduk negara-negara ASEAN yang hampir mencapai 600 juta merupakan pasar yang cukup besar untuk menarik perhatian para pengusaha Meksiko. Selama periode 1998 – 2003 total perdagangan negara-negara ASEAN - Meksiko tumbuh 121% dari USD 3.041 juta menjadi USD 6.710 juta. Pada periode yang sama, angka total ekspor Meksiko ke negara-negara ASEAN menurun 54% dari USD 602 juta menjadi USD 274 juta, sedang impor Meksiko dari negara-negara ASEAN tumbuh 164% dari USD 2.439 juta menjadi USD 6.436 juta. Dengan demikian defisit perdagangan Meksiko dengan negara-negara ASEAN melonjak 164% dari USD 2.439 juta menjadi USD 6.436 juta. Hal ini memang harus diatasi secara bersama agar tidak memicu pembalasan perdagangan misalnya berupa tuduhan dumping atau safeguard dari Meksiko.

Kerja sama antara Kedubes negara-negara ASEAN di Meksiko merupakan cermin dari kerjasama negara-negara ASEAN pada umumnya. Pada tahun 1995 Pemerintah Meksiko pernah menyampaikan keinginannya untuk menjadi observer pada organisasi ASEAN namun belum mendapat jawaban hingga kini. Negeri ini sebenarnya juga belajar dari Indonesia sebagai salah satu negara pendiri ASEAN dalam hubungannya dengan negara tetangga disekitar.

FOTO 39
PENUTUPAN SEMINAR ASEAN OLEH MENLU MEKSIKO,
LUIS ERNESTO DERBES

Menteri Luar Negeri Meksiko Luis Ernesto Derbes dalam acara penutupan seminar ASEAN Regional Cooperation in the Context of the New Global Scenario pada tanggal 1 Oktober 2003 di Institut Mathias Romero, Kementerian Luar Negeri, setempat juga pernah menyampaikan pengakuannya bahwa organisasi ASEAN telah tumbuh terkonsolidasi dengan baik dan dapat menjadi partner penting dalam bidang komersial dengan Meksiko. Menlu Derbes juga memuji keberhasilan ASEAN secara bersama dalam mengatasi masalah penyakit Flu Burung yang melanda negara-negara Asia Tenggara beberapa waktu yang lalu.


---0---

BAB X
MENGGALANG DUKUNGAN DEMI KOMITMEN PADA TUGAS

Setiap kali rapat home staff yang diadakan seminggu sekali, selalu diingatkan kepada staff akan pentingnya laporan hasil rapat maupun laporan rutin dan laporan tertutup untuk Departemen Luar Negeri agar dapat dilakukan secara cepat dan tepat waktu. Rapat staff selalu diwarnai interupsi dan cerita mengenai hal-hal yang kadangkala di luar konteks. Namun dengan sabar dan tekun semuanya didengar sampai selesai untuk kemudian meneruskan maksud rapat semula. Demokrasi yang kebablasan alias berbeda pendapat yang non-substantif bukan barang tabu baginya. Selalu diucapkan bahwa ia perlu masukan dan ingin diingatkan dalam hal ada kesalahan sebelum mengambil setiap keputusan karena menyadari ketidak-sempurnaannya sebagai manusia.

Memberi pujian atas hasil karya seorang staff di depan umum selalu dilakukan sebagai bentuk pengakuan prestasi kepada staff yang bersangkutan. Demikian juga memberi sertifikat sebagai pengakuan, misalnya atas keterlibatan sebuah group kesenian pada kegiatan kebudayaan yang diselenggarakan Perwakilan RI. Memberi cindera mata sebuah kaos bertuliskan Embajada de Indonesia kepada seluruh staff maupun kenalan orang Meksiko sebagai tanda kenang-kenangan adalah hal yang jamak dilakukannya.

Salah satu faktor kepemimpinan adalah pentingnya pembinaan kepada anak buah. Demikian kerap dikatakan. Dengan staff yang handal secara merata maka diharapkan dapat dicegah suatu kesalahan yang dilakukan secara tidak perlu. Masing-masing staff harus “well-informed” mengenai suatu hal. Pemeriksaan atau kontrol efektif adalah sesuatu hal yang dilakukannya setiap saat agar kelalaian dapat dihindari. Semenjak menjadi Duta Besar cara pengambilan keputusan juga selalu dilakukan melalui rapat staff untuk mencegah kesalahan. Kata kuncinya adalah planning, organizing, actuating and controlling.

Sejak datang sebenarnya kotak-kotak bidang pekerjaan di perwakilan tidak begitu disukai mengingat jumlah staff yang sedikit. Setiap kali diucapkan bahwa semua staff pada akhirnya akan menjadi pimpinan dimanapun yang harus mengetahui semua bidang pekerjaan. Dengan staff terbatas yang ada pada suatu saat semuanya dikerahkan untuk menghadapi satu program kerja agar seluruh staff mendalami bidang pekerjaan lain melalui learning by activities. Di bawah kepemimpinannya tugas piket bersama home staff dan local staff dianggap perlu dilakukan bergantian untuk setiap hari libur agar kantor tidak kosong sehingga bisa dihubungi bila ada telpon dari Jakarta atau dari pejabat publik setempat.

Hal demikian juga dilakukan sebelum ia menjadi Duta Besar. Ahwil Lutan adalah seorang Kepala Rukun Tetangga (RT) di tempat tinggalnya di Jalan Metro, Pondok Indah, Jakarta Selatan, sejak tahun 1980-an sampai akhirnya harus meninggalkan posisi tersebut karena bertugas ke Meksiko. Tetangganya menyatakan merasa aman tentram selama Ahwil Lutan mengabdi sebagai Ketua RT. Tetangganya yang terdiri dari Jenderal, Pengusaha, Duta Besar dan orang biasa benar-benar merasa kehilangan dengan kepergian itu. Ia membeli tanah di Pondok Indah dan kemudian membangunnya sejak berpangkat Mayor. Tidak menyangka kini daerah tersebut menjadi perumahan elit dan mahal.

Baginya, kepemimpinan adalah kombinasi antara arts and science. Demikian halnya menghadapi warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Meksiko. Semua yang tinggal di sekitar Ibukota, mulai yang bekerja di pantai pijat hingga isteri seorang pegawai perusahaan minyak, mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan jauh dari kesan feodal. Fitra Kusumo, Lita Purnama dan Heri Heryati Permadi adalah warga negara Indonesia yang sedang belajar di Meksiko yang memperoleh bantuan dengan cara dipekerjakan sebagai part timer untuk promosi kebudayaan supaya mereka dapat meneruskan sekolahnya. Dengan uang bayaran yang terbatas akhirnya Fitra Kusumo dapat melanjutkan pendidikan tingkat doktor. Lita Purnama dapat melanjutkan tinggal dan akhirnya menyelesaikan kuliah di Fakultas Pariwisata di Universitas Toluca setelah beasiswa yang diterimanya dari Pemerintah Meksiko berhenti. Dan Heri Heryati Permadi dapat meneruskan tinggal dan melakukan penelitiannya untuk memperoleh gelar Doktor di IPN (Instituto Nacional de Politechnic).

Agaknya masih terngiang-ngiang kata-kata Menlu RI Hassan Wirajuda yang pernah menjadi Duta Besar RI di Cairo. Bapak Hassan Wirajuda sebagai Duta Besar RI di Cairo pernah membantu ribuan mahasiswa Indonesia di Mesir untuk tetap kuliah pada saat krisis melanda Indonesia tahun 1997-1998.

FOTO 40
DI DEPAN ANJUNGAN KBRI MEXICO CITY DI PUEBLA FAIR, 2004

Joko Waluyo adalah warga negara Indonesia yang telah tinggal sejak sekitar 20 tahun lalu dan menikah dengan seorang wanita Meksiko. Sebelumnya menetap di Amerika dan memiliki sebuah toko di suatu kota di perbatasan. Ia adalah salah seorang karyawan PT Krakatu Steel yang pernah mengikuti training di Monterrey, sebagai bagian dari pembelian paten dari perusahaan baja Meksiko Hylsa SA de CV. Awalnya ia diundang oleh Duta Besar Barnabas Suebu untuk mendukung usaha KBRI Mexico City untuk mendirikan Indonesian House dengan maksud memajukan ekspor dari Indonesia ke Meksiko untuk menggantikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang ditutup pada tahun 1998 karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Namun karena sesuatu hal inisiatif tersebut tidak berlanjut.

Di bawah Duta Besar Ahwil Lutan kemudian ditetapkan kebijaksanaan bahwa Indonesian House dapat terus berjalan dengan catatan terlepas dari KBRI Mexico City dan berdiri sebagai perusahaan swasta Meksiko. Di Meksiko memang terdapat perorangan setempat atau asing yang memakai nama suatu negara atau wilayah negara lain, seperti Bali Hai Hotel di Acapulco, Motel dan Restauran Bali yang terletak di pinggir jalan ke arah Pachuca, dan sebagainya. Sebagai perbandingan, di Mexico City juga terdapat toko karpet Iran yang tidak ada hubungannya dengan Kedubes Iran, toko buku Gandhi yang tidak ada hubungannya dengan Kedubes India, ratusan Restauran China yang tidak ada hubungannya dengan Kedubes Republik Rakyat China, dan sebagainya.

Walau tidak aktif lagi Indonesian House pernah menjadi salah satu partner untuk mendukung promosi citra/budaya Indonesia di berbagai acara kebudayaan di Ibukota maupun di negara bagian. Walaupun kadang-kadang mengadakan pameran produk ekspor Indonesia di bawah bendera KBRI Mexico City, Indonesian House melakukan transaksi jual beli secara wajar menurut hukum setempat.

Pihak lain yang mendukung kegiatan KBRI Mexico City adalah Grupo de Danza Majapahit dan Grupo de Gamelan Indra Swara, yang penggeraknya terdiri dari para siswa lulusan beasiswa Dharmasiswa, Depdiknas. Tumbuhnya Grupo de Gamelan Indra Swara tak lepas dari sumbangan Duta Besar Ahwil Lutan yang turut memberikan bantuan mendatangkan peralatan gamelan yang mereka beli dari Surakarta. Pada tahun 2005 Grupo Majapahit menurun aktifitasnya karena dua orang pengeraknya yaitu Carolina Melgarejo dan Ilsye Peralta, masing-masing melanjutkan sekolah dan pindah ke Paris karena menikah. Kemudian muncul Group Tari Bali di bawah pimpinan Graciela Lopez yang kembali dari Bern.


FOTO 41
PERTUNJUKAN TARI BALI DI PLAZA LORETO MALL,
SEPTEMBER 2004



FOTO 42
TARI SAMAN OLEH GRUP KESENIAN SUMATRA UTARA,
DI UNIVERSITAS COLIMA

Di bawah kepemimpinannya, management by participation terbukti telah menuai dukungan untuk mewujudkan visi dan misi perwakilan. Namun yang tidak pernah luntur dari kepemimpinannya adalah taktis penuh perhitungan dan ketegasan. Kesalahan tetap kesalahan dan tidak dibolehkan. Beberapakali diungkapkan bahwa menjadi komandan ribuan anggota di kesatuan kepolisian saja bisa dilakukannya. Harapannya adalah kalau hanya memimpin beberapa orang staff di perwakilan RI tentu saja lebih mudah. Kenyataannya memang begitu efektif.

Pengakuan efektifitas dalam kepemimpinannya juga datang dari orang lain. Suatu ketika dua orang pejabat Bank dari Indonesia yang sedang mengikuti Konferensi dalam rangka APEC mengatakan di depan semua staff yang diundang makan malam di Wisma Duta menyambut kedatangannya bahwa sebelum berangkat ia menerima SMS dari seorang kenalannya di kantor Menpolkam yang tahu kalau ia akan ke Meksiko. Sambil menitipkan salam kepada Duta Besar Áhwil Lutan kenalannya itu mengatakan bahwa ia akan ketemu seorang Duta Besar yang efektif.


Dukungan yang membuatnya efektif dalam memimpin KBRI Mexico City memang berasal dari banyak kalangan.



---0---

BAB XI
SUMBANGAN PEMERINTAH DAN RAKYAT MEKSIKO UNTUK TSUNAMI :
MEREKA SUNGGUH MEMBANTU DENGAN HATI

Betapa terkejut perasaan warga Indonesia di Mexico City dengan reaksi dan perhatian yang begitu besar dari pemerintah dan rakyat Mexico saat terjadi musibah gempa dan tsunami di Aceh. Mereka menjadi saksi bagaimana rakyat Meksiko yang mayoritas beragama katolik sungguh-sungguh membantu dengan hati kepada korban gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara akhir tahun 2004. Mereka ternyata masih mengingat bantuan yang pernah diterimanya dari dunia pada saat gempa bumi dahsyat menghancurkan Mexico City tahun 1985.

Kedua bangsa telah dipisah oleh lautan yang begitu luas yaitu Lautan Pacific. Tapi nampak sekali bahwa hati kedua bangsa seolah telah bertaut. Bantuan dalam jumlah besar telah diterima dari pemerintah maupun rakyat Meksiko. Selain dalam wujud uang, kantor KBRI Mexico City hampir kewalahan menampung bantuan berupa obat-obatan maupun makanan dan pakaian yang diantar masyarakat setempat ke kantor KBRI Mexico City. Ada diantara mereka yang mengantarnya dengan air mata.

FOTO 43
SUMBANGAN OBAT-OBATAN DAN MAKANAN
UNTUK KORBAN TSUNAMI DI ACEH HALAMAN KBRI MEXICO CITY

Seorang wartawan kawakan dari sebuah radio FM di kawasan elit Polanco, Radio Imagen, telah “mengeksploitasi” hubungan antara kedua negara yang erat pada masa Presiden RI Soekarno dan Presiden Mexico Lopez Mateos antara tahun 1959 -1963 untuk menarik simpati rakyat Meksiko terhadap bencana tersebut. Ia mengaku salah seorang pengagum Soekarno. Komentarnya telah membuat kedua bangsa yang letaknya berjauhan itu mengenang romantika masa lalu untuk mempertaut kembali hubungan dengan terjadinya tsunami di Indonesia.

FOTO 44
MURID COLEGIO REPUBLICA DE INDONESIA
MENYERAHKAN SUMBANGAN UNTUK ACEH

Tercatat 64 ton barang bantuan berupa pakaian dan makanan ditambah 10 ton obat-obatan saja senilai USD 1,5 juta yang diterima langsung di kantor KBRI Mexico City. Dari USD 1,5 juta tersebut perusahaan obat Astra Xeneca telah memberikan sumbangan obat sakit kulit Xyloderm senilai USD 550.000,- yang diangkut ke Jakarta oleh perusahaan pengangkutan TMM atas biaya sebuah perusahaan TV Oferta berupa 6 buah kontainer masing-masing 40 meter cubic. Dan sisanya USD 1 juta adalah obat-obatan anti biotik yang diterima dari Yayasan Rivera Venegas, perusahaan obat Alfarma dan perusahaan obat Kendrick. Harga taksiran tersebut adalah harga pabrik untuk bantuan kemanusiaan sehingga harga dipasar sudah pasti bisa berlipat –lipat.


FOTO 45
PRESIDEN DAN IBU NEGARA MARTA SAHAGUN DE FOX
SECARA SIMBOLIS MEMASUKAN BARANG BANTUAN
KE KAPAL ANGKATAN LAUT MEKSIKO
YANG AKAN BERANGKAT KE ACEH

Selain dalam wujud barang, KBRI Mexico City juga menerima sumbangan uang sebesar Pesos 6.437.912,94 atau lebih kurang USD 600.000,- di bank account Embajada de Indonesia Damnificados Aceh yang dibuka atas permintaan masyarakat setempat.

KBRI Mexico City telah mengirimkan bantuan uang rakyat Meksiko tersebut kepada BAKORNAS PBP melalui Bank account Departemen Luar Negeri RI sebesar Pesos 190.121,05 dan Pesos 550.000,-. Kepada Perusahaan Pengangkutan Laut APL Ltd sebesar Pesos 6.232,80 dan Douane Pelabuhan Manzanillo sebesar Pesos 3.420,22 untuk pengangkutan sebuah kontainer berisi obat-obatan anti biotik dan makanan kering ke BAKORNAS PBP Medan melalui pelabuhan Belawan. Kepada Yayasan Panti Asuhan Jabal Nur Jadid di Desa Meurendeh, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Acah Barat Daya untuk pembangunan gedung asrama Panti Asuhan untuk menampung anak yatim piatu korban tsunami total sebesar Pesos 873.841,56 atau sekitar USD 83.223,-. Kepada Yayasan tersebut kemudian juga disalurkan dana sekitar USD 45.000,- untuk mengembangkan usaha Beternak Ikan dan usaha Kerajinan Kain Tenun Aceh untuk kelanjutan Yayasan dalam memelihara ratusan anak yatim piatu korban tsunami.

Pada tanggal 3 Juli 2005 Duta Besar RI Ahwil Lutan bersama Duta Besar Meksiko untuk Indonesia Pedro Gonzales Rubio Sanchez telah mengunjungi Desa Meurendeh untuk meresmikan selesainya pembangunan gedung asrama Panti Asuhan tersebut. Dan pada tanggal 12 Juli telah dilakukan kontrak pembelian 20 unit mobil Ambulance senilai Rp.4.000.000.000,- antara KBRI Mexico City dan PT Jana Raya Jakarta, yang disumbangkan untuk rumah sakit di Aceh dan Pulau Nias.

Duta Besar Pedro Gonzales yang mewakili Pemerintah dan rakyat Meksiko tentu saja senang dengan acara peresmian gedung Yayasan tersebut. Ia menyatakan terima kasih dan menilai hal ini sebagai suatu kejadian penting yang mencerminkan persahabatan antara rakyat kedua negara. Dan ia menghargai usaha KBRI Mexico City yang telah mewujudkan bantuan rakyatnya secara kongkrit. Ia juga kemudian turut mengawasi pemanfaatan dana rakyatnya dalam pembuatan hingga penyaluran 20 unit mobil ambulance ke sejumlah rumah sakit di Aceh dan Pulau Nias. Penyerahan resmi ambulance tersebut kepada Pemda Aceh dan Sumatera Utara dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2005 di kantor Dealer Mobil Mitsubishi, Jakarta, dengan disaksikan juga oleh petinggi dari Kemlu Meksiko dan Deplu RI.

FOTO 46
AMBASSADOR PEDRO GONZALES RUBIO DAN DUTA BESAR AHWIL LUTAN MERESMIKAN GEDUNG YAYASAN PANTI ASUHAN JABAL NUR JADID


FOTO 47(1)(2)
MOBIL AMBULANCE DAN
GEDUNG YAYASAN JABAL NUR JADID
UNTUK ACEH
Ada saat-saat yang tak dapat dilupakan warga KBRI Mexico City waktu itu. Ketika kebingungan bagaimana mengangkut bantuan dari rakyat yang diterima langsung tersebut ke Aceh, pihak pemerintah setempat yaitu Director General Protection Civil, Senora Carmen Segura, segera turun tangan memberikan bantuan mengusahakan angkutan barang bantuan yang terkumpul di halaman KBRI Mexico City ke gudang pengumpulan mereka di Av.Insurgentes Sur. “Kami adalah bagian dari anda dalam membantu rakyatmu’, katanya kepada Duta Besar Ahwil Lutan yang menemuinya di kantornya di Jalan Reforma 99. Dan bersama lebih dari 3.000 ton bantuan rakyat negeri itu yang terkumpul di 143 pos-pos bantuan di seluruh negeri bantuan tersebut kemudian diangkut ke pelabuhan untuk dibawa ke Aceh, dengan kapal Amerika HMS Swift, perusahaan angkutan laut Cargo Luxe, perusahaan angkutan laut P&O Nedlloyd serta 3 kapal Angkatan Laut Meksiko, Zapoteco, Utsumacinta dan Papaloapan.

Sumbangan tersebut di atas termasuk dari Komisi Nasional Air dalam bentuk 30 alat-alat penjernih air (potabilizator) dan pengiriman 50 orang tenaga ahli mereka yang tinggal selama 4 bulan di Aceh. Bantuan dari Pemerintah Meksiko tersebut di atas dilakukan setelah 18 anggota Advance Team dari Pemerintah Meksiko yang dipimpin oleh Dr.Roberto Quaas Weppen dari CENAPRED melakukan pengamatan langsung ke Aceh beberapa hari setelah bencana terjadi.

Di bawah sandi operasi “International Fraternity” keberangkatan 2 kapal AL Meksiko tersebut, Zapoteco dan Usumacinta, yang tiba di Indonesia tanggal 27 Februari 2005 tersebut bahkan dilepas secara resmi oleh Presiden Mexico dan Ibu Negara Marta Sahagun de Fox dari pelabuhan Manzanillo. Keberangkatan 2 kapal tersebut kemudian disusul dengan keberangkatan sebuah kapal perang terbesar yang pernah dimiliki oleh AL Meksiko Papaloapan yang tiba di Indonesia tanggal 2 April 2005.

Peristiwa ini mempunyai nilai historik bagi AL Meksiko karena dilakukan di bawah konstitusi yang melarang pengiriman kapal perang keluar wilayah, bahkan untuk operasi di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rakyat Meksiko dapat menyaksikan perjalanan kapal-kapal tersebut yang selama 45 hari mengarungi lautan Pacific melalui siaran langsung dari TV Azteca yang ikut serta. Dalam perjalanan itu seorang awak kapal, Senor Martinez Zallago, telah meninggal dunia karena sakit. Rakyat Meksiko juga menyaksikan gambaran saat-saat kapal-kapal itu mendarat dan pasukan Marinir Meksiko membentuk barisan semut untuk menurunkan barang bantuan di pelabuhan Belawan maupun Banda Aceh.

Banyak cerita dari para awak kapal perang Meksiko yang pulang dari menjalankan misi kemanusiaan ke Aceh. Dikabarkan dua ibu muda warga Aceh yang melahirkan di kapal Rumah Sakit Zapoteco telah memberi nama masing-masing Muhammad Mexico dan Ahmad Mexico untuk anaknya itu.


FOTO 48
PEMBERIAN PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH RI
KEPADA ANGKATAN LAUT MEKSIKO YANG DIWAKILI OLEH
KOMANDAN AL MEXICO WILAYAH VI, KOMANDAN ARMADA PASIFIK, KOMANDAN KAPAL USUMACINTA, KOMANDAN KAPAL PAPALOAPAN, DAN KOMANDAN KAPAL ZAPOTECO,
ATAS NAMA 800 AWAK 3 KAPAL PERANG YANG KEMBALI DARI TUGAS OPERASI KEMANUSIAAN DI ACEH

Seorang awak kapal menitipkan surat kepada staf KBRI Mexico City untuk disampaikan kepada kekasihnya di Aceh. Ia bertemu staff KBRI Mexico City yang menghadiri acara pemberian piagam penghargaan oleh Duta Besar RI atas nama Pemerintah RI kepada 800 awak kapal yang telah kembali menjalankan tugas operasi kemanusiaan di Aceh. Nampaknya ia telah jatuh cinta kepada seorang dara Aceh. Namun karena hubungan komunikasi yang masih rusak keduanya sangat sulit berhubungan langsung melalui telpun. Tsunami telah mentautkan kedua hati dua anak bangsa itu.

Pada umumnya mereka semua menyampaikan rasa senang dan bangga dapat ikut serta dalam operasi kemanusiaan tersebut. “Ini memang perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh armada Angkatan Laut Meksiko”, demikian kata komandan AL Meksiko wilayah VI, Vice Admiral Raul Santos Galvan Villanueva, kepada Duta Besar Ahwil Lutan di acara tersebut. Dalam perjalanan kembali ke negaranya kapal-kapal perang tersebut sempat harus bersembunyi di sebuah teluk di wilayah Philippina bagian utara untuk menghindari ekor taifun Samodera Pacific yang mematikan. Namun semuanya selamat mencapai pangkalan AL Meksiko di Salina Cruz ditempat dimana kemudian diadakan acara resmi pemberian piagam dari Pemerintah RI kepada semua awak kapal tersebut.

FOTO 49
PENGANGKUTAN OBAT-OBATAN DAN MAKANAN
UNTUK TSUNAMI DI ACEH

Patut dicatat suatu hal yang menyentuh perasaan warga Indonesia di Meksiko. Pada acara peluncuran program resmi oleh Presiden Vicente Fox yang dinamakan “Los Mexicanos : Estamos Contigo” (Rakyat Mexico bersamamu) di sebuah Rumah Sakit Umum Meksiko yang dihadiri oleh Duta Besar Ahwil Lutan, Menteri Dalam Negeri Mexico, Dirjen Perlindungan Sipil, Palang Merah, Menteri Pendidikan Umum, Asosiasi Orang Tua Murid, para Guru dan Murid sekolah, dinyatakan bahwa dengan tidak melupakan program pembangunan bagi kepentingan rakyat Meksiko sendiri, rakyat Meksiko harus memberi dukungan bagi proses pembangunan negara-negara yang tertimpa bencana. Pada acara tersebut seluruh pegawai negeri, tentara dan polisi Meksiko dengan sukarela menyatakan bersedia dipotong gajinya oleh Kementerian Dalam Negeri untuk disumbangkan kepada korban tsunami di Indonesia melalui perwakilan PBB. Dari pegawai negeri terkumpul sekitar USD 2,5 juta dan dari Kementerian Pertahanan Nasional terkumpul sekitar USD 500.000,-. Sumbangan tersebut melengkapi sumbangan uang untuk Indonesia sebesar USD 1,1 juta dari Pemerintah Meksiko yang disampaikan melalui perwakilan PBB. Suatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi di Indonesia dimana gaji pegawai negeri dipotong untuk bencana alam di negara lain.

Selain itu banyak lembaga non-pemerintah di Meksiko seperti media massa, Palang Merah Meksiko, Sekolah, Lion Club, Rotary Club, stasiun Televisi, dan gereja-gereja katolik, yang memberikan sumbangan langsung melalui perwakilan PBB di Meksiko untuk disampaikan kepada korban tsunami di Indonesia. Banyak gereja yang mengadakan misa khusus untuk Aceh, termasuk gereja kathedral terbesar di Zocalo, Mexico City. Dari Palang Merah Mexico terkumpul USD 2 juta. Dari Yayasan Azteca terkumpul USD 8 juta melalui acara TV Televisa Ayuda por Asia Otro Rollo yang dimaksudkan untuk membangun 4.000 rumah sederhana di Aceh Utara.

Beberapa warga setempat juga datang menawarkan bantuan tenaga untuk membungkus, dan mengangkat ke truk yang akan membawanya ke gudang pengumpulan. Yang paling giat adalah Grupo de Los Topos yang anggotanya pernah berangkat ke Aceh untuk menyumbangkan tenaga sukarela mencari dan memakamkan mayat. Ada 3 kelompok Los Topos (Si tikus tanah) yang pergi ke Aceh untuk memberikan bantuan kemanusiaan disana, yaitu Grupo Tlatelolco, Grupo Mexico dan Grupo 19 Septiembre. Mereka ke sana ada yang atas biaya sendiri, atau disponsori oleh perusahaan swasta seperti TELMEX, Japan Airlines dan Yayasan Azteca, dan ada pula yang atas biaya Pemerintah Ibu kota Mexico DF.


FOTO 50
KENANGAN LOS TOPOS DI ACEH

Atas nama Pemerintah RI, KBRI Mexico City juga telah menyambut kembalinya Los Topos dari Aceh dengan acara resmi berupa penyerahan piagam penghargaan.

Diantara Los Topos ada yang bercerita bahwa bencana itu bahkan lebih besar dari pada di tempat lain di dunia yang mereka pernah tahu. Mereka memang memiliki pengalaman dalam operasi penyelamatan saat terjadi bencana gempa bumi tahun 1985 di Meksiko, dan bencana alam besar lainnya di dunia. Namun mereka mengakui sangat sulit menyelamatkan korban di Aceh karena tidak hanya mengalami gempa bumi tapi juga gelombang pasang tsunami. Seorang wartawan TV Televisa yang ke Aceh menyampaikan kesaksikan yang menyayat hati bagaimana mayat-mayat tergantung di pohon-pohon dan tiang listrik dan tergeletak dimana-mana diantara reruntuhan bangunan.

FOTO 51
PENYAMBUTAN KAPAL AL MEKSIKO
YANG BARU KEMBALI DARI ACEH DI PELABUHAN SALINA CRUZ

Yang sangat mengesankan mereka adalah dukungan yang diberikan oleh tentara dan polisi Indonesia serta rakyat setempat dalam memperlancar misi mereka disana. Banyak masyarakat setempat yang bertanya-tanya bagaimana mereka bisa sampai di Aceh padahal negerinya sangat jauh. Dan bagaimana kalau terjadi apa-apa di tanah orang yang jauh. “Karena kami mau bantu saudara-saudara kami di sini”, demikian jawaban mereka. Pimpinan mereka seperti Rafael Lopez Lopez, Hector Mendez, dan Roberto Hernandez, adalah nama-nama yang cukup dikenal di kalangan warga Indonesia di Meksiko. Beberapa diantara mereka kini sering terlibat dalam kegiatan di KBRI Mexico City.

Kami memang bangsa yang tahu berterima kasih, demikian harus disimpulkan. Dan inilah kawat ucapan terima kasih dari Presiden RI Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono atas surat dari Presiden Meksiko, Vicente Fox Quesada,

“His Excellency Mr.Vicente Fox Quesada
President of the United Mexican States, Mexico City

Your Excellency,
The Government and the people of the Republic of Indonesia join me in extending to you, to the people of Mexico our profound appreciation for the sympathetic message sent to me over the recent deadly earthquake which had ravaged some islands off the western coast of Sumatera.

Such words of solace will certainly be conveyed to the victims and their respective family members to help them heal the wounds caused by this traumatic experience.

Please accept, in turn, Your Excellency, the assurance of my highest consideration.

Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
President of the Republic of Indonesia”.

Sebuah media masa Indonesia menuliskan bahwa Meksiko yang termasuk negara miskin telah pula memberi sumbangan cukup besar kepada Indonesia untuk Aceh. Ini memang sebuah pengamatan atas negara Meksiko yang tidak seluruhnya benar. Sedang perwakilan PBB di Meksiko menyatakan bahwa Meksiko termasuk negara donor non-tradisional yang telah memberikan bantuan kemanusiaan terbanyak untuk tsunami.

FOTO 52
DUA PEPIMPIN LOS TOPOS MEKSIKO YANG MELAKUKAN KERJA KEMANUSIAAN DI ACEH

Rakyat Indonesia perlu mencatat dalam hati, bahwa rakyat Meksiko memang sungguh-sungguh membantu dengan hati.

---0---

BAB XII
MEKSIKO DARI BEBERAPA SISI :
LA NACION DE CONTRASTES

Sejak awal buku ini telah mencatat bahwa Duta Besar Ahwil Lutan memang nampak sekali ingin belajar apa saja dari negara Meksiko.

Orang di Indonesia yang belum pernah berkunjung ke Meksiko pasti akan membayangkan Meksiko adalah seperti apa yang mereka lihat di Telenovela. Warga kulit Putih seperti bangsa Eropa, dara-dara cantik dan pemuda ganteng, dan rumah gedong dengan penghuni yang kaya raya.

Bayangan sebaliknya adalah gambaran Detikcom 16 Februari 2005. Di bawah judul “Meksiko Kirim Obat ke Aceh”, dituliskan bahwa kendati Meksiko termasuk salah satu negara miskin, namun solidaritas dan kemanusiaan rakyat negeri itu kepada bencana tsunami di Indonesia sangat tinggi.

Gambaran Meksiko seperti di Telenovela maupun di Detikcom sebagaimana di atas itu semuanya benar. Meksiko memang suatu bangsa yang kontras. La Nacion de Contrastes. Mereka yang kaya hidup seperti orang-orang kaya di Amerika atau Eropa. Berangkat dan kembali bekerja dengan helikopter pribadi. Tahun 1968 negeri itu pernah menyelenggarakan Olimpiade dunia. Dan negara itu juga pernah menjadi tempat penyelenggaraan Final Sepak Bola Dunia pada tahun 1970 dan 1986. Namun mereka yang miskin hidup di jalan-jalan dengan meminta-minta mirip dengan kondisi di Jakarta juga banyak ditemui.

Industri dan kemakmuran nampaknya hanya merambah wilayah di negara-negara bagian sebelah utara berbatasan dengan AS. Sebaliknya negara bagian termiskin Chiapas dan Oaxaca yang terletak di bagian selatan negara itu justru kaya raya dengan sumber daya alam.

FOTO 53
WANITA SUKU ASLI INDIAN MAYA DARI CHIAPAS

FOTO 54
SEORANG PETANI DI SAN MIGUEL ALLENDE


Di seluruh wilayah Meksiko, terutama di Chiapas dan Oaxaca, masih dapat dijumpai suku bangsa Indian asli yang wajah maupun tinggi badannya mirip orang Polynesia. Apabila anda mengunjungi Museum Anthropologi di Ibu kota negara bagian Chiapas, Tuxtla Guiterres, akan terdapat gambar dan tulisan bahwa suku asli Indian sebetulnya berasal dari wilayah China bagian selatan yang mengembara ratusan ribu tahun lalu ke arah utara menyeberang Selat Bering dan kemudian bergerak ke arah selatan benua Amerika.

Sama dengan proses tumbuhnya kebudayaan bangsa-bangsa di wilayah lain di dunia, di wilayah Meksiko juga terdapat penguasa-penguasa lokal dari suku-suku sub-etnik yang saling bersaing dan berperang untuk mendominasi satu sama lain. Yang terkuat dan dominan adalah suku bangsa Indian Azteca yang kemudian membentuk sebuah imperium. Itu adalah gambaran sebelum Spanyol menancapkan kuku penjajahan terhadap Meksiko sejak tahun 1519 yang dalam sejarah dunia dikenal dengan sebutan jaman pre-hispanic.

Tahun-tahun di akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16 adalah masa-masa dimana kolonialisme bangsa Eropa mulai merambah ke wilayah bangsa-bangsa lain di dunia. Penemuan benua baru di belahan bumi barat (western hempisphere) yang kemudian dinamakan Amerika dan pembuktian bahwa umat manusia ternyata hidup di bumi yang berbentuk bulat oleh Magellan juga terjadi di jaman itu.

Pada tahun 1519 itu Kerajaan Spanyol mengutus Hernan Cortes, yang saat itu tinggal di West Indies yang sekarang dikenal dengan nama Carribean, untuk memimpin sebuah pelayaran ekspedisi ke arah timur untuk mencari lebih banyak emas. Ia tinggal di Carribean setelah sebelumnya Columbus mendarat untuk pertama kalinya disitu pada tahun 1492. Columbus yang sedang mencari tanah India menyebut penduduk asli yang ditemuinya di situ dengan Los Indios (Indian) karena mengira ia telah mendarat di tanah India. Setelah Amerigo Vespucci membuktikan bahwa daratan itu sebenarnya adalah suatu benua baru maka sebuah surat kabar Jerman kemudian mengabadikan namanya untuk menyebut benua baru itu : America.

Hernan Cortes mula-mula mendarat di semenanjung Yucatan, Meksiko timur, dan bertemu dengan Jeronimo de Aguilar seorang pelaut Spanyol dari tim ekspedisinya yang terdampar disitu sejak 8 tahun sebelumnya karena kapalnya terbawa arus. Tim ekspedisinya yang terdiri dari selusin kapal berisi 600 pelaut dilengkapi persenjataan meriam dan budak-budak belian itu akhirnya tiba di Vera Cruz pada tahun 1519 dengan didampingi Jeronimo Aguliar dan seorang wanita suku Indian Maya yang cerdas bernama Malintzin (Malinche) sebagai penerjemahnya.

Awalnya Hernan Cortez dan tim ekspedisinya memang disambut dengan ramah oleh penduduk asli setempat. Ia bahkan memperoleh hadiah emas dan budak dari penguasa lokal suku Indian. Namun dikemudian hari ia berubah dan mulai mempraktekan cara-cara licik melalui adu domba dan kekerasan untuk merampas emas dan menjajah mereka sebagaimana kolonialis lainnya. Setelah menghadapi perlawanan sengit dari penduduk asli setempat penjajah Spanyol akhirnya dapat menguasai benteng Imperium Azteca di Meksiko Tenochtitlan pada tangal 13 Agustus 1521. Nama wilayah kekuasaan Imperium Azteca yang membentang dari California hingga Costa Rica itu juga sempat diubah menjadi Nueva Espana (Spanyol Baru).


FOTO 55
SALURAN AIR DI MASA KOLONIAL SPANYOL


Filem dokumentasi dan buku mengenai betapa kejamnya ekspedisi Spanyol di bawah pimpinan Hernan Cortez untuk dapat memperoleh emas dan menguasai tanah Meksiko telah dibaca banyak orang. Laporannya kepada Raja Spanyol Carlos King V pada abad 16 lalu berjudul Cartas de Relacion de la Conquista de Mexico dan buku lainnya yang ditulis oleh kapten kapal Bernal Diaz del Castillo berjudul Historia Verdadera de la Conquista de la Nueva Espanyol juga selalu dicetak ulang hingga kini. Catatan sejarah penaklukannya memang penuh noda hitam. Banyak penduduk asli yang dibunuh maupun terbunuh karena penyakit campak yang sengaja disebarkan. Dan banyak wanita penduduk asli diperkosa sehingga melahirkan anak bangsa (los hijos) yang kemudian dikenal dengan meztizo (campuran) yang kini mencapai 80% dari seluruh penduduk negeri itu. Kecuali beberapa suku asli Indian seperti Taraumaras di Chihuahua, Huichol di Jalisco, Nayerit, Duranggo, Tamaulipas dan Sinaloa, Seris y Coras di Sonora dan Sinaloa, Lacandones, Ttzotzil y Zeltal, di Chiapas, Tabasco dan Yucatan, Huaves, Mixteco y Zapoteco di Oaxaca, Nyanyu di Queretaro, saat ini hampir tidak ada anggota suku Indian yang masih asli.

Ia juga memaksa penduduk asli yang telah memiliki “agama” sendiri (polytheis), yang menyembah matahari dan bulan, untuk memeluk agama katolik. Dan banyak gereja di Meksiko yang didirikan di atas reruntuhan candi agama Indian. Kekejaman tersebut sempat diingat terus oleh bangsa Meksiko, sehingga Juan Pablo II perlu meminta maaf kepada bangsa Meksiko atas kejadian masa lalu pada setiap kunjungannya ke negara itu sejak pertama kalinya tahun 1979.

FOTO 56
KENANGAN DUBES AHWIL LUTAN DENGAN WATAPRI NEW YORK
BAPAK REZLAN ISHAR JENIE DI PIRAMID TEOTIHUACAN

Bagaimanapun agama katolik terbukti telah berperan penting dalam transformasi sosial di negeri itu. Sebelum menjadi bangsa katolik, hampir semua suku asli Indian memiliki kepercayaan mengadakan upacara kurban untuk Tuhan mereka. Mereka mempunyai banyak Tuhan (polytheis). Tujuh Tuhan mereka yang penting adalah Ometeotl (Yang Maha Esa dan tidak berbentuk), Ehecatl (angin), Huehueteotl (api), Tonatiuh (matahari), Tlaloc (air), Tletl (batu), Mictlantecuhtli (arwah orang mati). Untuk mengundang hujan pada saat kalender Azteca menunjukan musim hujan telah tiba mereka mengadakan upacara kurban berupa binatang diiringi tarian tradisional di puncak bukit. Untuk membangun candi pemujaan mereka mengorbankan bayi laki-laki. Dan untuk memperoleh panen yang baik mereka mengadakan upacara kurban berupa seorang wanita perawan dari keluarga kaya. Suatu upacara kurban berupa sepasang muda mudi juga dilakukan setiap 52 tahun sekali untuk menghindari hari kiamat karena mereka percaya bahwa setiap periode itu akan terjadi hari kiamat. Agama katolik yang dibawa penjajah Spanyol memang telah menyingkirkan kebiasaan biadab itu.

Saat Hernan Cortes berusaha memperoleh emas di wilayah Meksiko, penguasa lokal saat itu adalah Cuauhtemoc dari suku Indian Azteca atau Kaisar Moctezuma II. Kaisar Moctezuma II kemudian tercatat dalam sejarah negeri itu sebagai Kaisar terakhir, karena ia akhirnya memilih mati disiksa setelah tidak mau memberi informasi dimana ia menyimpan harta berupa emas yang disimpan imperiumnya. Setelah itu dimulailah masa 3 abad penjajahan Spanyol atas Meksiko hingga kemerdekaan negeri itu pada tangal 15 September 1810.

Masa penjajahan telah menciptakan beberapa kelas sosial di negeri itu, dari yang paling atas yaitu mereka yang lahir di Spanyol dari orang tua Spanyol (Espanyol Peninsular), mereka yang lahir di Meksiko dari orang tua Spanyol (Criollos), mereka yang campuran dari penduduk asli Indian dan Spanyol (Meztizo), dan mereka yang penduduk asli suku Indian serta para budak kulit hitam dari Afrika. Hanya kelas atas dari keturunan Espanyol Peninsular yang berhak untuk berkuasa di pemerintahan dan gereja serta memiliki tanah dan budak. Yang lainnya dianggap bangsa kelas dua. Bahkan Meztizo dan penduduk asli serta budak-budak kulit hitam disamakan dengan binatang dan tidak berhak menyandang nama keluarga, memiliki tanah maupun menikmati pendidikan dasar.

Pada saat negara penjajah Spanyol sedang berperang dengan Napoleón, pada malam tanggal 15 September 1810 pahlawan kemerdekaan Meksiko Miguel Hidalgo y Costilla yang lahir di Meksiko dari orang tua Spanyol (Criollos), memulai perjuangan untuk menumpas kekuasaan Spanyol dengan pekik kemerdekaan (Grito de Dolores) :“Death to the Spaniard, long live Our Lady Guadalupe”, di sebuah gereja di Dolores, Guanajuato. Dewi Guadalupe adalah perwujudan Bunda Maria namun berkulit pekat seperti suku bangsa Indian yang dipercaya pernah menampakan diri empat kali di puncak bukit Tepeyac. Masuknya agama katolik melalui pendekatan ras itulah yang kemudian menarik suku asli bangsa Indian untuk memeluk agama itu.

FOTO 57
THE AGUILA
LAMBANG NEGARA MEKSIKO

Sampai tingkat tertentu kekuatan agama katolik telah mendasari semangat kemerdekaan bangsa Meksiko dari penjajah Spanyol dan melindungi penduduk asli suku Indian. Setelah kemerdekaan bangsa itu dari Spanyol kekuatan agama katolik juga telah menjungkirbalikan kelas-kelas sosial yang berlangsung selama 3 abad pada masa penjajahan menjadi kesetaraan sosial.

Walau telah menyatakan merdeka pada tahun 1810 namun pasukan Spanyol terakhir baru meninggalkan Meksiko pada tanggal 27 September 1821 setelah perjuangan heroik cukup panjang dengan pengorbaan jiwa dan tumpahan darah dari rakyat negeri itu untuk mempertahankan kemerdekaan.

FOTO 58
MONUMEN KEMERDEKAAN SAN ANGEL, MEXICO CITY,
DIMANA KEPALA PAHLAWAN KEMERDEKAAN MIGUEL HIDALGO DITANAM

Setelah kemerdekaannya itu pergolakan dan peperangan masih terus melanda negara itu. Pada tahun 1845 Texas menyatakan bergabung dengan Amerika Serikat. Dan pada tahun 1847 negara Meksiko yang masih muda kalah dalam suatu peperangan dengan Amerika Serikat. Akibatnya separuh wilayahnya yang lain di utara, New Mexico, California, dan Arkansas harus diserahkan ke AS dengan ganti rugi 15 juta Pesos. Banyak warga Meksiko yang menyesali kehilangan wilayah tersebut karena terbukti dikemudian hari wilayah tersebut ternyata kaya akan kandungan minyak. Munculnya istilah gringo hingga hari ini adalah untuk mengungkapkan rasa kebencian mereka pada waktu itu kepada tentara AS dibawah pimpinan Jenderal Richard Green untuk pergi dari wilayah mereka (Hey Green, go!).

Rakyat Meksiko juga pernah berperang pada tahun 1862 melawan Perancis di masa Napoleón III yang ingin menancapkan kuku penjajahan. Hanya beberapa tahun Meksiko sempat di perintah oleh seorang Kaisar boneka Perancis bernama Maximiliano yang kemudian ditembak mati pada tahun 1867 oleh Benito Juarez, satu-satunya orang suku asli Indian yang pernah menjadi Presiden Meksiko pada tahun 1858-1863 dan 1867 – 1871. Karena itu setiap tanggal 5 Mei rakyat Meksiko memperingati sehari kemenangannya melawan tentara Perancis di kota Puebla dimana pernah terjadi perang besar tersebut.

FOTO 59
KENANGAN DI ZOCALO, ALUN-ALUN MEXICO CITY

FOTO 60
PASAR KAGET SABTU MINGGU DI CENTRO HISTORICO

Setelah berhasil mempertahankan kemerdekaannya, rakyat negeri itu kemudian masih harus menghadapi revolusi sosial yang terjadi pada tahun 1910 – 1916 untuk melawan kediktatoran Presiden Porfiriato Diaz. Presiden Diaz memang berhasil menyatukan Meksiko, membangun jalan raya sepanjang lebih dari 2.000 kilometer dan menarik investor asing, namun keberhasilan itu telah menciptakan ketimpangan sosial yang lebar. Revolusi itu menghasilkan amandeman konstitusi pada tahun 1917 dimana Presiden Meksiko selanjutnya hanya bisa dipilih untuk masa jabatan 6 tahun dan tidak dapat dipilih kembali. Tokoh revolusioner Emilio Zapata muncul di masa ini. Ide Zapatista kemudian dikenal luas dan mengilhami munculnya teologi pembebasan di seluruh Amerika Latin yang dipelopori oleh Kardinal Chiapas Samuel Ruiz.

Munculnya EZLN (Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional) di Chiapas terjadi pada tanggal 17 Nopember 1983 yang dimaksudkan untuk memperjuangkan nasib suku-suku asli Indian (indigenas), dengan mengibarkan bendera hitam dengan bintang merah dan tulisan EZLN. Perjuangannya itu juga berdasarkan ide-ide Zapatista yang menghendaki pembagian tanah yang merata dan adil dan untuk mencapai suatu penyelenggaraan pemerintahan otonomi oleh suku-suku asli, bukan kemerdekaan wilayah! EZLN memang dibentuk untuk mempertegas tuntutan Comite Clandestino Revolusionario Indigena di bawah pimpinan Comandente Abraham yang memperjuangkan lapangan kerja, pembagian tanah yang adil, pencukupan bahan makanan, perumahan, kesehatan, penddidikan, kebebasan, keadilan, demokrasi, perdamaian, kebudayaan dan hak informasi bagi suku-suku asli.

Sebuah buku mengenai perjuangan mereka berjudul “ EZLN, 20 y 10 El Fuego y La Palabra” tahun 2003 yang ditulis oleh Gloria Munos Ramirez, mengisahkan bahwa awalnya EZLN dibentuk oleh 3 (tiga) kelompok suku asli Indian di Chiapas namun kemudian mereka mengatasnamakan ratusan ribu kelompok suku-suku asli yang ada diseluruh negeri. Dalam buku itu juga diungkap bahwa Sub Comandante Marcos yang muncul tahun 1985 mengaku bahwa ia mempersiapkan diri selama sepuluh tahun sebelum mencetuskan perjuangan bersenjata pada tanggal 1 Januari 1994 bersamaan dengan mulai berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

FOTO 61
SUB-COMMANDANTE MARCOS,
PEMIMPIN GERAKAN PERLAWANAN TENTARA ZAPATISTA DI CHIAPAS

Pada perkembangan terakhir EZLN melalui Deklarasi dari Hutan Lacandona yang ke-6 (Sexta Declaracion de la Selva Lacandona) dalam suatu pernyataan publik pada bulan Juni tahun 2005 menyatakan akan menempuh langkah-langkah baru dalam perjuangan mereka dengan menanggalkan cara-cara kekerasan dan masuk dalam proses politik di negeri itu. Mereka menyatakan akan mengubah format perjuangan mereka menjadi suatu perjuangan untuk rakyat tertindas di seluruh Meksiko dan seluruh dunia untuk menentang neo-liberalisme demi kepentingan kemanusiaan.

Bangsa itu juga pernah mengalami perang saudara pada tahun 1926 karena adanya perlawanan pihak gereja kepada pemerintah yang menjalankan paham pemisahan antara negara dan agama. Salah satu hal penting dalam falsafah dasar negeri itu yang dimuat dalam konstitusi pertama tahun 1857 adalah adanya paham pemisahan mutlak antara kekuasaan negara dan gereja. Namun sejarah mencatat bahwa keinginan politik gereja tersebut tidak berhasil, walaupun beberapa gereja di negeri itu sampai sekarang masih tetap menolak paham pemisahan itu.

Latar belakang sejarah kemerdekaan dari penjajahan bangsa barat itulah yang membuat adanya kelompok di Meksiko yang condong ke kiri pada waktu perang dingin. Dan perasaan kelompok ini telah memberi warna politik luar negeri Meksiko. Hubungan Meksiko dengan Kuba yang komunis pernah erat. Hubungannya dengan Indonesia di bawah Presiden Soekarno yang dikenal anti AS dan negara barat juga pernah erat. Walaupun kemudian normal kembali, hubungan kedua negara sempat mengalami suatu masa dimana politik luar negeri Indonesia ditempatkan pada posisi “right of centre” oleh karena itu tidak sejalan dengan dengan posisi Meksiko yang “left of center” yaitu pada awal Orde Baru dimana Meksiko menganggap Indonesia telah berubah menjadi pro AS dan barat.

Begitulah. Walaupun memiliki Doktrin Estrada warna politik luar negeri Meksiko dapat berubah-ubah, kadangkala condong ke kiri kadangkala ke kanan, tergantung kelompok yang berkuasa. Doktrin Estrada adalah paham non-intervensi dan penentuan nasib sendiri dalam hubungan antar negara yang dianut Meksiko hingga sekarang. Meksiko sebagai negara pelopor wacana dunia ketiga juga hanya bersedia menjadi peninjau dalam sidang-sidang gerakan non-blok walau mendukung tujuan gerakan tersebut. Sebaliknya Meksiko telah mempelopori Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin negara Utara-Selatan.

Setelah Partai PRI yang berkuasa selama 70 tahun sejak 1929 tumbang pada pemilihan umum tahun 1999, muncul penguasa baru di bawah Presiden baru Vicente Fox Quesada dari Partai minoritas PAN hasil pemilihan Presiden langsung tahun 2000 yang politik luar negerinya condong ke AS. Presiden Fox dikenal sebagai sahabat AS dan sejak itu hubungan dengan Kuba kemudian menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 dimana sempat terjadi saling menarik Duta Besar antara kedua negara. Meksiko yang sebelumnya membela Kuba dalam masalah Hak Asasi Manusia berbalik mengecam Kuba.

FOTO 62
DEMONSTRASI YANG DILAKUKAN DI DEPAN PINTU KANTOR PRESIDEN

Politik memang tidak pasti bagai cuaca yang susah ditebak. Apa jadinya kalau Presiden Fox yang dekat dengan AS kemudian diganti oleh Presiden baru semacam tokoh Chavez dari Venezuela atau Lula dari Brazil yang tidak disukai AS pada Pemilihan Presiden langsung tahun 2006 nanti. Tentu situasinya akan berubah. Inilah yang sedang terjadi di negara itu. Rakyat kelas bawah mendukung Gubernur Mexico DF, Lopez Obrador dari Partai PRD, yang warna politiknya jelas akan menyerupai tokoh Chavez atau Lula. Atau apakah Senor Obrador kemudian akan berubah agar terpilih dengan mendekat ke AS?

Bagaimanapun perekonomian negara itu memang tergantung kepada AS. Dengan sinis seorang Duta Besar dari salah satu negara ASEAN mengatakan bahwa negara ini bagaikan “sebuah negara bagian AS”. Seorang Duta Besar Meksiko di PBB bahkan pernah ditarik pulang gara-gara ucapannya yang terlalu jauh bahwa Mexico seperti budak AS. Kenyataannya sekitar 80% ekspor Meksiko memang ditujukan ke tetangganya di utara. Dan impornya sekitar 80% juga berasal dari tetangganya di utara. Demikian juga investasi yang masuk, hampir 70% berasal dari Amerika Serikat. Saat krisis ekonomi memukul negara itu tahun 1994-1995, AS membantu dengan dana cukup besar mengingat kepentingannya di negara tersebut.

Salah satu penopang ekonomi Meksiko adalah kiriman remittance dari warganya yang bekerja di AS. Kalau ingin mengadu nasib dengan aman ke AS memang ada cara yang legal. Masalahnya tidak semua yang ingin masuk diberi ijin oleh Pemerintah AS. Karena itu terjadilah pendatang haram asal Meksiko yang jumlahnya mencapai sekitar 10-11 juta di AS, dari seluruh warga Meksiko di AS yang mencapai 22 juta orang. Dari angka itu sebagian sudah menjadi warga AS, sebagian memiliki dual nationality sedang sebagian lagi tetap sebagai warga negara dari tanah kelahirannya Meksiko. Perolehan devisa negara itu dari remittance yang dikirim mereka ke keluarganya konon hampir sama besar dengan masuknya dana dari foreign direct investment ke Meksiko. Menurut laporan setempat remittance dari warganya yang tinggal di AS tersebut hampir mencapai US $ 20 milyar per tahun, pendapatan terbesar kedua negara itu setelah pendapatan dari ekspor minyak bumi. Masalahnya menjadi rumit setelah ada kecurigaan masuknya teroris dengan menggunakan wilayah Meksiko untuk merembes ke wilayah AS.

Perbatasan negara yang sangat panjang sangat menyulitkan bagi pemerintah AS mengawasi arus manusia dari selatan yang ingin menyeberang ke utara. Setiap hari ribuan truk kontainer memuat barang keluar masuk di perbatasan antara kedua negara yang panjang. Walaupun sudah dijaga ketat dilengkapi dengan satelit maupun alat detektor canggih serta anjing pelacak, penyelundupan narkotik maupun masuknya tenaga kerja illegal dari selatan ke utara masih terus marak. Setiap tahun sekitar 400.000 manusia menyeberang secara legal maupun illegal ke arah utara. Alasannya klasik : bagaimana dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Hal ini dapat dimengerti karena perbedaan yang tajam antara upah kerja per jam di AS yang sebesar USD 18 dibandingkan dengan di Meksiko yang hanya USD 5 per hari! Perbedaan ini membuat banyak kaum muda Meksiko yang ingin mengadu nasib dengan resiko mati di perbatasan sebelum sampai ke tanah harapan.

Ernesto adalah seorang pemuda Meksiko. Ia bingung mencari cara bagaimana mengembalikan utang sebesar Ps.100.000,- atau sekitar USD 10.000,- kepada temannya. Dengan kenekatannya ia pergi menyeberang ke AS dan bekerja sebagai kuli perusahaan konstruksi yang sedang membuat jalan kereta api. Ia kembali ke Meksiko dengan uang banyak ditangan dan dapat membayar utang bahkan dapat membeli jam tangan dan mobil. Ini adalah sekelumit cerita dan banyak cerita lainnya yang mengharukan yang saat ini menjadi salah satu masalah besar dalam hubungan AS dan Meksiko.

Menurut laporan media masa setempat ada sekitar 400 orang warga Meksiko maupun warga asing lainnya yang mati per tahun selama beberapa tahun terakhir saat menyeberang secara diam-diam ke wilayah AS, karena kepanasan, digigit ular atau binatang melata lainnya di padang pasir di perbatasan antara kedua negara. Kebanyakan yang mati adalah anak-anak dan kebanyakan terjadi di perbatasan dengan Arizona ataupun di perbatasan yang di belah oleh sungai Rio Grande. Banyak juga yang ditembak oleh petani di wilayah AS yang merasa tanamannya terganggu oleh kaum migran yang menginjak-injak tanaman mereka. Hampir tidak ada yang mati ditembak penjaga perbatasan. Mereka ini paling hanya mengusir agar kembali lagi ke selatan. Banyak kasus dimana penjaga perbatasan melalui satelit mengetahui serombongan orang hendak masuk ke wilayah AS. Namun karena jaraknya dari pos yang cukup jauh, penjaga perbatasan itu pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Perbatasan kedua negara yang panjang ada yang dipisah oleh pagar tinggi dan ada yang dipisah oleh sungai dimana di beberapa tempat terdapat check point. Salah satunya adalah check point di kota Laredo. Di kota ini bisa disaksikan setiap hari ribuan kendaraan lalu lalang keluar masuk dari selatan ke utara atau sebaliknya. Ribuan orang seperti semut lalu lalang menyeberang jembatan antara kedua negara. Kota Laredo di bawah kekuasaan AS dan kota Nuevo Laredo di bawah kekuasaan Meksiko seolah menyatu. Banyak warga Meksiko yang mencari nafkah di kota Laredo di wilayah AS dan setiap sore kembali ke rumah mereka di wilayah Meksiko. Yang jelas, ekonomi AS sebetulnya juga diuntungkan dengan masuknya tenaga kerja murah dari Meksiko.

FOTO 63
JEMBATAN DI PERBATASAN KOTA LAREDO
DAN NEW LAREDO

Selain masalah tenaga kerja haram dari Meksiko kedua negara sebenarnya juga menyimpan masalah hutang atas supply air dari Sungai Rio Bravo untuk pertanian dari wilayah Amerika Serikat yang belum dibayar Meksiko. Walau kadangkala terjadi perang mulut, namun hubungan yang matang dan saling menguntungkan antara kedua negara telah mampu meredam masalah-masalah yang ada.

Masalah yang lain adalah narkotik yang melibatkan banyak negara di benua Amerika yang terjadi karena permintaan yang tinggi di AS. Meksiko semula memang negara transit bagi pedagang narkotik dari wilayah Amerika Selatan menuju pasar besar di AS. Namun dengan efektifnya penjagaan yang ketat di perbatasan, barang haram tersebut akhirnya berbalik mencari pasar di wilayah Meksiko. Untuk menjadi seorang Kepala Polisi di daerah perbatasan, seseorang harus menyerahkan uang hingga US $ 1 juta. Uang sebesar itu akan kembali pokok beberapa bulan setelah ia menjabatnya, demikian pernah diceritakan Duta Besar Ahwil Lutan kepada staff. Meksiko kini menjadi pengguna sekaligus pemasok narkoba ke wilayah Amerika Serikat. Dengan menggunakan peralatan helicopter, ladang ganja tersebut umumnya di tanam di wilayah pegunungan di Guerrero yang jauh dari penduduk dan dipanen beberapa bulan kemudian.

Duta Besar Ahwil Lutan memang belajar dari negeri ini bagaimana jaringan narkotik begerak. Banyak polisi yang mentalnya bobrok di Indonesia tapi tidak sebegitu jauh, katanya menyimpulkan.

Semua orang di Meksiko tahu dimana kota atau wilayah di negara itu yang rawan keamanan karena sering terjadi pertempuran bersenjata antar kelompok penjahat narkoba, yaitu Tamaulipas, Sinaloa, Tijuana, Guererro dan Oaxaca. Yang jelas kelompok ini jarang menyentuh wilayah-wilayah wisata terkemuka di negeri itu. Daerah wisatawan tetap aman. Dan beberapa daerah tujuan wisata di Meksiko merupakan tempat tujuan wisata terkemuka di dunia seperti Cancun, Acapulco, Los Cabos, dan sebagainya. Turis asing yang mengunjungi Meksiko menurut data tahun 2004 mencapai jumlah 20,6 juta dengan perolehan devisa sekitar USD 8 milyar. Meksiko memang diuntungkan karena letaknya yang berbatasan dengan AS sebagai pasar wisata besar dunia. Banyak orang kaya warga AS yang memiliki second home di kota San Miguel Allende, Meksiko, karena kandungan air tanah disitu konon akan membuat umur panjang. Dan banyak pula anak muda dari negara itu yang menyeberang perbatasan berwisata ke Meksiko hanya untuk mencari kesenangan yang tidak mungkin didapat di negaranya. Menurut pemerintah setempat bagaimanapun wisatawan domestik ternyata tetap merupakan konsumen terbesar bagi tempat tujuan wisata di Meksiko.


FOTO 64
ADU BANTENG DI MEKSIKO

FOTO 65
TRADISI BERKUDA DI MEKSIKO


Menarik juga mengetahui asal mula berkembangnya Islam di tengah-tengah bangsa Meksiko yang Katolik dari kacamata Fitra Ismu Kusumo, seorang mahasiswa Indonesia di Universitas ENAH jurusan Sejarah dan Antropologi yang menikah dengan Dulce Maria, seorang wanita setempat. Hasil penelitiannya untuk menyelesaikan kuliah S2 di Universitas tersebut mendapati bahwa ada beberapa versi mengenai hal ini. Yang pertama, Islam di Meksiko dimulai ketika didirikan mesjid Soraya di Torreon, negara bagian Coahuila tahun 1986. Kedua, Islam di Meksiko dimulai ketika terbentuknya Organisasi CCIM (Centro Cultural Islamico de Mexico) pada tahun 1994. Yang ketiga, kedatangan Islam di Meksiko sebenarnya sudah dimulai secara samar bersamaan dengan datangnya penjajah Spanyol. Kemudian pada abad ke 19 ketika Napoleón III mengirim pasukan ke Meksiko untuk melakukan ekspedisi dan penjajahan di Meksiko di bawah Kaisar Maximilliano, pasukan tersebut berasal dari Afrika Utara terutama Aljazair yang umumnya beragama Islam. Walau mereka tidak berani mengaku secara terus terang sebagai muslim, tapi mereka melanjutkan aktifitas keagamaannya secara sembunyi sembunyi.

Saat ini konsentrasi penduduk beragama Islam terus berkembang di beberapa titik di Meksiko. Jumlah pemeluknya mencapai 3.000 hingga 5.000 orang. Di bagian utara negeri itu selain mesjid Soraya di Torreon, juga terdapat mushola kecil untuk sholat Jumat berjamaah di kota Monterrey, kota terbesar kedua di negara itu. Di bagian tengah termasuk Ibu kota Mexico City dan sekitarnya saat ini terdapat 3 mesjid di pusat kota, salah satunya di Polanco, serta sebuah pusat studi Islam di Morelos. Di bagian selatan, yaitu di negara bagian Chiapas, pembahasan mengenai perkembangan Islam adalah yang paling menarik. Muslim di daerah ini umumnya pemeluk sufisme. Di kota San Cristóbal de las Casas dan kota Comitan di negara bagian tersebut pemeluk agama Islam adalah penduduk asli Indian (native) yang berbahasa Maya dari suku Tzotzil, Tzal, Tojolabal yang pernah diusir dari tanah kelahiran mereka pada tahun 1970-an karena menolak melaksanakan ritual-ritual agama Katolik setelah terjadinya perang antar suku.

Pada tahun itu 2 orang Spanyol yaitu Hají Idris dan Emir Muhammad Nafia dari Murabitun World Movement, Spanyol, mendirikan madrasah pertama di Meksiko di daerah tersebut dengan menggalang anggota komunitas muslim self-sufficient yang mencapai jumlah 1.000 mualaf dari penduduk asli Indian. Setelah peristiwa 11 September 2002, pengikutnya berkurang menjadi 250 orang karena tekanan gereja, pemerintah maupun media masa. Mereka hidup ekslusif dengan mencukupi kebutuhan pangan dengan mendirikan toko roti, usaha permen coklat, meubel, konveksi pakaian dan kerajinan batik Pekalongan. Emir Muhammad Nafia pernah berkunjung untuk studi ke beberapa pesantren di Indonesia seperti Az Zaitun, dan Gontor.

Sesuai konstitusi Pemerintah Meksiko memberikan kebebasan beragama kepada penduduknya, namun setelah peristiwa 11 September keberadaan umat Islam mulai diawasi oleh Pemerintah setempat, atas “permintaan” pihak Amerika Serikat. Dukungan pihak AS juga diberikan untuk mencegah tumbuhnya fundamentalisme serta kerjasama dengan penegak hukum di Meksiko dan memperkuat penjagaan di beberapa titik perbatasan kedua negara.

Banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari negara Meksiko yang termasuk negara sedang berkembang.

---0---

BAB XIII
APA KATA KOLEGANYA :
DUTA BESAR AHWIL LUTAN YANG SAYA KENAL

Sejak awal memang buku ini sengaja disusun untuk memuat semua hal secara jujur dan terbuka sekitar kepemimpinan sang pemegang 10 Satya Lencana dari Pemerintah RI dan 2 bintang penghargaan dari luar negeri ini.

Di Kepolisian ia memang memiliki track record bagus, akrab dengan anak buah namun tetap disiplin. Ia juga dikenal sebagai seorang perwira kepolisian yang menggeluti dunia pendidikan. Tidak heran jika sejumlah gelar akademis berhasil diraihnya dan berderet panjang di depan dan di belakang namanya.

Tetangganya, seorang Duta Besar RI untuk Afrika Selatan yang tinggal di Pondok Indah, saat bertemu pertama kalinya tahun 1988 memiliki kesan bahwa ia memang sosok perwira muda yang memiliki kemampuan tinggi dan energetik. Sang Duta Besar itu malah sudah menduga bahwa suatu hari ia akan mencapai suatu karier dan kedudukan yang strategis di pemerintahan. Dan di kemudian hari ternyata hal itu benar

Koleganya para Duta Besar RI di manca negara umumnya mengenalnya sebagai seorang konseptor dan pemikir dalam tubuh Kepolisian RI yang memiliki visi ke depan, dari pada sebagai komandan pasukan di lapangan. Pandangan-pandangannya juga sederhana dan mudah dilaksanakan. Saat ia menjadi Ketua Rukun Tetangga di Alam Permai Pondok Indah ia menawarkan konsep tertib lingkungan dengan menganggap penting partisipasi warga dalam menjaga keamanan lingkungan.


FOTO 66
BERSAMA BEBERAPA CALON DUTA BESAR RI

Ia juga dikenal memiliki jejaring yang luas di luar negeri dan memiliki pengalaman internasional karena manfaat training-training yang diikutinya di luar negeri. Karena itu berhubungan dengan masalah-masalah luar negeri bukanlah hal yang baru baginya. “Ia merupakan salah seorang Jenderal Diplomat di antara sejumlah perwira tinggi di Indonesia”, komentar Wakil Tetap RI di PBB yang merasa mengenalnya lebih dekat pada acara Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI di wilayah Amerika bulan Agustus 2004 di Mexico City. Ia mengaku bahwa nama Ahwil Lutan telah dikenalnya jauh sebelum ia menjadi Duta Besar RI untuk Meksiko sebagai sosok penegak hukum yang sering muncul di media masa. Tidak seperti dibayangkan banyak orang, penampilan dan gaya bicaranya memang tidak mengesankan sama sekali bahwa ia seorang Jenderal. Karena itu banyak orang menyangka bahwa ia adalah diplomat karier, karena kecakapannya, keluwesan, ketegasan dan mudah bergaul dalam memajukan hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan Meksiko. “Saya percaya bahwa Duta Besar Ahwil Lutan akan terus menyumbangkan kemampuan dan pengabdiannya bagi kepentingan bangsa dan negara dalam kapasitas apapun di masa mendatang”, sambungnya.

Pembawaannya yang luwes dan murah senyum telah mengantarkannya tampil ditengah masyarakat dengan baik. Ia bisa membawakan diri sehingga setiap orang akan merasa nyaman bila berkomunikasi dengannya karena keramahan dan penuh hormat. “Padahal kebanyakan orang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi saat itu, karena sibuk atau ada tugas berat atau ada masalah pribadi”, demikian komentar koleganya Duta Besar RI di salah satu negara di Timur Tengah. Dalam hal inipun mantan Duta Besar RI untuk negara Fiji yang saat ini menjabat sebagai Deputi II Menko Polhukam mengakui bahwa ia memang mampu beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan kerja baru, termasuk dengan dunia diplomatik sekalipun.

Komentar diantara para Duta Besar dan mantan Duta Besar nampaknya hampir tidak ada beda. Inilah penilaian mantan Kepala Polisi RI Bapak Widodo Budidarmo yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kanada dan pernah menjadi atasannya dalam suratnya tanggal 2 Juli 2005 kepada Penulis. “Selama menjadi anggota Polri yang telah mengenyam manis dan pahit getirnya berdinas di Kepolisian, Saudara Ahwil Lutan dikenal sebagai seorang pekerja keras, ulet dan rajin menulis tentang organisasi Polri. Dalam pola kepemimpinan Saudara Ahwil Lutan menganut prinsip tegas dan bijaksana terhadap bawahan dan sangat ramah dengan siapapun baik dengan para Pejabat Polri maupun dengan anggotanya. Perjalanan tugasnya di Kepolisian dengan berbagai jabatan penting seperti di Reserse, NCB, Irwasum, Gubernur PTIK dan Badan Narkotika merupakan bagian dari penilaian Pimpinan yang menjadi bahan pertimbangan mendapatkan kehormatan terpilih sebagai Duta Besar di Mexico City. Perjalanan kariernya sebagai pejabat di Sekretariat NCB telah menambah wawasan dan wacananya dalam meniti karier di dalam jabatan International Relations seperti Diplomat dan sebagainya”.

Selanjutnya Bapak Widodo Budidarmo mengharapkan terpilihnya Ahwil Lutan menjadi Duta Besar dapat menjadi tauladan dan menambah semangat generasi penerus Polri untuk terpanggil sebagai anak bangsa dari kalangan Polri dalam meniti karier yang lebih strategis, setelah Purna tugas di Kepolisian.

Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Drs.Mochamad Sanoesi yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Myanmar menyampaikan komentarnya yang berbeda. “Saya menyambut baik penulisan buku Dari Jalan Trunojoyo 3 ke Julio Verne 27, sepanjang semangat penulisan tersebut untuk lebih memberikan motivasi atau dorongan khususnya kepada para Diplomat kita agar lebih peka dan lebih mampu menterjemahkan kepentingan diplomasi perjuangan yang semata-mata diabdikan bagi kesejahteraan rakyat Indonesia”, demikian isi sepucuk surat yang disampaikannya kepada Penulis.

Ahwil Lutan dipilih sebagai Ketua Kelas diantara 30 orang peserta pekan orientasi yang terdiri dari 25 orang pejabat Deplu, seorang pejabat Depdagri, seorang pejabat Polri, seorang dari Universitas Indonesia dan dua orang dari Deperindag. Seorang koleganya menyebutnya sebagai seorang pribadi yang seimbang dan low profile. “Sang Ketua Kelas terkesan bersikap low profile, tidak menonjolkan diri dan dalam sesi tanya jawab tidak memberondong dengan sejumlah pertanyaan kritis”, demikian komentar seorang Duta Besar RI di salah satu negara di Eropa. Ia juga menerima tugas sebagai Ketua Kelas dengan senang hati tanpa banyak argumentasi, dan ia tidak nampak merasa bangga karena kepercayaan dari koleganya atau “ogah-ogahan” menerima penunjukan itu.

Dengan kapasitas yang dimilikinya, koleganya para calon Kepala Perwakilan RI dan Deputy Chief of Mission yang mengikuti Pekan Orientasi dari tanggal 15 Juli sampai dengan 2 Agustus 2002 pernah larut di depan perhatian dan kehormatan pada setiap acara tamu pejabat dan masyarakat di daerah-daerah yang dikunjungi dalam Program Lintas Nusantara dimana ia telah ditunjuk sebagai Ketua Tim. Saat itu ia memang dapat menunjukan dedikasi yang tinggi dan kepemimpinan yang memuaskan semua pihak sehingga misi yang dipimpinnya berhasil dengan baik. Semua orang dapat menjadi pemimpin namun tidak semua pemimpin mempunyai leadership, demikian seorang koleganya memberikan pengakuan.

Saat itu banyak peserta bertanya dalam hati apa rahasianya sehingga Program Lintas Nusantara yang dirancangnya dapat dilakukan untuk 9 Propinsi di Indonesia, padahal sebelumnya hanya satu, dua maksimum 3 Propinsi saja dengan alasan anggaran tidak ada. Nampaknya jawabannya akan seragam yaitu jejaring yang dimilikinya yang membuatnya segala urusan di daerah yang dikunjungi dapat berjalan lancar.

Duta Besar RI untuk Phnom Penh adalah satu-satunya yang memberi komentar mengenai harmonisnya hubungan di dalam keluarga. “Hubungan dengan anak-anaknya nampaknya sangat dekat, maka saya tidak heran dan dapat memahami sepenuhnya Management by Participation yang beliau terapkan dalam memimpin KBRI di Mexico City”. ”Leadership is experience”, tambahnya. Sang Duta Besar memang sempat mendengar sendiri bagaimana Ahwil Lutan menerima pendapat dari anak sendiri saat dicalonkan sebagai Kapolri oleh Presiden Abdurahman Wahid dalam suasana yang amat kental nuansa politiknya waktu itu. Ia menilai sikap mau mendengarkan pendapat anak juga merupakan refleksi pandangan demokratis seorang ayah dan kepala keluarga yang tidak semata-mata hanya ingin mengedepankan keinginan ego pribadinya vis-a-vis kenyamanan dan martabat keluarga. Atas saran anaknya waktu itu ia memang menolak dengan halus tawaran jabatan itu. Hanya dalam hitungan hari jabatan Presiden Abdurahman Wahid terbukti kemudian lengser dan digantikan oleh wakilnya Megawati Soekarnoputri.

Sang Duta Besar itu lebih jauh mengharapkan kiranya hal-hal yang konstruktif yang telah dilakukan Duta Besar Ahwil Lutan selama tiga tahun bertugas di Perwakilan RI di Meksiko, Insya Allah, akan dapat menimbulkan multiplier effects positif yang berkelanjutan guna mewujudkan berbagai kepentingan Indonesia.

Ada suatu hal yang tidak akan pernah dilupakan oleh para petinggi Departemen Luar Negeri. Pada tahun 2001 Departemen Luar Negeri pernah di tuntut oleh Komisi I DPR-RI dengan tuduhan “Contempt of Parliament” karena telah menipu dan melecehkan lembaga tinggi negara. Sehubungan dengan hal itu DPR-RI telah minta kepada Polisi agar memeriksa dan mengajukan Departemen Luar Negeri RI ke Pengadilan. Atas permintaan Komisi I tersebut pihak Polisi telah melayangkan surat panggilan kepada instansi Deplu. Duta Besar Ahwil Lutan yang pada waktu itu menjabat sebagai Inspektur Jenderal Polisi menyatakan kepada Departemen Luar Negeri RI bahwa Kepolisian RI akan melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan Undang-undang. Dan akan mengupayakan jalan terbaik bagi penyelesaian tuduhan tersebut. Suatu tanggapan yang melegakan dan tentu saja tidak akan pernah dilupakan oleh para petinggi Deplu saat itu.

Pada awal buku ini telah ditulis bahwa baginya seseorang yang diperiksa oleh Polisi itu belum tentu bersalah, jadi ia harus memperlakukannya secara hati-hati dan profesional tetapi mendapat hasil yang diinginkan.

Banyak pihak yang memberi acungan jempol kepadanya atas keberhasilannya dalam mengatasi kasus-kasus kriminal maupun tindak pidana kerah putih yang lari ke luar negeri. Salah satunya, ia berhasil mengembalikan sejumlah koleksi lukisan museum nasional dari Singapura dan mengembalikan ke Indonesia para tersangka yang lari ke negara itu. Padahal saat itu kedua negara tidak memiliki Perjanjian Ekstradisi.

Akhir kata, bagaimana penilaiannya sendiri mengenai jabatan Duta Besar. Ia menilai jabatan seorang Duta Besar adalah jabatan mulia yang harus dikerjakan dengan serius karena bagian dari amanah. Ia memang tidak sependapat dengan opini bahwa jabatan Duta Besar adalah jabatan buangan. Demikian pernah dikemukakan kepada seorang koleganya.


--0--
BAB XIV
SELAMAT TINGGAL MEKSIKO ! ADIOS ¡

Berbakti untuk negerinya sebagai Duta Besar RI di Meksiko ternyata memberi peluang belajar banyak hal baginya. Yang jelas kini Duta Besar Ahwil Lutan bisa berbahasa Spanyol, bahasa yang dipakai sehari-hari rakyat Meksiko. Secara berseloroh sering dikemukakan, bagaimana bisa memacari wanita Meksiko yang cantik-cantik kalau kita tidak bisa berbahasa setempat. Maksudnya adalah bahwa bahasa setempat perlu dikuasai semua staff supaya dapat berkomunikasi dengan siapa saja orang setempat untuk mempermudah dalam menjalankan pekerjaan.

Setiap waktu di hari libur juga dimanfaatkannya untuk mengendarai mobil Volkswagen kodok, yang di negara itu dikenal dengan sebutan vocho, produksi terakhir tahun 2004 untuk berkeliling Ibu kota Meksiko, kota terbesar di dunia dengan penduduk sekitar 25 juta jiwa. Untuk keamanan dirinya maka ajudan merangkap Sekretaris Pribadinya seorang anggota Polisi berpangkat Brigadir Polisi bernama Purdoyo selalu mendampinginya. Ibukota Mexico City terletak di cekungan bekas danau purba yang sangat luas di ketinggian 2.400 meter dari permukaan laut. Dari udara bila sedang dalam penerbangan malam di atas Ibu kota akan nampak lampu-lampu yang terlihat begitu banyak seolah tak bertepi. Diakui bahwa tidak cukup waktu sehari atau dua hari mengelilingi Ibu kota Mexcico City dengan mobil. Mobil vocho kesayangan berwarna abu-abu itu akhirnya dibawa ke Jakarta sebagai kenang-kenangan.

FOTO 67
KENANGAN DARI MEKSIKO
TAXI VOLKSWAGEN VOCHO

Diakuinya bahwa sebelum berangkat ke Meksiko ia sempat mempelajari negara itu dari buku-buku atau internet agar cepat menyesuaikan diri setibanya di negara tersebut. Sehingga pada waktu fit and proper test oleh anggota Komisi I DPR-RI, calon Duta Besar untuk Meksiko ini dijuluki seolah tahu Meksiko walaupun belum pergi ke negara itu.

Kebiasaannya yang lain adalah mengunjungi suatu tempat, setiap kali sebelum ada kunjungan pejabat tinggi dari Indonesia yang akan ke Meksiko untuk konferensi dimana ia harus mendampingi, sehingga tahu sebelumnya seluk beluk tempat tersebut sebelum kedatangan sang pejabat.

Kilas perjalanan yang menarik baginya sebagai seorang penegak hukum yang ditugaskan menjadi Duta Besar di Meksiko adalah ke Tepito. Tepito adalah sebuah enclave di wilayah Ibu kota Mexico City yang seolah tidak lagi tersentuh hukum. Tepito terlanjur menjadi semacam pasar gelap terbesar di dunia. Barang selundupan dan bajakan dijual leluasa. Tiga Polisi setempat tewas pada operasi tahun 2005 saat menggerebeg wilayah yang sudah terlanjur menjadi tumpuan hajat hidup jutaan orang. Akibatnya Kepala Polisi Mexico DF telah dipecat oleh Presiden Vincente Fox.

Hal yang sama harus dihadapi Pemerintah Meksiko terhadap kartel narkotik yang sudah terlanjur tumbuh besar yang umumnya beroperasi di perbatasan dengan AS. Pemerintah Meksiko belum berhasil mengendalikan walaupun telah mengerahkan ribuan polisi federal yang dilengkapi dengan pesawat dan helicopter untuk menghantam kartel narkotik di Tamaulipas, Sinaloa dan Loredo yang diketahui ada kerjasama dengan pejabat keamanan di wilayah AS.

Sebagai seorang polisi peringatannya adalah, suatu pelanggaran hukum dapat dicegah dengan mudah ketika sedang tumbuh namun akan sulit dicegah ketika sudah terlanjur menjadi besar.

Beberapa saran penting juga pernah disampaikan kepada Pemerintah Pusat setelah belajar dari Meksiko mengenai suatu hal. Sebelum Pemerintah RI memutuskan Keadaan Darurat Militer di Aceh, Duta Besar Ahwil Lutan memberi masukan mengenai bagaimana Pemerintah Meksiko menangani masalah Chiapas. Setelah terbentuknya pemerintah baru dan penunjukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Duta Besar Ahwil Lutan juga memberi masukan mengenai pariwisata di Meksiko untuk bahan perbandingan memajukan pariwisata di Indonesia. Terakhir ia juga menyampaikan masukan ke pemerintah pusat bagaimana Meksiko membangun sistim pemerintahan untuk menangani bencana alam karena memang negeri itu pernah menderita karena gempa bumi tahun 1985. Hingga kini sisa-sisa reruntuhan bangunan yang roboh atau anjlok ke bawah di Ibukota Mexico City dapat disaksikan.

Banyak hal bisa dipelajari dari negara lain seperti Meksiko dan menjadi contoh untuk disumbangkan kepada Pemerintah RI, demikian pesannya kepada para staff.

Tapi kini semuanya harus menjadi masa lalu. Ia harus kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan tugas yang dibebankan oleh Pemerintah RI. Ada masa datang dan ada masa pergi, demikian selalu dikemukakan pada setiap perpisahan home staff yang akan kembali ke Jakarta yang akan selesai tugas penempatan.

Jejaring telah ditebar. Jalan masih panjang untuk mencapai cita-cita bangsa. Selamat berkarya pejabat baru!

Viva Indonesia, Viva Mexico !

Selamat Tinggal Meksiko! Adios ¡

Sampai Bertemu di Jakarta !

Mexico City, Nopember 2005

SEBUAH REFLEKSI
Hendrar Pramudyo

Fakta adalah suci, demikian kata seorang penulis terkenal. Mengatakan kebenaran atau mengakui prestasi seseorang kadangkala memang lebih sulit dari pada menghujat kesalahan atau menunjuk kelemahan seseorang. Demikianlah yang berlaku selama ini : Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Suatu prestasi yang pernah dicapai oleh seseorang dinafikan sedemikian mudah karena beda pendapat atau tidak suka kepada seseorang yang mungkin berasal dari soal kecil dan tak terlalu penting.

Sebuah Refleksi akan mengungkap beberapa sisi dari keberhasilan diplomasi Indonesia sekaligus mengungkap melemahnya diplomasi Indonesia di Meksiko.

Sebuah refleksi mencatat bahwa komitmen yang tinggi kepada tugas dan pemikiran yang strategis adalah hal yang utama. Lebih dari persyaratan penguasaan bahasa asing dan substansi yang memang perlu bagi seorang Duta Besar. Suatu cermin dari komitmen yang tinggi terhadap tugas adalah kesanggupan mengatasi tugas seberapa pun berat dan bahkan dengan pengorbanannya. Kesan pertama adalah, jauh dari malas berfikir dan malas bertindak.

Beruntung Penulis ditugaskan di negara dimana telapak tangan Indonesia tidak pernah menengadah, karena memang Meksiko adalah sesama negara sedang berkembang penerima hutang, walau dinilai salah satu yang paling maju.

Tahun-tahun pertama Orde Baru diisi dengan gencarnya indoktrinasi ideologi pembangunan. Politik luar negeri juga diabdikan untuk pembangunan nasional. Karena Meksiko dianggap sama seperti negara berkembang lainnya, maka Perwakilan RI di negara itu kemudian menjadi perwakilan D-3 dalam perhitungan kebijakan luar negeri. Demikian juga kepada negara-negara Amerika Latin dan Afrika pada waktu itu. Bagian dunia itu memang termasuk negara penghutang, sama seperti negara kita, dan bahkan dianggap pesaing untuk memperoleh hutang dari negara-negara maju, Amerika Serikat, Jepang dan Negara Barat lainnya. Beberapa Kedutaan Besar RI di Afrika bahkan sempat ditutup karena alasan dana. Perubahan politik di Indonesia dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto telah mengakibatkan melemahnya diplomasi Indonesia di Meksiko, karena titik berat diplomasi yang bergeser.

KBRI di Mexico City memang tidak ditutup. Namun yang pernah dicapai oleh diplomasi Indonesia di negara tersebut kemudian melemah. Lembaga Kebudayaan (Instituto Cultural Mexico – Indonesia) yang dibangun pada pada tahun 1959 atas inisiatif rakyat setempat yang mengagumi perjuangan heroik bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya dari Belanda kemudian bubar dan tidak berlanjut setelah meninggalnya sang ketua yaitu Ny.Eva Samano de Lopes Mateos, isteri mendiang Presiden Meksiko Lopez Mateos. Beruntung masih ada monumen persahabatan yang dibangun oleh kedua Presiden, Soekarno dan Lopez Mateos, melalui penamaan Sekolah Dasar Negeri di kedua negara, Escuela Republic de Indonesia di Tacuba, Mexico City (1959) dan Sekolah Republik Mexico di Kebayoran Baru, Jakarta (1962). Kalau tidak ada, mungkin tidak ada lagi sisa-sisa yang dapat memberitahu rakyat kedua bangsa bahwa pernah tertaut hubungan yang erat diantara mereka.

Kuasa Usaha Tetap RI tahun 1959 - 1960, T.M.Hadi Thayeb/Counsellor, menjadi saksi saat-saat peresmian nama Escuela Republic de Indonesia, dan juga saat-saat ia harus meyakinkan Pemerintah Meksiko yang memihak Belanda untuk memungkinkan kunjungan pertama Presiden RI Soekarno ke negara itu tahun 1959. Suatu kunjungan yang bersejarah yang terbukti dapat mengubah persepsi Mexico terhadap Indonesia melalui persahabatan pribadi yang erat dengan Presiden Mexico Lopez Mateos. Mengubah dukungan mereka kepada Indonesia dalam masalah pemberontakan PRRI/PERMESTA. Dan mengubah dukungan mereka kepada Indonesia dalam masalah Irian Barat.

Semua itu bagai angin lalu. Padahal sampai saat ini rakyat Meksiko terutama yang berusia 50 ke atas masih mengenang nama Soekarno. Warga Indonesia yang tinggal di negara itu menjadi saksi, betapa nama itu telah terpatri di pikiran banyak orang, mulai dari sopir taxi hingga wartawan-wartawan kawakan. Saat Presiden Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Presiden Mexico Vicente Fox Quesada dalam kesempatan KTT Asia Pacific Economic Cooperation di Los Cabos, Oktober 2002, Presiden Meksiko itu sempat mengingatkan betapa nama ayahnya Soekarno tersebut masih dikenang oleh sebagian rakyatnya hingga kini.

Usainya perang dingin telah mengubah pola hubungan kedua negara dengan titik berat hubungan bilateral pada pembangunan ekonomi. Beberapa kerjasama dilakukan antara kedua negara, seperti kerjasama antar parlemen, kerjasama ilmu pengetahuan dan tehnik, kerjasama pendidikan dan kebudayaan, kerjasama pertanian tanaman pangan, kerjasama perbankan, kerjasama bilateral di forum global, dan sebagainya.

Sampai usia 50 tahun hubungan diplomatik tahun 2003, kedua negara memang belum punya basis yang kuat untuk mengembangkan hubungan ekonomi. Sudah disadari sejak tahun-tahun pertama pembukaan hubungan diplomatik, bagaimana mengatasi hambatan untuk memanfaatkan kedekatan politis diantara kedua negara yang letaknya berjauhan dan mengalihkannya (transform) menjadi interaksi ekonomi yang dapat menguntungkan kedua pihak.

Di tengah kebuntuan dalam usaha meningkatkan hubungan ekonomi melalui perdagangan kedua negara. Duta Besar Ahwil Lutan mampu melihat adanya masalah inefisiensi dalam biaya transportasi dan hambatan tariff. Ia juga dapat melihat peluang masuknya gas dari Indonesia ke AS lewat Meksiko dan kemudian berusaha memotong jalur ekspor gas dari Indonesia langsung ke negara bagian Baja California, Meksiko, tanpa melalui pedagang Jepang seperti berlangsung selama ini. Masuknya gas dari ladang Tangguh, Papua, ke Baja California, untuk pasar dalam negeri Meksiko dan AS adalah ekspor gas pertama dari Asia Pacific ke benua Amerika. Kontrak selama 20 tahun bernilai USD 24 milyar tersebut akan berlaku mulai tahun 2008.

Ia mulai berfikir bagaimana mengatasi inefisiensi karena biaya transportasi yang tinggi dan hambatan tariff dalam perdagangan non-migas kedua negara selama ini. Untuk membuat efisien biaya transportasi dalam perdagangan antara kedua negara memang solusinya adalah investasi langsung. Dan untuk mengatasi hambatan tariff ia telah mengusulkan kepada Menteri Perdagangan RI Rini Suwandi perlunya suatu perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara.

Komitmen yang tinggi pada tugas, berfikir strategis, tidak malas berfikir dan malas bertindak. Memang itulah seharusnya dasar penilaian bagi seorang Duta Besar selain penguasaan bahasa asing dan substansi yang memang perlu.

Reformasi mengandung sebuah harapan untuk perubahan. Restrukturisasi Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI adalah realisasinya. Karena itu perlu dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.



---o0o---
DATA PENULIS

HENDRAR PRAMUDYO. Penulis buku ini, lahir pada tanggal 14 September 1956 di Semarang. Agama Islam. Masa kecil dari lahir hingga dewasa dihabiskan di kota kelahirannya Semarang. Ia lulus Sekolah Dasar Kristen di Jalan Kyai Saleh no.3, Semarang tahun 1970. Lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri I tahun 1973. Dan lulus Sekolah Menengah Atas Negeri I-II jurusan Pasti Alam tahun 1975. Ia kemudian memilih masuk Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang Angkatan tahun 1976 dan lulus jurusan Hukum Internasional pada tahun 1982.

Aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan Resimen Mahasiswa, pada tahun 1983 ia diterima Departemen Luar Negeri dan masuk Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan IX selama 1 (satu) tahun, dan kemudian bekerja pada Direktorat Perjanjian Internasional.

Pada tahun 1983 ia menikah dengan Ir.Sri Irianita Handayani, lulusan Fakultas Tehnik Arsitektur, Universitas Diponegoro, dan dikaruniai seorang anak perempuan semata wayang Dhea Pramita Edi.

Sebelum penempatan pertamanya di Tokyo tahun 1987 dengan pangkat mula-mula Atase ia sempat belajar bahasa dan kebudayaan Jepang dengan beasiswa dari Gaimusho (Kementerian Luar Negeri Jepang) pada tahun 1985-1986. Selesai penugasan sebagai Kepala Sub Bidang Protokol dan Konsuler pada KBRI di Tokyo tahun 1990 ia kembali ke Indonesia dan bekerja kembali pada Direktorat Perjanjian Internasional sebagai Kepala Seksi Kerjasama Teknik.

Tahun 1994 ia bertugas sebagai Kepala Bidang Politik dengan pangkat mula-mula Sekretaris II pada Kedutaan Besar RI di Oslo, Norwegia. Dan kembali ke Indonesia tahun 1998 melanjutkan pekerjaan sebagai Kepala Sub Direktorat Perjanjian Internasional Ekonomi dan Keuangan. Pengalaman tak terlupakan di perwakilan ini adalah ketika sebagai Kuasa Usaha Sementara ia harus menghadapi media setempat yang begitu garang sekitar penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada pejuang Timor Timur Ramos Horta dan Uskup Belo. Ia sempat merasa sangat terhina dan merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dan memihak dari media masa setempat. Ia sempat menulis kritikan berupa unoffical paper kepada instansinya sendiri Departemen Luar Negeri yang cukup pedas. Dan ia merasa bahwa sebagian dari kritiknya itu akhirnya tertampung dengan adanya restrukturisasi di seluruh Perwakilan RI yang menjadi bagian dari perubahan di Departemen Luar Negeri dimana semua perwakilan RI di luar negeri dianggap sama pentingnya dan perlunya pelaksanaan diplomasi yang seimbang antara diplomasi bilateral, diplomasi regional dan diplomasi global.

Beberapa pengalamannya periode 1990 – 2002 dalam negosiasi internasional, antara lain, sebagai anggota delegasi pada perundingan-perundingan dengan negara-negara lain untuk mencapai Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda, Perjanjian Jaminan Investasi, Perjanjian Hubungan Udara, Perjanjian Kerjasama Tehnik, dan sebagainya. Ia juga pernah mengikuti Seminar yang diselenggarakan oleh Komisi Hukum Internasional di Jenewa selama 1 (satu) bulan, sidang-sidang Hak Atas Kekayaan Internasional (HAKI) di Jenewa dan Seminar-seminar HAKI di Hongkong dan Guangzou, China, atas beasiswa PBB. Ia pernah menjadi anggota Delri pada sidang Asia Afrika Legal Consultative Committee (AALCC) di Accra, Ghana, tahun 1999 dan sidang yang sama di New Delhi, India, tahun 2001.

Tahun 2002 ia mendapat penugasan mula-mula sebagai Counsellor/Kepala Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya pada Kedutaan Besar RI di Mexico City. Dengan adanya restrukturisasi di seluruh Perwakilan RI, pada bulan April 2005 ia diangkat Menteri Luar Negeri RI sebagai Head of Chancery, suatu jabatan baru di KBRI Mexico City.

Tidak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa proses demokratisasi yang terjadi di negara itu adalah karena imbas gerakan reformasi yang terjadi di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998. Namun yang paling mengesankan selama penugasannya di negara itu adalah bagaimana orang kulit putih, campuran dan berwarna bisa mendirikan negara dan membangun negeri mereka secara bersama.


--0--

0 Comments:

Post a Comment

<< Home